Oleh:  Li Yun / Dai Ming

Informasi paska ledakan di sebuah pabrik pestisida di Yancheng, provinsi Jiangsu, Tiongkok, pemerintah daerah setempat mengerahkan sejumlah besar polisi bersenjata. Polisi datang pada larut malam, pada hari  Jum’at 22 Maret 2019 waktu setempat, untuk menstabilkan keadaan darurat dan siaga penuh.

Ratusan keluarga korban dan reporter yang meliput di tempat kejadian, diawasi. Beberapa sumber media membeberkan fakta yang lebih mengerikan dibalik ledakan dahsyat itu.

Kejadian ledakan telah menewaskan 62 orang, 26 di antaranya telah diidentifikasi, 36 lainnya tengah diselidiki, dan 28 orang dinyatakan hilang. Di antara pasien yang telah dirawat, 34 mengalami luka kritis dan 60 lainnya mengalami cedera serius. Sebagian lainnya mengalami luka dengan tingkat yang bervariasi.

Menurut rancangan departemen propaganda Komite CPC kota Yancheng, 16 rumah sakit di Jiangsu telah mengerahkan 3.500 staf medis, 90 ambulan dan menerima 640 korban yang terluka.

Stabilisasi dan pemantauan opini publik

Wartawan media yang berkunjung ke lokasi ledakan pabrik kimia mengungkapkan kepada Radio Free Asia bahwa pasca ledakan dahsyat itu, pemda setempat segera menjaga stabilitas dan pemantauan opini publik.

Pejabat pemda meminta media hanya boleh menerbitkan isi berita yang diotorisasi oleh Kantor Berita Xinhua.

Pemerintah daerah bahkan telah mengerahkan sejumlah besar polisi bersenjata yang tidak memiliki kemampuan penyelamatan kecelakaan di pabrik kimia untuk segera ke daerah setempat menjaga stabilitas.

Sejumlah media menggunakan kamera drone untuk mengambil gambar di area kejadian pabrik. Pejabat komunis Tiongkok setempat juga menggunakan drone dan mengacaukan drone wartawan sebuah media hingga jatuh.

Sementara itu, para  anggota keluarga para korban, ditempatkan secara terpisah di hotel-hotel di beberapa kabupaten dan kota di daerah sekitarnya untuk pemantauan jarak jauh.

Pabrik yang meledak itu diketahui memroduksi bahan baku kimia dan produk kimiawi. Area bisnisnya meliputi Asam 4-hidroksibenzoat dan anisol dan produk kimia lainnya.

Sumber media mengungkapkan fakta yang lebih mengerikan

Menurut Wu, seorang awak media yang telah menyelidiki dan merangkum peristiwa ledakan itu, mengungkapkan bahwa ditilik dari skala pemadam kebakaran, jelas peristiwa ledakan itu sangat serius. Di samping daerah yang rusak langsung, pejabat komunis Tiongkok tidak melakukan evakuasi darurat di daerah yang kemungkinan mengandung gas beracun demi stabilitas umum.

Menurut Wu, pejabat setempat pasti tidak akan melakukan evakuasi, karena populasi yang besar. Mereka berpikir, jika dievakuasi maka hal itu dapat menyebabkan kekacauan.

Lebih jauh Wu menuturkan bahwa di Lianyungang, Yancheng, Xuzhou, Suqian dan tempat-tempat lain di Jiangsu utara, industri kimia yang padat telah menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius.

Pasca ledakan itu, departemen perlindungan lingkungan berusaha mencairkan keparahan akibat insiden.

Namun, masalah terbesar adalah padatnya industri kimia di empat area kejadian. Sementara air tanah, air permukaan, udara, dan tanah di sekitar pada dasarnya telah hancur.

Menurut wartawan, dalam delapan tahun terakhir, masyarakat di Chenjiagang, Kabupaten Xiangshui, tempat pabrik itu meledak, telah berulang kali melaporkan hal itu dan melakukan protes terkait polusi udara dan air yang serius. Namun, laporan di Sina Weibo sebagian besar telah dihapus.

Seorang guru perguruan tinggi setempat menuturkan bahwa cara stabilitasi dari pejabat pemda setempat tidak berbeda dengan penanganan 12 tahun yang lalu. Pendekatan semacam itu tidak hanya di Kabupaten Xiangshui, tetapi juga di ibukota provinsi Nanjing.

Menurut laporan media lokal, 12 tahun yang lalu, pernah terjadi ledakan di pabrik kimia di daerah setempat. Namun, pemda setempat menggunakan metode tahanan rumah, memberi uang, dan menempatkan pelacur untuk menghalangi wartawan, saat mereka membuat laporan langsung di tempat.

Laporan itu juga mengungkapkan bahwa setelah ledakan, banyak laporan terkait situasi berbahaya di daerah setempat, namun diblokir oleh pihak berwenang.

Menurut seorang professor bernama Zhao, beberapa tahun yang lalu, organisasi lingkungan telah memperingatkan industri kimia di Kabupaten Xiangshui, bahwa industri kimia itu menjadi bahaya tersembunyi terbesar di Jiangsu utara. Namun pemerintah mengabaikan peringatan itu. (sin/rp) 

 

 

Share

VIDEO POPULAR