Bldaily.id. Pada hari Senin, raksasa jejaring sosial Facebook dan Twitter mengumumkan penemuan mereka atas operasi terkoordinasi dalam platform mereka, yang berasal dari Tiongkok daratan dan diarahkan pada protes yang sedang berlangsung di Hong Kong.

Kedua platform, mengklaim bahwa mereka memiliki bukti yang membuktikan keterlibatan pemerintah, dan telah mengambil tindakan untuk mengatasi situasi tersebut.

Propaganda terbaru dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) menunjukkan upaya besar untuk mengendalikan narasi perihal Hong Kong di luar daratan Tiongkok.

Melalui kombinasi taktik tipuan, manuver semacam itu menjadi mungkin di platform media sosial Amerika, yang berfungsi sebagai seruan untuk penegakan kebijakan masyarakat yang lebih ketat.

1. Pembuatan Informasi

Tiongkok membangun sebagian besar Tembok Besar di masa Dinasti Ming untuk satu tujuan utama: melindungi negeri itu dari serangan pihak luar. Hari ini, Tiongkok telah mendirikan Great Firewall, kombinasi tindakan legislatif dan teknologi yang dirancang untuk melindungi warganya dari “informasi yang salah” (baca: informasi yang pemerintah tidak ingin warganya untuk bisa akses).

Namun, Great Firewall tidak hanya menyensor data – “tembok” itu juga memproduksi dan menyebarkan informasi yang melayani kepentingan PKT. Tampaknya, produksi ini telah melampaui fungsi regulasi domestik, dan kini bahkan digunakan untuk mempengaruhi perspektif dunia internasional.

Misalnya satu contoh, media pemerintah Tiongkok memposting kasus di mana petugas kepolisian Hong Kong terluka selama protes dan kemudian menyebarkan informasi itu, secara berlipat ganda ke seluruh kota.

Selain itu, ada beberapa yang lain, yang menyebarkan berita palsu, mengklaim bahwa wanita yang bola matanya terluka setelah diduga ditembak oleh seorang polisi, sebenarnya justru ditembak oleh seorang pemrotes – bahkan postingan itu muncul dengan foto yang menunjukkan bahwa dia disuap untuk bergabung dengan para pemrotes. Kata Washington Post melaporkan.

Gambar via Standard

2. Koordinasi Operasi

Dalam pengumuman mereka pada hari Senin, baik Facebook maupun Twitter mengklaim bahwa kampanye tersebut dilakukan secara terkoordinasi. Twitter, yang pertama kali mengungkapkan situasinya sebagai “operasi informasi yang didukung negara secara signifikan,” menyatakan bahwa Twitter memiliki “bukti yang dapat diandalkan” untuk membuktikan koordinasi tersebut.

“Berdasarkan investigasi intensif kami, kami memiliki bukti yang dapat diandalkan untuk mendukung bahwa ini adalah operasi yang didukung oleh negara. Secara khusus, kami mengidentifikasi kelompok besar akun berperilaku dalam cara yang terkoordinasi untuk memperkuat pesan yang terkait dengan protes Hong Kong,” kata sebuah postingan blog di Twitter.

Contoh konten yang melanggar di Twitter. Gambar via Twitter Safety

Di sisi lain, Facebook, yang bertindak setelah menerima tip dari Twitter, mengungkapkan bahwa halaman, grup, dan akun yang dihapus adalah bagian dari “jaringan kecil,” dari Tiongkok daratan yang terlibat dalam “perilaku tidak otentik yang terkoordinasi.” Selain itu, perusahaan bersumpah untuk terus bekerja, untuk mendeteksi dan menghentikan kegiatan untuk mewujudkan “kami tidak ingin layanan kami digunakan untuk memanipulasi orang-orang.”

“Berdasarkan tip yang dibagikan oleh Twitter tentang aktivitas yang mereka temukan di platform mereka, kami melakukan investigasi internal terhadap dugaan perilaku tidak otentik yang terkoordinasi di wilayah ini dan mengidentifikasi aktivitas ini,” tulis Nathaniel Gleicher, kepala kebijakan keamanan cyber Facebook. “Seperti halnya semua penghilangan ini, orang-orang di balik aktivitas ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk merepresentasikan diri mereka sendiri, dan itu adalah dasar dari tindakan kami.”

Terjemahan: “Pengunjuk rasa. Pejuang ISIS. Apa bedanya? ”Gambar via Facebook Newsroom

3. Pembuatan Akun Palsu

Facebook dan Twitter melaporkan bahwa kegiatan yang dipertanyakan pada platform mereka melibatkan akun palsu. Di luar kelalaian, penggunaan akun semacam itu langsung melanggar Standar Komunitas Facebook, yakni akun yang secara eksplisit menampilkan representasi palsu.

Facebook telah menghapus tujuh halaman, tiga grup, dan lima akun – 15.500 akun yang mengikuti satu atau lebih halaman, sementara sekitar 2.200 akun yang bergabung dengan setidaknya satu dari tiga grup yang dihapus tersebut.

Menurut Gleicher, “Orang-orang di balik kampanye ini terlibat dalam sejumlah taktik penipuan, termasuk penggunaan akun palsu – beberapa di antaranya telah dinonaktifkan oleh sistem otomatis kami – untuk mengelola Halaman yang berpose sebagai organisasi berita, postingan dalam Grup, menyebarluaskan konten mereka, dan juga mengarahkan orang ke situs berita di luar platform.”

Terjemahan: “Tentara kecoa.” Gambar via Facebook Newsroom

Sementara itu, Twitter menangguhkan 936 akun karena melanggar kebijakan manipulasi platformnya. Selain dari akun palsu, kebijakan ini melarang spam, aktivitas terkoordinasi, aktivitas yang dikaitkan, dan larangan penggelapan.

“Secara keseluruhan, akun-akun ini secara sengaja dan khusus berusaha menabur perselisihan politik di Hong Kong, termasuk merusak legitimasi dan posisi politik gerakan protes di lapangan,” kata perusahaan itu. “Perilaku manipulatif yang terselubung tidak memiliki tempat dalam layanan kami – mereka melanggar prinsip-prinsip dasar di mana perusahaan kami dibangun.”

4. Pemanfaatan Jaringan Pribadi Virtual (VPN)

Baik Facebook dan Twitter secara resmi diblokir di Tiongkok daratan, tetapi ini tidak selalu terjadi. Twitter telah dapat diakses di negara itu sampai Juni 2009, dua hari sebelum peringatan 20 tahun Peristiwa di Lapangan Tiananmen.

Untuk Facebook, larangan itu muncul sekitar bulan berikutnya, tepat setelah para aktivis menggunakan layanan untuk berkomunikasi satu sama lain selama kerusuhan Urumqi di Xinjiang. Postingan di dinding dilaporkan telah digunakan untuk menyebarkan berita setelah Twitter ditutup di kota itu.

Terjemahan dari panel: Mereka menembak kepala petugas polisi. Mereka akan menembak untuk membunuh, dengan menggunakan ketapel. Mereka menolak untuk menunjukkan wajah mereka. Mereka memblokir pintu kereta. Mereka memepunyai anggoa LegCo yang ramah. Mereka hampir membunuh seorang pria di bandara. Mereka mengambil mata seorang suster. Terakhir: Mereka adalah para kecoa Hong Kong. Gambar via Facebook Newsroom

Sejak itu, warganet mengandalkan jaringan privat virtual (VPN) untuk mengakses layanan dan situs lain yang diblokir di negara tersebut. Ironisnya, individu yang didukung negara yang bekerja pada propaganda Hong Kong juga menggunakan saluran yang sama.

“Karena Twitter diblokir di RRT, banyak dari akun ini mengakses Twitter menggunakan VPN. Namun, ada beberapa akun mengakses Twitter dari alamat IP tertentu yang tidak diblokir, yang berasal dari Tiongkok daratan,” kata Twitter tentang penyelidikannya sendiri, menambahkan bahwa profil yang ditangguhkannya adalah bagian dari ” jaringan yang lebih besar dan terdiri dari sekitar 200.000 akun yang berisi spam.”

Shops close, tourists stay away as protesters swarm to the streets of Hong Kong.Economic outlook of Hong Kong, the…

China Xinhua Newsさんの投稿 2019年8月18日日曜日

5. Iklan dari Entitas Resmi

Selain akun palsu yang melewati Great Firewall untuk menyebarkan pandangan alternatif tentang protes Hong Kong, pemerintah Tiongkok menggunakan media resmi untuk melakukan pekerjaan lewat saluran yang sah. Namun, tidak butuh waktu lama sampai warganet mengetahui hal tersebut.

Xinhua News, kantor berita pemerintah terbesar di negara itu, membeli iklan di Facebook dan Twitter untuk mempromosikan postingan yang mengklaim bahwa “keteraturan harus dikembalikan” di Hong Kong. Di Facebook, lima iklan semacam itu mulai berjalan pada 18 Agustus lalu.

“Setiap hari saya pergi keluar dan melihat hal-hal dengan mata kepala saya sendiri, dan kemudian saya pergi untuk melaporkannya di Twitter, dan melihat ada tweet yang dipromosikan mengatakan kebalikan dari apa yang saya lihat,” tulis situs sosial Pinboard dalam tweet, yang termasuk tangkapan layar sebuah Video Xinhua.” Twitter mengambil uang dari propaganda iklan online dari Tiongkok dan menjalankan tweet yang dipromosikan ini untuk melawan tagar protes Hong Kong.”

CGTN, outlet pemerintah lainnya, memuat video rap anti-demokrasi ke Twitter, yang berakhir dengan Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Hong Kong adalah bagian dari Tiongkok. Jelas, entitas pro-Beijing telah menemukan cara untuk menggunakan kata-katanya sendiri untuk melawan para aktivis demokrasi Hong Kong.

Segera setelah hal-hal tersebut ditemukan, Twitter mengumumkan di postingan lain bahwa mereka akan berhenti menerima iklan dari outlet media yang dikelola pemerintah. Namun, larangan itu tidak akan memengaruhi jaringan yang didanai pajak atau dioperasikan secara independen, seperti BBC.

Sementara itu, Facebook mulai meninjau kebijakan yang melibatkan outlet media yang dikelola pemerintah. Perusahaan mengatakan kepada Associated Press, “Kami juga melihat lebih dekat pada iklan yang telah diajukan kepada kami untuk menentukan apakah mereka melanggar kebijakan kami.”

Sumber: Next Shark

Video Rekomendasi

Bagaimana Partai Komunis Tiongkok Melarikan Diri dari Tanggung Jawab Atas Pembunuhan Terhadap Jutaan Orang

Beginilah Partai Komunis Tiongkok melarikan diri dari tanggung jawab atas semua pembunuhan yang pernah dilakukannya

Harian BLさんの投稿 2019年4月16日火曜日

Share

VIDEO POPULAR