Oleh:  Lin Yan

Baru-baru ini pihak militer Partai Komunis Tiongkok  menyatakan, 5G akan mengubah bentuk peperangan pada masa yang akan datang. Pernyataan itu sama saja dengan menelanjangi diri sendiri tentang risiko negara asing dalam menggunakan produk Huawei.

Seorang pakar menunjukkan, 5G merupakan strategi integrasi militer-sipil Partai Komunis Tiongkok, sulit untuk mengesampingkan perusahaan Tiongkok  dalam hal 5G untuk tidak “dipergunakan” oleh pihak militer. 

Media Tiongkok  melaporkan, Li Bin, komandan garnisun daerah Nanjing, ketika menghadiri symposium yang diselenggarakan oleh perusahaan Unicom provinsi Jiangsu pada 26 Februari 2019 lalu menyatakan, percobaan penggunaan 5G yang diutamakan untuk dikembangkan itu memiliki makna yang amat mendalam.  5G tidak hanya dapat mengubah masyarakat, lebih jauh lagi akan mengubah bentuk peperangan pada masa yang akan datang.

Menurut Li Bin, dalam bentuk peperangan yang baru, yang akan dipergunakan secara luas antara lain dalam bentuk tanpa awak seperti pengintaian, pengemudian dan penyerangan. Semuanya akan tergantung pada transmisi informasi berkecepatan ultra tinggi 5G.

Bersamaan dengan itu, kedua belah pihak militer dan lokal harus secara konsekuen melaksanakan konsep pengembangan integrasi militer-sipil, mempererat kerjasama dalam bidang mobilisasi secara cerdas, pembangunan milisi berkualitas baru, manajemen dinamis milisi, memobilisi dan membimbing bagian pengambil-keputusan dan lain-lain. Secara aktif mengeksplorasi penggunaan secara mendalam teknologi informasi pada lingkup mobilisasi pertahanan nasional.

Pernyataan pihak militer Partai Komunis Tiongkok  itu telah meningkatkan rasa kekhawatiran negara-negara asing terhadap risiko keamanan 5G dari Komunis Tiongkok.

Perusahaan Tiongkok  Huawei dan ZTE tidak hanya sebagai pemasok peralatan 5G di dalam negeri Tiongkok , sangat mungkin merupakan satu-satunya dua pemasok peralatan 5G pihak militer Partai Komunis Tiongkok.

Selain itu Huawei dan ZTE juga merupakan dua perusahaan utama yang ikut tampil di dunia dalam penyediaan pembangun peralatan infrastruktur 5G.

5G merupakan strategi terpadu militer-sipil dari Partai Komunis Tiongkok  

Elsa B.Kania, seorang teknisi merangkap peneliti proyek keamanan nasional dari Kelompok Pemikir (Think tank) Washington “CNAS, Center for a New American Security” pernah menulis sebuah artikel di situs web “DefenseOne.” Dalam artikel itu, Kania mengatakan, bagi Beijing, persaingan 5G senantiasa berhubungan dengan strategi integrasi militer-sipil negaranya.

Kania menunjukkan, sudah sejak 11/2018, pemain utama dalam industri 5G RRT, termasuk ZTE, Unicom dan CASIC, telah mendirikan aliansi industri aplikatif integrasi militer-sipil 5G. Tujuan kemitraan baru itu adalah mendorong kerjasama 3 belah pihak dalam pengembangan militer dan keperluan sipil 5G, bersamaan itu mendorong penggunaan 5G dalam pertahanan dan komersial.  

Hal yang patut dicatat adalah Lembaga Penelitian Pertama Kelompok Sains dan Industri Luar Angkasa Tiongkok  memberikan perhatian khusus pada penerapan 5G di ranah penerbangan.

5G terhubung dengan sistem C⁴ISR militer Partai Komunis Tiongkok  

Selain itu, Agenda 5G Tiongkok juga terkait dengan strategi “informatisasi” nasional dan pertahanan, termasuk kemampuan pengembangan C⁴ISR pasukan Tiongkok. Sistem C⁴ISR adalah akronim untuk kata-kata dalam bahasa Inggris: komando, kontrol, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan dan pengintaian, dikenal sebagai pusat saraf tentara modern dan pengganda kekuatan pasukan.

Sejumlah sarjana dan insinyur pertahanan Tiongkok  pernah menyatakan bahwa transmisi informasi 5G yang lebih cepat dan lebih stabil akan meningkatkan komunikasi di medan perang serta meningkatkan ketepatan waktu dan ke-holistik-an dari informasi.

Secara teori, 5G dapat menyediakan transmisi cepat dan bandwidth yang diperlukan untuk mewujudkan potensi dari Internet of Things dan kecerdasan buatan (AI) di medan perang.

Dalam hal ini, 5G dapat membantu perwujudan teknologi serba AI dalam kemiliteran, dan militer Partai Komunis Tiongkok  senantiasa berusaha meningkatkan potensi penerapan teknologi kecerdasan buatan di bidang militer.

Sebuah laporan Kongres AS pada 2012 menyampaikan, “Militer Partai Komunis Tiongkok  adalah pelanggan lama Huawei, ZTE dan Datang Telecom Technology.

Perusahaan-perusahaan itu menyediakan peralatan telekomunikasi khusus, pelatihan teknis dan teknologi terkait kepada militer Partai Komunis Tiongkok, dan menerima dana langsung untuk pengembangan sistem C⁴ISR.”

Laporan tersebut percaya bahwa penggunaan peralatan Huawei di Amerika Serikat akan memberikan peluang bagi agen intelijen Partai Komunis Tiongkok untuk mendongkel jaringan telekomunikasi Amerika Serikat. Sedangkan peralatan dan informasi yang diberikan oleh Huawei dan perusahaan lain kepada pihak Tiongkok juga mungkin dalam perang cyber dikemudian hari,  akan digunakannya untuk menghadapi jaringan telekomunikasi publik dan swasta Amerika.

Kekhawatiran pihak luar negeri dalam penggunaan peralatan 5G Tiongkok

Paul Triolo, direktur kebijakan teknologi global di perusahaan konsultan Eurasia Group menyatakan, ada dua masalah “realita dan rumit” dalam 5G dan keamanan nasional.

Dia mengatakan bahwa masalah pertama adalah menginstal produk Tiongkok pada peralatan Amerika Serikat dapat membawakan kemudahan bagi kegiatan spionase Partai Komunis Tiongkok. Masalah kedua adalah bahwa hal ini dapat memberikan peluang bagi Partai Komunis Tiongkok, di tengah terjadinya konflik Tiongkok dengan Amerika Serikat, jaringan di Amerika Serikat diblokir.

Perusahaan-perusahaan Tiongkok ini bertanggung jawab atas penjualan peralatan, dan operator Amerika Serikat bertanggung jawab atas operasional yang sesungguhnya.

Triolo menyatakan bahwa menurut kontrak, pemasok peralatan mungkin tidak diizinkan untuk mengakses peralatan, atau mereka hanya diperbolehkan untuk memperbarui perangkat lunak.

Dia mengatakan saat ini kekhawatiran sesungguhnya adalah bahwa begitu pemasok 5G  Tiongkok mendominasi dunia, Departemen Pertahanan Amerika Serikat patut merasa tidak nyaman atas sistem operasionalnya yang penuh dengan peralatan buatan Tiongkok.

Menurut Triolo, Departemen Pertahanan Amerika Serikat secara luas prihatin tentang hal ini karena beroperasi pada skala global.

Jika di daerah manapun dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang mengoperasikan atau yang digunakannya semua adalah peralatan Tiongkok sebagai pondasi, itu akan merupakan mimpi buruk.

Mengapa hubungan antara Huawei dan militer Tiongkok tidak dapat diterima oleh negara-negara asing?

Masalah itu telah membingungkan sejumlah pembaca etnis Tionghoa. Mereka mengatakan, misalnya, perusahaan teknologi tinggi Amerika Serikat, seperti Google dan Qualcomm, juga bekerja sama dengan militer Amerika Serikat atau mendengarkan propaganda media Partai Komunis Tiongkok bahwa orang asing mengenakan kacamata berwarna untuk melihat Tiongkok.

Realitanya tidaklah demikian, dan kekhawatiran keamanan negara asing tentang Huawei telah ada sejak lama.

Tokoh golongan Elang Hawkish Kongres Amerika Serikat dan badan intelijen telah memerhatikan Huawei sejak sekitar 2007.

Pada 2012, Komite Intelijen Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat merilis sebuah laporan setelah melakukan penyelidikan selama 1 tahun, termasuk pertemuan tatap muka di Hongkong dengan Ren Zhengfei, pendiri Huawei.

Para sarjana Amerika Serikat memiliki studi yang sangat teliti tentang hubungan antara perusahaan Tiongkok dan pemerintah Tiongkok.

Mark Wu, seorang profesor di Henry L. Stimson Center dari Harvard Law School, menghadiri dengar pendapat Komite Tinjauan Ekonomi dan Keamanan Amerika Serikat – Tiongkok  pada 28 Februari 2019 silam. Dia mengatakan bahwa pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok memiliki seperangkat struktur lengkap dalam mengelola dan mengendalikan ekonomi “China Inc.”

Dia menyimpulkan bahwa struktur manajemen ekonomi Partai Komunis Tiongkok memiliki 6 karakteristik pada saat yang bersamaan. Meskipun fitur individual dapat ditemukan di negara lain, namun hanya satu-satunya di Tiongkok yang dapat ditemukan lengkap 6 karakteristik ini.

Dengan kata lain, menurut Mark Wu, struktur perusahaan Tiongkok menyediakan berbagai mekanisme informal untuk negara partai. Bahkan tanpa instruksi resmi dari negara partai, mereka dapat secara tidak langsung menerapkan kebijakan industri tertentu yang merusak perusahaan-perusahaan Amerika. (The Epoch Times/tys/whs/rp)

Share

VIDEO POPULAR