Oleh Zhang Ting

Henri Malosse, mantan presiden ke-30  European Economic and Social Committee – EESC atau Komite Ekonomi dan Sosial Eropa, baru-baru ini berpartisipasi dalam seminar yang diselenggarakan oleh Parlemen Eropa. Seminar membahas  tentang penetrasi budaya komunis Tiongkok di Eropa dan isu kamp pendidikan ulang.

Malosse yang selalu menolak godaan komunis Tiongkok meminta media dan politisi untuk mengenali kodrat komunis Tiongkok dan berani mengungkapkannya. Malosse juga mengatakan bahwa rakyat Tiongkok adalah korban pertama rezim Komunis Tiongkok.

Malosse sebelumnya juga telah berulang kali menekankan bahwa intervensi budaya komunis Tiongkok di Eropa seperti Nazi.

“Kita tidak perlu takut dengan rezim komunis Tiongkok, harus berani mengungkapnya karena media memiliki pengaruh yang besar,” kata Malosse.

Malosse  juga mengatakan bahwa Parlemen Eropa semakin memperhatikan situasi hak asasi manusia di daratan Tiongkok.   Eropa tidak ingin didominasi oleh rezim komunisme.

Malosse adalah Ketua ‘Vocal Europe’ sebuah wadah pemikir di Eropa. Dia selalu menyatakan keprihatinan dan kecaman terhadap situasi hak asasi manusia dan kejahatan pengambilan organ di daratan Tiongkok.

Selama memimpin EESC, Malosse berulang kali menerima ancaman, tekanan dan godaan dari komunis Tiongkok. Ancaman itu, termasuk saat komunis Tiongkok membayar orang dalam EESC untuk menciptakan masalah baginya, juga menggodanya dengan wanita cantik.

Malosse mengatakan bahwa dirinya sudah 3 kali dicari oleh Kedutaan Besar Tiongkok, tetapi ia bersikeras dengan sikapnya.

Komunis Tiongkok juga melakukan penyuapan dengan berbagai hadiah dan korupsi terhadap kepala bagian dan anggota EESC lainnya, agar mereka bersedia menjadi pro-komunis dan membuat konspirasi untuk mendesak Malosse mundur dari jabatannya.

Malosse akhirnya berhasil menaklukkan badai melalui banyak upaya.

Selain itu, Kedutaan Besar Tiongkok juga mencoba menaklukkan Malosse dengan mengirim seorang reporter wanita muda yang bersedia dibawa ke tempat tidur.

“Jelas saya tolak,” kata Malosse.

Mimpi politisi Eropa tak terwujud, situasi HAM di Tiongkok berubah kian buruk

Menurut Malosse, banyak pemimpin politik Uni Eropa sangat bersemangat pada awalnya. Mereka mengira bahwa Tiongkok sedang berkembang dan akan menjadi masyarakat kapitalis. Pada saat yang sama, kebebasan dan hak asasi manusia juga akan mendapat perbaikan.

“Tetapi kita melihat bahwa situasi Tiongkok tidak membaik bahkan lebih buruk. Uni Eropa menjadi lebih khawatir tentang itu. Situasi Tiongkok yang terus menerus memburuk itu  menjadi sulit untuk diterima,” kata Malosse.

Malosse berpendapat bahwa Uni Eropa perlu secara lantang mengatakan kepada komunis Tiongkok tentang keprihatinan terkait situasi hak asasi manusia di daratan Tiongkok.

Komunis Tiongkok “membungkam mulut” beberapa negara Eropa dengan uang

Malosse mengatakan bahwa ancaman komunis Tiongkok terhadap Eropa sudah muncul. Sebagai contoh, Malosse menunjukkan saat pembahasan situasi HAM bagi warga etnis Uighur dan Tibet di Tiongkok dalam pertemuan Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB di Jeneva beberapa bulan lalu.

Di sana terlihat bahwa, beberapa negara seperti Yunani, Rumania dan negara lainnya yang telah menerima investasi besar komunis Tiongkok, tidak memberikan suara untuk mendukung PBB dalam menyelidiki dan mengutuk situasi HAM di Tiongkok.

“Tanyakan saja kepada mereka mengapa? Alasannya sudah jelas!” kata Malosse.

Malosse juga menjelaskan bahwa investasi komunis Tiongkok dan menabur uang di Eropa, upaya lobi komunis Tiongkok melalui Kedutaan Besarnya membuat beberapa negara Uni Eropa bungkam.  

Bagi Malosse, hal itu jelas isyarat adanya campur tangan komunis Tiongkok di Eropa.

Kata Malosse, “Komunis Tiongkok harus mengubah sikap mereka.”

Malosse juga berpesan kepada negara-negara yang takluk kepada komunis Tiongkok agar tidak takut. Orang Eropa memiliki nilai-nilai. Salah satunya adalah kebebasan berbicara. Seharusnya orang Eropa tidak takut terhadap tekanan komunis Tiongkok agar mengurangi kebebasan berbicara. Perlu ditinjau kembali sikap pemikiran dan ekspresi artistik orang Eropa.

“Kita seharusnya tidak dikenakan sanksi ekonomi dan politik dari siapa pun. Jauh lebih penting untuk mencapai nilai-nilai kita secara luas. Jangan takut,” katanya.

Selain Eropa, Maros mengungkapkan bahwa investasi komunis Tiongkok juga telah meningkatkan pengaruhnya di wilayah lain. Malosse telah  berbicara dengan teman-teman di Maladewa. Untungnya, mantan Presiden Maladewa, Abdulla Yameen, telah mundur tahun lalu.

Yameen telah meminjam banyak dana dari komunis Tiongkok. Yameen bahkan telah menyediakan 5 pulau buat penempatan kontainer dan pangkalan militer Tiongkok.

Cara Intervensi budaya komunis Tiongkok di Eropa tidak berbeda dengan Nazi

Komunis Tiongkok selain menebar uang untuk “membungkam mulut” beberapa negara Eropa agar tidak menyuarakan keprihatinan terhadap hak asasi manusia mereka, ia juga melakukan intervensi budaya di Eropa.

Intervensi budaya itu seperti kasus tekanan Kedutaan Besar Tiongkok terhadap pertunjukan Shen Yun pada awal tahun ini, di Teater Royal Madrid.

Kata Malosse,  “Ini memalukan. Tentu saja, itu merupakan suatu penghinaan bagi teater yang berada di bawah tekanan komunis Tiongkok. Tetapi yang paling penting adalah itu juga tindakan memalukan bagi rezim komunis Tiongkok. Komunis Tiongkok tidak hanya menggunakan cara fasis di negerinya sendiri, tetapi juga di Uni Eropa. Hal itu perlu diketahui oleh publik”.


Royal Theatre di Madrid. (Carlos Delgado/Wikimedia commons)

Menurut Malosse, cara yang digunakan oleh rezim komunis Tiongkok persis sama dengan yang digunakan oleh Nazi Jerman pada tahun 1930-an. Nazi tahun 1930-an menggunakan berbagai cara untuk mencegah seniman Jerman yang melarikan diri dari rezim Nazi tampil dalam pertunjukan di luar negeri.

Malosse lebih jauh mengatakan, “Kegiatan budaya, ekonomi dan politik, kita hidup dalam masyarakat global. Budaya adalah bagian dari jiwa kita, bagian dari nilai-nilai kepribadian kita, bagian dari visi Eropa kita, dan kita berinteraksi dengan seluruh dunia, termasuk dengan Tiongkok. Kami tidak hanya berjuang untuk kebebasan berbicara, kami berjuang untuk semua, termasuk masa depan kami, nilai-nilai kami sendiri.”

Malosse menambahkan, “Selama kita tidak menerima pendekatan yang komunis Tiongkok lakukan, maka kita tidak akan menganggap mereka sebagai mitra normal. Ucapan ini saya sampaikan kepada duta besar Tiongkok yang membuatnya kurang senang. Kita tidak dapat menganggap mereka sebagai mitra normal.”

Bagi Malosse, mereka harus mengubah sikap, karena sikap mereka bukanlah sikap yang wajar, itu adalah visi imperialisme. Katanya, “Kami di Eropa tidak menginginkannya. Sulit bagi saya untuk membayangkan hidup berdampingan dengan mereka yang bersikap seperti itu. Kita harus memiliki hubungan normal dengan komunis Tiongkok, hubungan perdagangan normal, dan hubungan perdagangan yang bebas.”

Eropa tidak menghendaki gangguan dari rezim komunis

Malosse percaya bahwa intervensi budaya komunis Tiongkok di Eropa dan membuat negara-negara Uni Eropa “membungkamkan mulut” sebenarnya telah mencetuskan “perang,” karena dalam situasi damai tidak mungkin mendengungkan kebebasan berbicara.

“Kita katakan bahwa ‘Jangan berperang’, Tidak menghendaki rezim fasis mendominasi’ juga tidak menghendaki rezim komunis mendominasi’. Ini adalah bagian dari nilai-nilai kita. Ini berkaitan dengan masa depan dan kebebasan kita sendiri. Kita ingin menjadi warga bebas yang hidup dalam masyarakat bebas,” kata Malosse.

Menurut Malosse perilaku komunis Tiongkok di Eropa, seperti tekanan mereka terhadap Teater Kerajaan Spanyol di Madrid demi mencegah Shen Yun mengadakan pertunjukan seni, bagi masyarakat Eropa yang bebas, hal itu adalah kejahatan yang harus dihentikan.

Malosse mengatakan bahwa masyarakat Eropa tidak perlu takut dengan komunis Tiongkok.

“Jangan takut, untuk lembaga budaya Eropa, pemerintah, politisi, dan ekonomi, Anda harus berkomunikasi dengan masyarakat sipil Tiongkok, bukan pengaruh dari rezim komunis Tiongkok. Rezim ini tidak akan bertahan lama,” katanya.

Malosse : Jangan melupakan kodrat komunis Tiongkok, rakyat Tiongkok adalah korban pertama

Bagi Malosse, meskipun komunis Tiongkok mengintervensi dan menyusup ke Barat, tetapi yang menjadi korban utamanya dan yang menderita adalah rakyat Tiongkok.

“Rakyat Tiongkok adalah korban pertama dari perbuatan rezim komunis Tiongkok,” kata Malosse.

Malosse juga mengkritik pendirian sejumlah besar kamp pendidikan ulang oleh komunis Tiongkok untuk memenjarakan etnis minoritas dan kelompok agama di lingkungan yang bermusuhan. Orang-orang itu bahkan menjadi korban pengambilan paksa organ. Malosse menekankan bahwa paparan media memiliki pengaruh yang cukup besar dan perlu dilakukan dengan berani.

Di lain sisi Malosse juga mengatakan bahwa beberapa media dan politisi Eropa telah melupakan esensi rezim komunis Tiongkok.

“Ketika sebuah negara besar datang dengan banyak investasi dan banyak uang, Anda akan dengan mudah melupakan kodrat komunis Tiongkok,” katanya.

Malosse menekankan peran dari pengungkapan media. Dikatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, fokus masyarakat adalah kamp pendidikan ulang komunis Tiongkok. Penjara yang ditutup dengan label “kamp pendidikan ulang” digunakan untuk menahan warga etnis Uighur, para pembangkang, praktisi Falun Gong, dan warga Tibet.

Pengambilan paksa organ berlangsung dalam kamp-kamp penahanan itu. Ada banyak laporan media yang sekarang telah memicu opini publik.

“Anda tahu, politisi sangat sensitif terhadap opini publik. Karena itu, mereka semakin sadar bahwa jika mereka tidak berbicara tentang hak asasi manusia pada putaran Konferensi Tingkat Tinggi Tiongkok dengan Uni Eropa berikutnya, mereka mungkin akan mendapatkan kritikan dari publik, organisasi non-pemerintah, dan kelompok hak asasi manusia. Mengungkapnya dengan keras adalah tugas media, politisi, dan personel layanan sektor publik” kata tegas Malosse. (sin/rp)

Share

VIDEO POPULAR