Oleh Li Jie

Paparan citra satelit oleh media Amerika Serikat pada 22 Februari 2019 yang lalu menangkap aktivitas tempat pembuatan rudal di daerah dekat Pyongyang telah meningkat secara signifikan. Diduga itu menunjukkan tanda-tanda akan ada peluncurkan rudal atau satelit lagi.

Beberapa analis menanggapinya bahwa kemungkinan langkah Kim Jong-un itu hanya untuk memberikan tekanan kepada AS sebelum dimulainya Konferensi Tingkat Tinggi kedua Amerika Serikat dengan Korea Utara yang berlangsung di Hanoi, Vietnam pada 28 Februari 2019 silam. Konferensi Tingkat Tinggi belakangan gagal mencapai hasil.

Suara Amerika VOA pada 9 Maret 2019 melaporkan bahwa National Public Broadcasting Corporation secara eksklusif memperoleh foto satelit yang diambil oleh perusahaan penginderaan jauh satelit komersial Amerika Serikat, Digital Globe pada 22 Februari 2019.

Foto itu menunjukkan bahwa kegiatan di tempat pembuatan rudal Sanumdong yang terletak di pinggiran kota Pyongyang telah meningkat secara signifikan. Ada kereta api yang berhenti dan derek besar berdiri di sana.

Laporan itu menyebutkan bahwa di Sanumdong itu rudal balistik antarbenua pertama milik Korea Utara dirakit.

Pada awal pekan ini, juga ada media yang memaparkan gambar satelit yang menunjukkan situs peluncuran roket yang berada di Laut Barat yang telah dibongkar, sekarang sedang dibangun kembali. 2 buah crane terlihat berada di dekat lokasi tersebut.

Namun, laporan menyebutkan bahwa pembangunan kembali situs peluncuran rudal di Laut Barat itu baru dimulai sekitar 16 Februari 2019 lalu.

Beberapa media Inggris dan Amerika Serikat menafsirkan bahwa Korea Utara dicurigai sedang memulai lagi acara peluncuran roket sebagai balas dendam terhadap Amerika Serikat karena kegagalan Konferensi Tingkat Tinggi antar kedua negara.

VOA ​​mengutip analisis yang dibuat David Schmerler, seorang peneliti senior di James Martin Center for Nonproliferation Studies bahwa aktivitas di situs peluncuran itu sudah dimulai sebelum Konferensi Tingkat Tinggi digelar. Kemungkinan saja Kim Jong-un ingin memberikan sedikit tekanan kepada Amerika Serikat dengan harapan Trump mau memberikan konsesi yang lebih besar kepada Korea Utara.

Victor Cha, mantan direktur Dewan Keamanan Nasional Asia Amerika Serikat, juga percaya bahwa hal itu semestinya adalah informasi yang sengaja dirilis ke dunia luar oleh Korea Utara sebagai tanggapan atas Konferensi Tingkat Tinggi di Vietnam yang tanpa hasil.

Presiden Trump mengatakan di Gedung Putih pada 6 Maret 2019 silam bahwa berita Korea Utara sedang membangun kembali basis peluncurannya hanyalah laporan awal dari media Amerika Serikat.

Belum dapat dipastikan, tapi Amerika Serikat akan terus memperhatikan perkembangan selanjutnya. Menurut Trump, hubungan Amerika Serikat – Korea Utara saat ini masih baik dan masalah nuklir Korea Utara pada akhirnya akan terselesaikan.

Pada konperensi pers setelah Konferensi Tingkat Tinggi kedua putus di tengah jalan Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa pada hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi itu, Kim Jong-un telah berjanji kepadanya untuk tidak lagi melakukan uji coba senjata nuklir dan peluncuran rudal.

Sepekan setelah Konferensi Tingkat Tinggi kedua itu mengalami kegagalan, media partai milik Korea Utara akhirnya secara terbuka mengakui bahwa pertemuan puncak itu berakhir tanpa hasil.

Meskipun laporan tersebut mendorong tanggung jawab atas kegagalan negosiasi itu kepada Amerika Serikat, tetapi laporan itu selain tidak memiliki retorika yang kuat, malahan mengecam Jepang yang “merasa senang melihat orang lain kesusahan”.

Menurut analisis luar, Kim Jong-un telah jatuh ke dalam kesulitan ekonomi dan masih berharap dapat kembali berunding dengan Trump di kesempatan berikutnya. (sin/rp)

Share

VIDEO POPULAR