Bldaily.id. “Tiga teman musim dingin dan Peribahasa dari budaya tradisional Tiongkok, sama indahnya dengan matahari musim dingin,”

Kata ungkapan peribahasa Tiongkok yang menggambarkan orang-orang yang begitu baik. Sehingga orang lain merasa nyaman kepada mereka dan ingin selalu berada di dekat mereka. Mereka memperlakukan orang lain dengan hangat.

Ungkapan ini hanyalah salah satu dari kumpulan harta karun peribahasa dari budaya tradisional Tiongkok yang membantu membawa kehangatan dan kesejukan ke hati selama musim dingin.

“Di musim dingin, rangkullah es; di musim panas, pegang [tuan] api,” bunyi pepatah tiongkok lainnya.

Cobalah kata-kata ini berfungsi sebagai sumber dorongan di tengah kesulitan, penderitaan, atau kegagalan.

Menghargai karunia dan peluang di balik tantangan dapat membantu kita mengangkat diri serta menemukan kekuatan batin dan sumber daya yang kita butuhkan untuk mengatasi dan bangkit dari segala macam situasi.

Kesalehan Seorang Anak

Ungkapan “Di musim dingin, hangat; di musim panas, menyejukkan” menyoroti untuk semua laki-laki dan perempuan tentang kesalehan berbakti kepada orangtua.

Ungkapan ini berasal dari “Liji,” atau “Kitab Ritus,” kumpulan tulisan oleh para sarjana Konfusianisme yang menggambarkan aturan perilaku dan adat istiadat Dinasti Zhou (1046–221 SM).

Kata-kata asli di bagian “Liji”: “Aturan kepatutan untuk semua anak lelaki [keturunan] adalah menghangatkan [tempat tidur orangtua mereka] di musim dingin, mendinginkan [tempat tidur mereka] di musim panas, mengatur segalanya agar [untuk istirahat mereka] ] di malam hari, tanyakan [tentang kesehatan mereka] di pagi hari, dan jangan bertengkar dengan teman. ”

Bagian terakhir menawarkan bimbingan penting kepada anak muda tentang hidup secara harmoni dengan orang lain, termasuk saudara kandung serta tidak membuat orangtua mereka tidak senang atau khawatir.

Tuan-tuan Musim Dingin

Dalam budaya tradisional Tiongkok, pohon pinus, bambu, dan pohon plum dikenal sebagai “Tiga Teman Musim Dingin.”

Pinus, bambu, dan plum dihubungkan oleh pesona dan daya tahan mereka di musim dingin yang keras. Mereka tidak layu seperti tanaman lainnya. Sebagai gantinya, mereka tetap tumbuh dengan bangga dan teguh seolah mengingatkan orang akan janji musim semi, tumbuh kembali, dan masa depan yang cerah.

Sebagai simbol integritas dan karakter yang mulia, mereka dinilai tinggi dalam tradisi Konfusianisme dan mewakili kualitas ideal seorang pria terhormat.

Pinus Bermartabat

Cemara hijau memiliki kepribadian yang bermartabat yang memberikan kedamaian dan keteguhan. Dia selalu harum dan hijau. Tumbuh dengan lurus, tinggi, dan kokoh, kelihatannya ia mampu mencapai langit, seperti manusia yang lurus.

Pinus juga merupakan simbol umur panjang karena kemampuannya untuk bertahan dan bahkan berkembang di lingkungan yang keras.

Dalam budaya Tiongkok, pinus sering disandingkan dengan cemara untuk merujuk pada pria terhormat. Dalam Kitab “The Analects” dari Confucius (551-479 SM), orang bijak berkata, “Hanya di musim yang sangat dingin kita menjadi sadar akan ketegasan dan kesetiaan pinus dan cemara, sebagai tanaman terakhir yang layu.” Ini adalah asal dari pepatah “Kecerdasan pinus dan cemara di musim dingin,” yang juga mengungkapkan gagasan bahwa hanya melalui cobaan berat dan keras yang dapat dilihat karakter sejati seseorang.

Bambu : Kuat dan Fleksibel

Bambu adalah simbol keanggunan, kemurnian, dan pemikiran luas, mewakili kepribadian yang sederhana namun memiliki harga diri yang kuat.

Bambu tidak takut dingin, panas, atau badai, dan meskipun terjadi perubahan suhu dan cuaca, dia terus tumbuh hijau dan tegak.

Bambu bertanda kuat dan abadi, tangguh dan fleksibel, dan mampu menaklukkan serta beradaptasi dengan keadaan apa pun.

Orang Tiongkok kuno menyamakan bambu dengan kualitas berbudaya dari seorang cendikiawan. Banyak kaum terpelajar terbiasa menikmati kehidupannya di tengah bambu.

Penyair dan penulis esai Song Shi, Su Shi (1037-1101) sangat menyukai bambu sehingga ia pernah berkata: “Saya lebih suka pergi tanpa daging daripada tinggal di tempat tanpa bambu. Tidak memiliki daging akan membuat daging menjadi kurus, tetapi tidak memiliki bambu akan membuat daging menjadi kasar.”

Bunga Plum di Musim Salju

Adapun pohon plum, yang memiliki bunga yang anggun mulai mekar bahkan di musim dingin yang getir, ketika salju masih di dahan.

Orang mengagumi plum karena karakternya yang kuat dan teguh di tengah kesulitan.

Ini menunjukkan kerendahan hati dan daya tahan yang tinggi, tidak menyerah pada cuaca tetapi berdiri sebagai tanda kekuatan musim semi yang tak terbatas dan simbol harapan untuk masa depan.

Sumber: erabaru.net

Share

VIDEO POPULAR