Erabaru.net. Selama periode Tiga negara (San Guo Yan Yi) di masa Tiongkok Kuno , Zhong Yao (151-230) adalah pencetus naskah kaligrafi standar Tiongkok. Dia dikenal sebagai kaishu. Dia menikah dengan Zhang Chang-pu (199-257).

Sosok Zhang adalah seorang wanita terhormat yang tunduk pada keadilan dan menjunjung tinggi penempaan moral dan kebajikan. Bahkan bagi pelayan, perilakunya sangat dihormati, dan keluarga Zhong sangat menghargai reputasinya.

Istri Zhong Yao yang lain, Nyonya Sun, dilahirkan dalam keluarga bangsawan. Sun sebagai sosok penguasa di rumah tangga Zhong dan mengurus semua urusan rumah tangga. Sun mahir dalam berargumentasi dan berdebat, tetapi tidak memiliki rasa iba dan selalu cemburu dengan orang-orang yang berbudi luhur dan arif.

Di mata Sun, jika dia melakukan suatu kesalahan, bisa terelakkan hanya karena dia bisa menemukan alasan untuk membenarkan apa pun yang dia lakukan.

Sun merasa cemburu dengan perbuatan lurus Zhang Chang-pu dan berencana untuk memfitnahnya. Tetapi rencananya gagal total dan dia tidak dapat menyakiti Zhang Chang-pu. Ketika Zhang Chang-pu hamil, Sun menjadi lebih iri. Dia pun diam-diam meracuni makanan Zhang Chang-pu.

Ketika Zhang Chang-pu hamil, Lady Sun menjadi lebih iri dan meracuni makanannya. (Gambar: via The Epoch Times)

Ketika Zhang Chang-pu mengunyah makanannya, dia merasa ada sesuatu yang salah. Untungnya, dia langsung memuntahkannya. Namun, dia masih terkena racun dan tak siuman selama beberapa hari. Pelayan Zhang Chang-pu menasihatinya untuk mengadukannya kepada Zhong Yao tentang insiden itu. Tetapi dia lebih memilih secara diam-diam dengan seorang diri menyelesaikan masalah tersebut.

Zhang Chang-pu berkata: “Sejak zaman kuno, perkelahian antara istri sah dan selir akan menyebabkan kehancuran sebuah rumah tangga dan kerusakan pada bangsa. Orang-orang saat itu dan hingga hari ini menganggapnya sebagai peringatan.”

“Jika saya mengabarkan kepada suami saya tentang masalah seperti itu, tetapi dia memutuskan untuk tidak mempercayai saya, lalu siapa yang akan membantu saya membuktikan kasus saya?.”

“Selain itu, nyonya Sun sekarang mengira bahwa saya pasti akan mengadukannya kepada suami saya tentang masalah ini, sejak dia memulainya, biarkan dia membesarkan persoalan ini. Mungkin akan lebih baik seperti ini.”

Lalu Zhang Chang-pu mengaku dirinya sedang sakit.

Seperti yang diharapkan, Nyonya Sun, dengan dihantui perasaan bahwa Zhang Chang-pu telah mengadukannya kepada suaminya tentang kejadian itu, Sun tanpa tedeng aling-aling berujar kepada Zhong Yao: “Saya ingin membantu Nyonya Zhang melahirkan anak laki-laki, jadi saya diam-diam membiusnya dengan obat yang akan membantunya melahirkan anak laki-laki.”

Ketika Zhong Yao mengetahui tentang racun itu, ia mengusir Lady Sun dari tanah miliknya. (Gambar via Epochtimes.com)

“Wanita yang tidak tahu berterima kasih itu sekarang menuduh saya meracuninya dengan niat buruk!,” cetus Sun.

Zhong Yao yang mendengar pernyataan ini lantas sangat terkejut. Pada awalnya, dia hanya berpikir bahwa minum obat untuk membantu melahirkan anak laki-laki adalah hal yang baik. Lalu dia pun terpikirkan, jika obat itu diam-diam ditambahkan ke makanan, justru perbuatan yang tak lazim.

Menjawab segala macam teka-teki, Zhong Yao akhirnya memutuskan memanggil pelayannya dan menanyai mereka. Setelah dia diberitahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, Zhong Yao lantas mengusir Sun.

Zhong Yao kemudian bertanya pada Zhang Chang-pu perihal mengapa setelah diracuni, dia tetap memilih bertahan dan berdiam diri. Zhang Chang-pu mengatakan kepadanya bahwa sebuah keluarga yang saling melukai akan merusak keluarga. Bahkan dalam kasus terburuk akan merusak suatu bangsa.

Setelah mendengarkan pernyataan istrinya, Zhong Yao sangat terkesan dan menghormati kebajikan Zhang Chang-pu.

Putra Zhang Chang-pu tumbuh menjadi seorang jenderal terkenal. (Gambar: via Epochtimes.com)

Setelah Zhang Chang-pu melahirkan Zhong Hui (225-264), yang kemudian menjadi jenderal terkenal dan menaklukkan negara Shu Han, ia menerima lebih banyak lagi cinta dan rasa hormat Zhong Yao.

Ketika Zhong Hui berusia 4 tahun, Zhang Chang-pu mengajarinya membaca puisi. Di bawah bimbingan ibunya, Zhong Hui memilih berpakaian sederhana sejak usia muda. Dia sangat perhatian dengan urusan keluarga dan sangat cermat. Setelah dia tumbuh dewas dan menjadi seorang pejabat, setiap kali menerima hadiah, dia selalu mengembalikan semuanya kepada negara.

Ketika Zhong Hui menjadi pejabat tinggi, Jenderal besar Cao Shuang memonopoli kekuasaan, minum berlebihan dan menikmati kesenangan setiap hari. Zhang Chang-pu percaya bahwa sang jenderal tidak dapat melindungi keluarga kaya karena kesenangannya bermabuk-mabukan dan bersenang-senang.

Dua tahun kemudian, seorang ayah dan putranya dari keluarga Sima berjuang merebut kekuasaan Cao Shuang, dengan memulai kudeta di Bukit Gao-ping. Pada saat itu, Zhong Hui juga terlibat di dalamnya. Semua orang khawatir tentang Zhong. Namun, Zhang Chang-pu tetap bersikukuh pada prinsipnya.

Setelah dia tumbuh dan menjadi seorang pejabat, setiap kali dia menerima hadiah, Zhong Hui mengembalikan semuanya ke negara. (Gambar: via epochtimes.com)

Melihat Zhang Chang-pu tetap tenang, beberapa pejabat yang tidak dapat membantu putranya mengatakan kepadanya bahwa Zhong Hui berada dalam bahaya, dan bertanya-tanya mengapa dia tidak cemas.

Zhang Chang-pu dengan tenang menjawab: “Jenderal Agung Cao Shuang telah hidup mewah tanpa disiplin. Saya sering khawatir tentang dia. Kudeta Sima Yi tidak membahayakan bangsa. Ini ditujukan untuk Jenderal Besar. Putra saya ada di sisi Kaisar. Apa yang perlu dikhawatirkan? Tersiar kabar bahwa pasukan Sima Yi tidak memiliki kekuatan besar atau senjata berat, jadi saya pikir itu tidak akan menjadi pertempuran yang panjang dan berlarut-larut.”

Pertempuran berlangsung saat Zhang Chang-pu meramalkannya. Orang-orang memujinya karena memiliki wawasan dan kebijaksanaan yang didukung oleh kebajikan. Setelah itu, Zhong Hui terus menerima keberkahan dan anugerah yang besar. 

Sumber: erabaru.net

Share

VIDEO POPULAR