Kisah seorang negosiator yang mencoba melindungi seorang anak dari kasus perampokan. Lihat apa yang terjadi setelah 30 tahun kemudian.

Bldaily.id. Suatu kali, sebuah perampokan bank terjadi di Amerika Serikat. Seorang perampok tidak berhasil merampok uang, malah berhasil dikunci di dalam bank oleh petugas keamanan.

Perampok itu telah menyandera seorang wanita dan anaknya yang berusia 5 tahun, lalu meminta tebusan. Dia menuntut 50 juta Dolar dan sebuah mobil sebagai syarat tebusan, jika tidak dia akan menembak kedua sandera itu.

Seorang negosiator, Nelson tiba di tempat kejadian dan mencoba mengendalikan situasi namun gagal. Dia terpaksa harus mengulur waktu beberapa saat sampai pasukan polisi tiba di sana.

Ketika perampok mencoba menembak kedua sandera itu, polisi langsung bertindak cepat dan berhasil menembak mati dirinya.

Anak laki-laki yang disandera itu langsung berlari dan menangis keras, seluruh tubuhnya dilumuri darah.

Nelson segera menggendong anak itu. Lalu berteriak “Ok, latihan hari ini selesai!” katanya.

Tangisan bocah itu berhenti, dia bertanya kepada Ibunya: “Ibu, apakah betul ini hanya latihan?”

Ibunya mengangguk lembut sambil menahan air mata.

Petugas polisi lain datang untuk menenangkan bocah itu, memuji aktingnya yang bagus juga menyarankan agar dia diberi penghargaan.

“Aktingmu bagus sekali nak, benar-benar seperti anak yang sedang disandera.” Kata satu polisi.

“Kamu berbakat menjadi bintang film, tapi semoga ibumu tidak marah saat harus mencuci bajumu yang penuh cat berwarna merah.” kata polisi lain.

Akhirnya anak itu percaya bahwa peristiwa penembakan yang baru saja terjadi hanyalah sebuah latihan.

30 tahun kemudian, seorang pria menemui Nelson dan bertanya tentang kejadian tersebut.

Dia bertanya pada Nelson mengapa saat itu, Nelson mengucapkan kata-kata seperti itu.

Nelson berpikir sejenak dan berkata:

“Saat itu saya hanya memikirkan nasib bocah tersebut, yang mungkin akan trauma akibat peristiwa perampokan itu. Ketika saya menghampirinya, barulah saya terpikir untuk mengatakan bahwa latihan sudah selesai, dan membuat anak itu berpikir bahwa peristiwa tersebut hanya sebuah latihan. Saya hanya tidak ingin anak itu tumbuh dalam trauma dan ketakutan.”

Kemudian, pria itu memeluk Nelson dan berkata:

“Hal ini telah dirahasiakan dari saya selama 30 tahun, dan saya baru tahu hal sebenarnya dari Ibu saya baru-baru ini. Terima kasih, terima kasih Pak Nelson, Bapak adalah cahaya harapan dalam hidup saya, membantu saya hidup tanpa mengalami trauma. Bagaimana caranya saya membalas kebaikan Bapak?”

Nelson menatap pria itu sambil tersenyum dan berkata: “Wah, tidak perlu berterima kasih kepada saya. Jika kamu ingin memberi hadiah, berikan saja kepada orang-orang di sekitarmu.”

Kasus perampokan 30 tahun yang lalu itu, tidak diketahui publik dan tidak diliput oleh media.

Semua orang berusaha melindungi jiwa anak laki-laki tersebut.

Bagi seorang anak, untuk dapat tumbuh dengan jiwa yang tenang tanpa trauma, adalah satu komponen yang sangat penting dalam masa pertumbuhannya.

Berpikirlah dengan bijak sebelum melakukan sesuatu di depan anak-anak, karena jiwa-jiwa kecil itu layak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dengan hati yang tenang. Disamping itu, anak adalah generasi penerus yang akan memegang masa depan.

Video Rekomendasi

Adakah Anda Adalah Seorang yang Punya Impian Besar?

Seorang siswa mengirimkan artikel tentang mimpinya kepada gurunya, tetapi mendapat nilai 'F', lihat apa yang terjadi sesudahnya!

Harian BLさんの投稿 2019年3月19日火曜日

Share

VIDEO POPULAR