Oleh: Nicole Hao   

Empat pengusaha Turki baru-baru ini ditahan di Tiongkok. Informasi itu diketahui setelah Kementerian Luar Negeri Turki mengeluarkan pernyataan yang mengutuk penahanan paksa rezim Komunis Tiongkok terhadap satu juta Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang, Tiongkok.

Langkah TIongkok itu dinilai sebagai balasan Komunis Tiongkok dengan menerapkan diplomasi sandera.

Insiden penangkapan bermula pada Sabtu  9 Maret 2019, empat pengusaha Turki yang menghadiri sebuah pameran dagang di kota pesisir Tiongkok selatan, Xiamen dibawa pergi oleh polisi setempat dari hotel tempat mereka menginap.

Pengusaha-pengusaha itu mewakili tiga pengekspor marmer Turki yang berusaha menjual produk-produk mereka ke Tiongkok pada Pameran Batu Internasional Tiongkok ke-19 yang diadakan dari 6 sampai 9 Maret 2019. Ada sekitar 150 perusahaan Turki berpartisipasi pada  pameran itu.

Pihak berwenang Tiongkok tidak menyebutkan nama-nama pengusahanya. Inisial mereka adalah OS, MO, A., dan YC, sebagaimana diungkapkan oleh media Turki Hurriyet Daily News pada 10 Maret 2019.

Sebuah laporan mengatakan bahwa tiga perusahaan Turki dituduh menghindari pajak atas 240.000 metrik ton impor marmer mentah senilai 400 juta yuan atau  sekita  60 juta dolar Amerika Serikat sejak 2016, yang berjumlah 30 juta yuan, setara dengan  4,5 juta dolar Amerika Serikat dalam pajak yang terlewat.

Meskipun tidak ada media Tiongkok yang melaporkan kasus itu, berita itu menyebar dari mulut ke mulut  di kalangan pengusaha Turki pada pameran itu.

Menurut seorang pengusaha Turki, setelah informasi itu dipublikasikan, beberapa pemilik perusahaan batu dijadwalkan untuk penerbangan untuk meninggalkan Xiamen. Beberapa dari mereka pergi ke Hong Kong.

Pengusaha Turki lainnya yang meninggalkan Tiongkok setelah mendengar berita itu mengatakan bahwa dia sangat ketakutan sehingga dia tidak bermaksud kembali ke Tiongkok.

Turki adalah pengekspor marmer mentah terbesar di dunia. Perusahaan-perusahaan Turki biasanya mengekspor marmer mentah ke Tiongkok untuk diolah menjadi bahan jadi marmer.

Menurut media Anadolu Agency yang dikelola pemerintah Turki, negara itu menerima  2,07 miliar  dolar Amerika Serikat pendapatan hasil mengekspor marmer pada 2017.

Pembeli terbesar marmer mentah adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan Arab Saudi. Stone News melaporkan bahwa sekitar 85,5 persen marmer mentah Turki diekspor ke Tiongkok tahun itu.

Hurriyet Daily News menerbitkan artikel opini pada 11 Maret dengan alasan bahwa penangkapan itu bermotif politik. Artikel menyebutkan bahwa satu pernyataan diplomatik dari Kementerian Luar Negeri Turki sudah cukup untuk membuat hubungan Turki dengan Tiongkok menukik.

Pada 9 Februari 2019, menurut laporan oleh para mantan tahanan, Kementerian Luar Negeri Turki menerbitkan sebuah pernyataan yang mengkritik rezim Komunis Tiongkok atas kamp-kamp di Xinjiang, tempat penyiksaan dan pencucian otak politik terjadi.

Sekitar 13 juta minoritas Uighur tinggal di Tiongkok. Mereka adalah kelompok etnis Turki dan bertutur dengan dialek yang mirip di Turki .

Turki adalah satu-satunya negara mayoritas Muslim yang secara terbuka mengutuk kamp-kamp penahanan di Xinjiang.

Turki pernah mengeluarkan pernyataan menyampaikan belasungkawa atas kematian musisi dan penyair Uighur, Abdurehim Heyit, yang dijatuhi hukuman delapan tahun penjara pada tahun 2017.

Pada 11 Februari, juru bicara kementerian luar negeri Komunis Tiongkok Hua Chunying mengancam Turki bahwa tindakan mereka akan membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain.

Media pemerintah corong Partai Komunis Tiongkok kemudian menerbitkan sebuah video, di mana video itu diklaim memperlihatkan rekaman Heyit masih hidup.

“Ini adalah fakta yang terkenal bahwa Tiongkok tidak memiliki toleransi terhadap kritik,” kata artikel Hurriyet Daily News.

Media itu mencatat bahwa pemimpin Turki Recep Tayyip Erdoğan sering mengkritik para pemimpin Barat, tetapi belum mengkritik rezim Tiongkok.

Pada 26 Februari, Kedutaan Besar Tiongkok di Turki mengumumkan bahwa mereka akan menutup kantor Konsulat Jenderal di Izmir pada 28 Februari 2019.

Tang Jingyuan, seorang komentator urusan saat ini yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan kepada Epoch Times berbahasa mandarin pada Selasa 12 Maret 2019) bahwa penangkapan itu adalah taktik lazim digunakan rezim Komunis Tiongkok.

“Partai Komunis Tiongkok ingin memberikan tekanan politik pada Turki dengan menyerang bisnis ekspor marmernya,” kata Tang.

Tang menambahkan bahwa penahanan pengusaha Turki mirip dengan kasus seorang pengusaha dan diplomat Kanada. Penahanan itu setelah CFO Huawei Meng Wanzhou ditangkap di Kanada dengan tuduhan Amerika Serikat melanggar sanksi Iran. Rezim Komunis Tiongkok telah mengancam pembalasan setelah penangkapan Meng Wanzhou.

Tang mengatakan bahwa taktik penculikan “mirip gangster” itu mirip dengan upaya Komunis Tiongkok untuk menghasut, boikot terhadap Korea Selatan, Jepang, dan barang-barang Amerika Serikat setelah terlibat perseteruan diplomatik dengan negara-negara itu.

“Semua tindakan itu memiliki sifat yang sama, yang menggunakan pasar domestik Tiongkok untuk secara ekonomi memaksa mereka tunduk ke Beijing,” kata Tang. (asr/rp)

 

Share

VIDEO POPULAR