Bldaily.id. Dalam Seni Berperang karya Sun Tzu, dikatakan bahwa “Mengalahkan lawan tanpa bertempur adalah alam tertinggi dari penggunaan strategi militer.” Sepanjang sejarah, sangat sedikit pemimpin perang yang mampu mencapai hal tersebut, kecuali beberapa orang brilian seperti Zhuge Liang dan Han Xin.

Alat musik yang membuat 150 ribu tentara mundur.

Pada masa Tiga Negara selama dinasti Han, (220-280 M), Zhuge Liang, seorang sejarawan serta ahli strategi militer kerajaan Shu, berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan.

Setelah kehilangan Jieting (sebuah distrik penting saat itu, hari ini dikenal sebagai distrik Qinan), lokasi Zhuge Liang di Xicheng (西城; diyakini berada di 120 li ke arah Barat Daya dari daerah yang sekarang dikenal sebagai Tianshui) kemudian diketahui oleh musuh, dan berada dalam bahaya karena akan diserang oleh pasukan Wei.

Di hadapan bahaya, sementara para tentara Shu ditempatkan di wilayah lain dan hanya sedikit tentara yang tetap berada di Xicheng, Zhuge Liang memutuskan untuk tetap tinggal di situ dan membawa bersamanya suplai makanan yang dibutuhkan.

Namun pasukan Wei kemudian mulai bergerak maju mendekati Xicheng, yang segera menjadi ancaman bagi benteng di Xicheng.

Walaupun situasi sudah sangat mendesak dan sangat berbahaya, Zhuge Liang masih menolak untuk mendengarkan saran, yang menyarankan agar dia segera menyerah. Zhuge Liang justru membuat rencana untuk menghadapi musuh.

Dengan segera dia memberi perintah, “Sembunyikan semua panji, semua tentara, tetaplah diam di menara pengawas. Siapapun yang melewati gerbang atau berbicara dengan keras, akan dihukum mati. Buka semua gerbang, dan di masing-masing gerbang, aturlah beberapa tentara untuk menyamar sebagai warga sipil dan sapulah jalan-jalan di sekitar situ. Jika musuh tiba, bersikaplah tenang dan biasa-biasa saja, jangan ada yang lari, jangan berteriak, saya punya cara untuk menghadapi mereka.”

Setelah memberi perintah dan bawahannya semua melaksanakannya, Zhuge Liang lalu mengenakan jubahnya dan naik ke atas benteng sambil membawa alat musik kecapi, dan ada dua orang anak kecil berdiri di sampingnya, membantunya memainkan alat musik itu.

Ketika Sima Yi, kepala pasukan dari kerajaan Wei memimpin pasukannya ke Xicheng, dia kaget karena udara dipenuhi dengan suara kecapi yang sayup-sayup terdengar. Dia berhenti setelah mendengar suara musik itu, dan entah bagaimana, tiba-tiba saja pikirannya terpengaruh.

Setelah akhirnya Sima Yi semakin dekat ke Xucheng, dia melihat di atas benteng, Zhuge Liang sedang dengan tenang memainkan kecapinya, dia tidak melihat satupun panji tentara maupun satu orangpun tentara. Dia merasa hal itu sangat aneh.

Setelah dengan tenang mendengar suara musik yang dimainkan oleh Zhuge Liang, dia berbalik dan meninggalkan Xucheng, serta memerintahkan pasukannya untuk mundur.

Kemudian, setelah ditanya mengenai pikirannya yang berubah tiba-tiba, dia menjelaskan bahwa musik yang dimainkan oleh Zhuge Liang mengandung ketenangan yang sangat utuh, sampai tidak ada sedikitpun unsur rasa khawatir, itu mengindikasikan bahwa pasti Zhuge Liang pasti sudah mempunyai persiapan yang sangat matang untuk menghadapi serangannya. Dia sangat yakin bahwa jika saat itu tentaranya bergerak maju, pasti tentaranya akan kalah.

Setelah kejadian itu, Zhuge Liang menjelaskan bahwa strategi yang dia lakukan, memang adalah sangat beresiko.

Strateginya berhasil karena Zhuge Liang mempunyai reputasi sebagai seorang ahli strategi militer yang sangat teliti dan hati-hati, yang sangat jarang mengambil resiko. Jadi Sima Yi berpikir bahwa pasti ada jebakan yang menunggu, jika melihat wajah dan permainan musik Zhuge Liang yang begitu tenang.

Setelah mendengarkan musik yang dimainkan oleh Zhuge Liang, Sima Yi lalu mundur. (Foto: Wikimedia Commons)

1000 Tentara dikalahkan oleh nyanyian

Pada tahun 202 M, pasukan Han yang dipimpin oleh Liu Bang, Han Xin, dan Peng Yue, menyerang wilayah Barat Chu dari tiga arah sekaligus, dan menyebabkan tentara Xiang Yu terjebak di tengah-tengah.

Saat itu tentara Xiang Yu telah putus asa karena kekurangan suplai makanan, di Gaixia (sekarang adalah kabupaten Lingbi). Xiang Yu adalah pemimpin militer yang sangat berbakat dan terkenal, karena banyak kemenangan yang berhasil dia raih, sekalipun berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan.

Kali ini, pasukan Han mengalami kesulitan menghadapi pasukan Chu dari Xiang Yu. Dan akhirnya Liu Bang menemukan jalan keluar, yaitu sebuah strategi yang brilian.

Dia memerintahkan pasukannya untuk menyanyikan lagu rakyat dari wilayah Chu, membuat banyak tentara Chu, yang sudah lama berperang menjadi rindu akan kampung halamannya, dan membuat kesan palsu bahwa tanah kelahiran Xiang yu serta banyak tentara Chu, telah ditaklukkan oleh pasukan Han.

Semangat juang tentara Chu langsung jatuh dan banyak tentara Chu yang pergi dalam keputus-asaan. Xiang Yu juga merasa putus asa. Kemudian selirnya juga dengan tragis melakukan bunuh diri.

Keesokan paginya, Xiang Yu memimpin sekitar 800 orang pasukan kavaleri elitnya, untuk mencoba menerobos kepungan lawan.

Sekitar 5000 tentara musuh mengejarnya.

Setelah menyeberangi Sungai Huai, Xiang Yu hanya tinggal memiliki beberapa ratus prajurit saja, dan tidak lama, akhirnya pasukannya benar-benar berhasil dikalahkan.

Xiang Yu tidak bisa melawan jebakan, dan akhirnya harus mundur. (Foto: Wikimedia Commons)

Ada banyak jalan untuk memenangkan pertempuran, kadang jalan yang paling sedikit menggunakan kekerasan, justru adalah jalan yang paling efektif. ( Iona Mccombie Smith/ LL)

Sumber: thebl.com

Share

VIDEO POPULAR