Bldaily.id. Untuk berhadapan langsung dengan seorang diktator dari sebuah negara yang telah mengeksekusi mati warganya sendiri dalam jumlah lebih banyak daripada gabungan jumlah seluruh warga yang telah dieksekusi mati di seluruh dunia, sungguh bisa dikatakan sebagai tindakan yang sangat berani. Sementara hal seperti itu sulit untuk bisa dilakukan oleh seseorang—dan masih hidup untuk menceritakannya pada orang lain—bagaimana bisa nyonya ini mampu melakukannya sampai dua kali?

Dr. Wang Wenyi

Inilah Dr. Wang Wenyi. Dia adalah seorang wanita yang berani untuk mempertahankan sekaligus menyuarakan hati nuraninya. Dia juga tidak takut berbicara langsung secara terang-terangan ketika dia rasa itu dibutuhkan.

Beberapa orang mungkin akan ingat perihal Dr. Wang yang muncul sebagai berita utama, pada tanggal 20 April 2006, karena mempermalukan diktator Tiongkok Hu Jintao saat sedang berpidato di halaman Gedung Putih.

Presiden Amerika George W. Bush (Kanan) memberi tepuk tangan sementara diktator Hu Jintao sedang berbicara, saat acara penyambutan kedatangan, di Pekarangan Selatan Gedung Putih, 20 April 2006, Washington DC. (Foto oleh Mark Wilson/ Getty Images)

Mantan jurnalis ini mendapatkan ijin masuk ke dalam Gedung Putih dengan ijin wartawan, namun atasannya saat itu tidak tahu bahwa dia datang dengan maksud dan tujuannya sendiri.

Wang Wenyi memegang spanduk sambil memprotes di stan kamera, selama penyambutan kedatangan diktator Tiongkok Hu Jintao di Pekarangan Selatan Gedung Putih, pada 20 April 2006. (Foto oleh Alex Wong/ Getty Images)

“Presiden Bush, hentikan dia dari membunuh! Presiden Bush, hentikan dia dari menganiaya Falun Gong!” teriak Dr. Wang, yang juga adalah praktisi Falun Gong.

Seorang wanita (Tengah) mengganggu pidato diktator Tiongkok Hu Jintao, ketika acara penyambutan kedatangan berlangsung di Pekarangan Selatan Gedung Putih, pada 20 April 2006, Washington DC. (Foto oleh Roger L. Wollenberg-Pool/ Getty Images)

Wanita berusia 47 tahun ini kemudian ditangkap oleh petugas dinas rahasia setelah dia berhasil menyuarakan pesannya dengan suara yang lantang dan jelas. Tindakannya yang tiba-tiba dan tak diduga hari itu, menarik perhatian dunia internasional akan kekejaman dan pelanggaran terhadap HAM yang terjadi di Tiongkok, di bawah pemerintahan Hu.

Wang Wenyi memegang spanduk sambil memprotes, ketika acara penyambutan kedatangan diktator Tiongkok Hu Jintao, di Pekarangan Selatan Gedung Putih (Foto oleh Alex Wong/ Getty Images)

Laporan yang memberitakan tentang insiden tersebut juga menyoroti penganiayaan yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap Falun Gong—sebuah latihan meditasi populer dengan prinsip utama “Sejati-Baik-Sabar.”

Wang menghadapi potensi penuntutan karena mengganggu pidato Hu. Sebuah dukungan datang dari seorang pengacara HAM yang sudah dikenal, Gao Zhiseng, yang menulis sebuah surat terbuka kepada juri atas kasus Wang.

Gao Zhiseng

“Apa yang sedang terjadi di Tiongkok, sebuah negara yang sedang dengan kejam dikuasai oleh Partai Komunis?” Apa sesungguhnya kekejaman yang terjadi di Tiongkok, yang membuat Wang Wenyi keluar untuk menyuarakan protesnya dengan segera di dalam situasi semacam itu? Apa efek yang terjadi akibat kekejaman tersebut? Bagaimana kita memandang hubungan akan kekejaman yang terjadi di Tiongkok dan keseluruhan peradaban manusia? Bagimana kita menyeimbangkan nilai untuk menghentikan kekejaman dengan kebutuhan untuk mempertahankan kedamaian pada waktu yang sama dalam kegiatan tersebut?”

Gao menambahkan: “… ketika Anda mengetahui tanpa ada penilaian apapun sebelumnya, perihal fakta penganiayaan tak manusiawi yang dilakukan PKT terhadap para praktisi Falun Gong selama 6 tahun belakangan ini [catatan editor: 18 tahun pada tahun 2018], Anda akan mempunyai kesimpulan: Nyonya Wang Wenyi adalah pahlawan HAM masa kini, keberanian dan moralitasnya menggambarkan bahwa peri kemanusiaan tidak bisa ditekan; dia menggambarkan harapan dan masa depan peradaban manusia.”

Dr. Wang Wenyi, sedang memegang buket bunga dari para pendukungnya, telah ditangkap satu hari sebelumnya, karena meneriakkan protes selama kunjungan diktator Tiongkok Hu Jintao ke Gedung Putih. (Foto oleh Gerald Martineau/The Washington Post/Getty Images)

Wang, yang telah menghabiskan malam sebelumnya di penjara karena protes mendadak yang dia lakukan, kemudian mengatakan “yang saya lakukan adalah aksi yang berasal dari hati nurani, juga tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh warga sipil,” setelah keluar dari Pengadilan Federal Amerika di Washington DC hari itu. Wang dibebaskan tanpa jaminan, dan semua tuntutan dicabut.

Mari melihat ke tahun 2001

Di Mdina, Malta, Wang mengkonfrontasi mantan diktator Jiang Zemin, penjahat utama terkenal yang telah memulai penganiayaan terhadap Falun Gong dengan tujuan untuk memusnahkan latihan damai tersebut, sekaligus juga orang yang telah memberi perintah untuk mengambil organ-organ tubuh milik para praktisi Falun Gong.

Wang menemui langsung kepala Partai itu, mengatakan kepadanya untuk berhenti membunuh para praktisi Falun Gong.

Diktator Jiang, yang masih hidup sampai saat ini, adalah diktator yang paling banyak dituntut sepanjang sejarah, dengan lebih dari 209.000 tuntutan hukum yang ditujukan kepadanya di seluruh dunia, karena telah memulai kampanye genosida serta pembunuhan masal para praktisi Falun Gong.

Kebijakan tirani penganiayaan yang dia keluarkan masih berlanjut sampai hari ini.

Dr. Wang, yang tinggal di Amerika Serikat, memegang gelar M.D. dalam bidang patologi dan gelar Ph.D. dalam bidang neurofarmakologi. Dia adalah anggota dari DAFOH (Doctors Against Forced Organ Harvesting), sebuah organisasi non-profit yang telah secara ekstensif mengekspos pengambilan organ hidup-hidup yang dilakukan oleh rezim Tiongkok.

Seorang jurnalis yang dikenal sebagai “Peter” (Kiri) berbicara dalam sebuah konferensi pers bersama dengan Dr. Wang Wenyi (Tengah), dan seorang wanita yang dikenal sebagai “Annie” tentang kekejaman pengambilan organ yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok terhadap para praktisi Falun Gong di Arlington, Virginia, pada 26 April 2006. AFP PHOTO/Nicholas KAMM

Penyelidik independen telah mengonfirmasi bahwa para praktisi Falun Gong harus menjalani tes darah untuk diperiksa kesehatan organ-organnya di penjara. Seorang praktisi, yang telah ditemukan bahwa darahnya sesuai, akan segera dibunuh untuk memenuhi permintaan transplantasi, begitu ada permintaan akan organ yang sesuai, baik itu permintaan dari orang Tiongkok sendiri ataupun orang asing, yang telah dijanjikan akan mendapatkan donor organ yang cocok dalam tempo hanya beberapa minggu.

Pengambilan organ yang dilakukan oleh negara  adalah sebuah industri yang bernilai miliaran dolar di Tiongkok masa kini, dan itu melibatkan para tentara, polisi, dokter, serta para politisi negara tersebut.

Tidak heran jika Dr. Wang melakukan apa yang telah dia lakukan di masa lalu. Dia tidak bisa mengabaikan suara hati nuraninya.

Saksikan TED talk perihal pengambilan organ paksa di Tiongkok, dalam video berikut:

Sumber: erabaru.net

Video Rekomendasi

Bagaimana Partai Komunis Tiongkok Melarikan Diri dari Tanggung Jawab Atas Pembunuhan Terhadap Jutaan Orang

Beginilah Partai Komunis Tiongkok melarikan diri dari tanggung jawab atas semua pembunuhan yang pernah dilakukannya

Harian BLさんの投稿 2019年4月16日火曜日

Share

VIDEO POPULAR