Bldaily.id. Di suatu masa, hiduplah seorang guru dengan 2 orang muridnya, suatu hari guru itu memberi ujian untuk kedua muridnya, dia membawa kedua muridnya ke tepi sebuah hutan dan kemudian berkata kepada kedua orang muridnya, “Kalian berdua berjalanlah ke dalam hutan, teruslah berjalan lurus tanpa berbelok, dan jalanlah terus sampai kalian menemukan sebuah air terjun!”

Saya akan menunggu kalian di sana, siapa yang pertama mencapai air terjun, dia akan mendapatkan makan malam yang lezat.

Kedua muridnya paham dan mulailah mereka memasuki hutan tersebut. Di pertengahan jalan, ternyata ada sebuah bukit kecil dengan jalan yang penuh bebatuan tajam, mereka berdua berhenti sebentar dan melihat sekeliling, bisa terlihat ada sebuah jalan lain yang berbelok ke sebelah kiri, dan jalan itu terlihat rata tanpa bebatuan tajam apapun.

Murid pertama berpikir bahwa dia akan mengambil jalan yang berbelok supaya tidak harus melewati jalanan yang penuh dengan bebatuan tajam tersebut, dia mengajak murid kedua untuk ikut bersamanya, namun murid kedua berkata bahwa guru memerintahkan untuk berjalan lurus tanpa berbelok, jadi seharusnya mereka terus berjalan lurus, sekalipun harus melewati bebatuan kerikil tajam tersebut.

Murid pertama tidak perduli, dan dia tetap mengambil jalan berbelok yang terlihat lebih mudah dilalui, namun murid kedua tetap tidak mau, akhirnya mereka berpisah.

Ternyata benar saja, jalan yang dilalui murid pertama adalah datar dan tidak ada hambatan sama sekali, dan akhirnya dia tiba di air terjun lebih dulu, dan berhak mendapat makan malam yang mewah.

Sementara murid kedua, dia memerlukan waktu yang lebih lama untuk menempuh perjalanannya, dia harus mendaki bukit kecil, dan kakinya terasa sangat sakit karena harus menginjak banyak kerikil tajam.

Kakinya terluka, namun dia terus berjalan walaupun dengan lambat, setelah berusaha keras akhirnya sampailah juga dia di air terjun, karena dia tiba belakangan, dia hanya mendapatkan sebuah ubi untuk makan malamnya.

Keesokan harinya, kaki murid kedua menjadi kapalan dan sangat tebal, telapak kakinya mati rasa.

Tanpa diduga, ternyata hari itu sang guru berkata, sebetulnya, ini adalah hari kelulusan kalian, sudah waktunya salah satu dari kalian menjadi penerus saya, saya akan mewariskan jubah dan kepemimpinan aliran ini kepada salah satu dari kalian.

Sang guru kemudian membawa mereka ke suatu tempat, lalu menyuruh mereka berdua untuk berjalan melewati jalan berbatu dengan banyak kerikil tajam. ‘Murid pertama hanya bisa berjalan beberapa langkah, baru mencapai jarak yang dekat saja kakinya sudah terasa sangat sakit, dan dia tidak mampu berjalan lagi.

Sementara murid kedua, karena sebelumnya dia telah melewati sebuah jalan yang penuh dengan kerikil tajam, dan kini kakinya sudah menjadi sangat tebal dan mati rasa, maka berjalan di bebatuan seperti itu tidak menjadi masalah baginya, dia hanya berjalan dengan santai, dan tibalah dia di ujung jalan tersebut.

Sang guru kemudian berkata kepada murid pertama, “Ujian sebelumnya sebetulnya adalah sebuah persiapan bagimu, untuk menghadapi ujian yang lebih besar lagi. Ketika kamu memilih jalur yang lebih mudah, betul kamu akan bisa melewati ujian dengan lebih cepat dan mudah, namun kamu tidak akan siap menghadapi ujian lain yang lebih besar.”

Akhirnya guru mereka mewariskan tampuk kepemimpinan aliran tersebut kepada murid kedua.

Dalam hidup, seringkali kita menghadapi banyak kesulitan besar, dan kadangkala tampaknya ada suatu jalan lain yang bisa kita ambil untuk mengatasi ujian tersebut dengan mudah. Semestinya kita tidak melarikan diri dari masalah dan justru harus dengan berani menghadapi dan kemudian mengatasinya.

Jangan berdoa kepada Tuhan agar Dia menyingkirkan semua masalahmu, berdoalah agar Dia memberi kekuatan lebih di pundakmu untuk menghadapi semua masalah itu!

Sumber: pencerahansejati.com

Share

VIDEO POPULAR