Bldaily.id. Pada zaman kuno awal terbentuknya dinasti di Tiongkok, dalam perkembangan sejarahnya terdapat tiga Dinasti yang disebut Dinasti Xia (夏), Shang (商) dan Zhou (周), mereka eksis sebelum abad ke 21 SM hingga abad ke 20 SM, dalam masa tersebut mulai terbentuk etnis Huaxia (华夏) dari keturunan kaisar Yan (炎帝) yang kemudian menjadi kelompok utama etnis Han (etnis mayoritas di daratan Tiongkok sekarang ini).

Dalam peperangan kala itu, Raja Zhou (紂王, 1075 SM-1046 SM) dari Dinasti Shang (商) dikalahkan oleh Raja Zhou Wu (周武王/Zhou Wu Wang) dari Dinasti Zhou (周朝, 2047 SM – Th.256 SM).

Ketika Zhou Wu Wang meninggal dan diturunkan kepada putranya bergelar Zhou Cheng Wang (周成王) yang masih muda, putra Raja Zhou yang telah dikalahkan (dari dinasti Shang) bernama Wu Gen, mengajak beberapa negara-negara kecil lainnya bergabung melakukan pemberontakan.

Namun mendapat perlawanan dari paman Zhou Cheng Wang, pembasmian pemberontak berlangsung selama 3 tahun. Akhirnya pemberontakan itu dapat diatasi dan sebagian besar pasukan pemberontak melarikan diri, sebagian kecil bergabung dan tetap tinggal di Dinasti Zhou.

Pasukan Pemberontak Yang Kehilangan Jejak Menampilkan Diri

Setelah Dinasti Shang dikalahkan, sejumlah pasukan pemberontak sekitar 250 ribu tentara yang dipimpin panglima perang You Houxi, dalam sejarah pergantian Dinasti pada saat itu tiba-tiba kehilangan jejaknya. Pasukan yang kehilangan jejak itu telah menjadi sebuah kasus yang belum terpecahkan dalam catatan sejarah selama ini.

3000 tahun kemudian, pada masa integrasi globalisasi sekarang ini, kalangan arkeologi sejarah telah menemukan sebuah kenyataan, dalam melacak situs sejarah, bersamaan itu telah ditemukan jejak pasukan Dinasti Shang yang selama ini dianggap raib, di semenanjung Yucatan di Amerika Tengah, yang kala itu entah dari mana secara tiba-tiba muncul peradaban baru, yang dinamakan: Peradaban Olmec.

Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah dari benda peninggalan budaya lokal antara lain batu Giok upacara dan Giok ukiran, mengandung sejumlah besar aksara The Oracle (tulisan Dinasti Shang). Menurut penelitian dan pembuktian para ahli, yang terukir pada giok upacara adalah gelar nenek moyang rakyat Dinasti Shang. Legenda, adat-istiadat dan kebiasaan bicara penduduk setempat yang eksis hingga sekarang, juga memiliki banyak corak kebudayaan Dinasti Shang yang sangat kuat.

Itu sebabnya kalangan akademisi memprediksi, sekelompok dari pasukan Dinasti Shang yang kalah perang, telah mengikuti panglima tentara mereka hingga tiba di Amerika Tengah, kelompok lainnya ada yang melewati semenanjung Shandong, melalui laut bermigrasi ke sekitar semenanjung Liaodong di Timur Laut Tiongkok. Di daerah tersebut mereka bertemu dengan etnis pribumi Sushen yang kokoh dan tangguh serta telah bermukim lama di sana.

Etnis Dinasti Shang yang berasal dari jauh merasa tidak mampu melawan mereka, maka terus bermigrasi ke utara, hingga sampai pada daerah pegunungan Daxin’anling di bagian Timur Laut Tiongkok yang tinggi, dingin dan banyak rimba, serta padang rumput di bagian timur Mongolia yang indah, kaya rumput dan air, berangsur-angsur daerah tersebut berubah menjadi habitat mereka yang baru bagi etnik yang kemudian di dalam sejarah disebut Dongyi dan Xianbei.

Kelompok Dongyi dan Xianbei itu berasal dari daerah Dataran Tengah (di hilir sungai Kuning), merupakan tempat penduduk Huaxia yang standar. Di bawah dorongan proses sejarah, mereka senantiasa mengalami perubahan dan bermigrasi.

Di bawah pengaruh lingkungan eksternal, bahkan mengalami perubahan yang amat besar atas penampilan, adat-istiadat serta sifat dan kebiasaan dalam hidup, namun jika hanya ditilik dari pertalian darah, garis keturunan mereka berasal dari etnis Huaxia (etnik Han sekarang yang berjumlah mayoritas di Tiongkok).

Akan tetapi begitu para leluhur menjauh dari Dataran Tengah (Tiongkok), maka akan berangsur kehilangan pengasuhan dan aktivasi budaya yang diturunkan oleh Dewata, ditambah lagi keterbatasan dan kerasnya lingkungan hidup eksternal yang baru, maka menjadi pengembara merupakan bentuk kehidupan utama etnis Dongyi dan Xianbei, berkaitan dengan itu kemudian berkembang dan lahirlah kebiasaan makan-minum dan adat-istiadat baru dalam kehidupan mereka.

Ilmu Kehidupan dan Genetika Membuktikan Asal Bangsa Monggol Identik Dengan Penduduk Dinasti Shang

Penduduk Dinasti Shang yang bermigrasi ke dataran tinggi Mongolia senantiasa melakukan asimilasi, seiring perubahan sejarah, anak cucu mereka tampil di panggung sejarah dengan berbagai ragam etnis. Dan melalui Dinasti-dinasti: Qin (秦), Han (漢), Sam Kok (三國Tiga Negara), Jin (晉), Nan-Bei / Selatan-Utara (南北朝), Sui (隋)danTang (唐), berkembang dan mengalami perubahan selama seribu tahun lebih, Mongolia semakin berkembang kuat, dan pada akhirnya sebagai suku Mongol kembali memasuki Dataran Tengah (Tiongkok) dan mendirikan Dinasti Yuan (元).

Institut Sejarah dan Bahasa Taipei, Taiwan pernah melakukan pembenahan dan pengukuran selama bertahun-tahun terhadap jasad peninggalan dari penduduk Dinasti Shang dalam reruntuhan di kota An-yang, propinsi Henan Tiongkok, mereka menyampaikan pandangan tentang 3 unsur jenis manusia dalam tulang serta 5 jenis ras, diantaranya tipe pertama ialah jenis manusia Mongol yang klasik. Ilmu kehidupan modern dari sudut genetika telah membuktikan sumber asal etnis Mongol dan penduduk Dinasti Shang adalah sama.

Dengan kata lain, Genghis Khan dan Kubilai, garis keturunan mereka sama berasal dari Huaxia, mereka merupakan etnis Huaxia murni, etnik Mongol merupakan bangsa Tionghoa asli.

Hanya saja di kehidupan selanjutnya, karena pembatasan wilayah, rintangan konsep tentang etnis, serta pembagian dan penggabungan struktur internasional, membuat etnis yang berasal dari Huaxia dibagi menjadi etnis asing, kewarga-negaraan Genghis Khan dimasukkan (di-kategorikan) ke dalam Mongolia Luar, Dinasti Yuan (元) yang didirikan oleh Kubilai dipandang sebagai intervensi asing terhadap Tiongkok.

Menelusuri jalur dari jaringan sejarah, 250 ribu tentara Dinasti Shang yang kehilangan jejaknya, kini telah kembali ke ruang sejarah yang nyata, juga seperti “Raja Topik” dalam sejarah, yang pernah membawa misteri, kini menjadi topik penelitian kalangan akademisi.

Share

VIDEO POPULAR