Oleh Xiao Jing  

Seorang gadis etnis Kazakh dengan berani mengungkapkan kepada media, banyak anggota keluarganya ditahan dalam kamp konsentrasi Partai Komunis Tiongkok. Dia berharap kepada dunia luar memberikan bantuan penyelamatan.

Hal itu kontradiktif dengan pernyataan Partai Komunis Tiongkok yang berulang kali membantah bahwa mereka telah mendirikan kamp konsentrasi di Xinjiang untuk menindas hak asasi manusia dan menekan kebebasan beragama.

Pengguna Facebook bernama “justadullan” pada 11 Maret 2019 memposting video wawancara singkat dengan gadis manis etnis Kazakh yang berkuncir yang baru tak lama melarikan diri dari Xinjiang.

Sayangnya, anggota keluarganya yang lain semua ditahan di kamp konsentrasi lokal oleh rezim Partai Komunis Tiongkok.

“Saya adalah putri Akerke Bekesh, saya di sini sedang mencari ayah saya, Manapkhan. Ayah juga 2 orang abang saya Erbolat dan Ezhenbay, mereka semua ditahan dalam kamp konsentrasi di Xinjiang, saya sangat merindukan mereka!” kata gadis Kazakh itu.

Gadis itu mengatakan kepada reporter bahwa dirinya mendengar salah satu dari abangnya matanya hampir tidak bisa melihat. Dia sangat merindukannya. Dia berharap semua orang dapat membantunya menemukan mereka kembali.

Keberanian dan keteguhan gadis itu juga membuat penonton merasa sedih dan meneteskan air mata.

Partai Komunis Tiongkok hingga kini masih membantah keberadaan kamp pendidikan ulang

Hingga hari ini, para pejabat Partai Komunis Tiongkok masih menyangkal adanya kamp pendidikan ulang di Xinjiang.

Sam Brownback, Duta Besar Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional menyampaikan pidato utama di Hongkong pada 8 Maret 2019 mengenai kebebasan beragama di daratan Tiongkok.

Brownback mengatakan bahwa rezim Partai Komunis Tiongkok takut kepada rakyatnya yang beragama. Brownback terutama mengkritik Partai Komunis Tiongkok yang masih terus melakukan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong. Dia menuntut agar Partai Komunis Tiongkok menghentikan praktik jahat berupa pengambilan paksa organ dari tubuh hidup-hidup dan lainnya.

Sebagai tanggapan dari Partai Komunis Tiongkok, Kantor Komisaris Khusus Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa Sam Brownback dengan sengaja ingin menyerang Tiongkok, memutarbalikkan fakta yang membingungkan masyarakat.

Ketika Sam Brownback ditanyai soal komentarnya dalam menanggapi kritikan Partai Komunis Tiongkok terhadap dirinya dalam sebuah konperensi pers di Taiwan pada 11 Maret 3029 yang lalu, ia mengungkapkan sebuah kisah tentang pertemuannya dengan pejabat Tiongkok di dalam gedung Perserikatan Bangsa-bangsa.

Sam Brownback mengungkapkan bahwa ia minggu lalu baru mendapat kritikan serupa dari pejabat Tiongkok di PBB.

Menurutnya beberapa orang Uighur terus memberikan masukan dengan memberikan daftar kepadanya tentang anggota keluarga mereka yang hilang, yang mungkin ditahan dalam kamp konsentrasi di Xinjiang.

“Bisakah Anda membantu saya menemukan orang-orang tersebut?” kata Brownback.

Pejabat Partai Komunis Tiongkok itu tiba-tiba menjadi terdiam. Brownback juga mengajukan pertanyaan berikutnya kepada pejabat Partai Komunis Tiongkok.

“Saya memiliki daftar ratusan orang yang hilang di sini. Mereka berada di mana? Mengapa keluarga mereka tidak dapat menemukan mereka? Saya juga akan meminta tanggapan dari tuduhan khusus kepada mereka Partai Komunis Tiongkok. Mengapa anak-anak mereka tidak dapat dinamai Muhammad? Mengapa mereka tidak dapat membaca Kitab Suci? Mengapa gereja dihancurkan? Mengapa kuil Buddha Tibet harus ditutup?” kata Brownback.

Sam Brownback secara cerdik menunjukkan bahwa ketika para pejabat Partai Komunis Tiongkok mempertanyakan tuduhannya sebagai tidak masuk akal, dia akan meminta Partai Komunis Tiongkok merespons secara khusus terhadap tuduhan itu.

Banyak warga yang pernah ditahan mengeluh tentang pengalaman mereka dalam kamp

Sejak Partai Komunis Tiongkok mendirikan “kamp Pendidikan Ulang” di Xinjiang tahun lalu, telah menarik perhatian besar dari masyarakat internasional.

Dalam pertemuan PBB di Jenewa bulan Agustus tahun lalu, para ahli PBB mengatakan bahwa sekitar 1 juta penduduk Xinjiang etnis Uighur telah dijebloskan ke tempat yang dinamakan “kamp pendidikan ulang” oleh Partai Komunis Tiongkok. Sebagian besar kamp konsentrasi ini didirikan oleh pemerintah tingkat kota dan dijaga secara ketat oleh polisi bersenjata.

Selanjutnya, pada 20 September silam, Radio Free Asia berbahasa Uighur untuk pertama kalinya secara terbuka menyiarkan rekaman video dalam pertemuan di ruang National Democratic Foundation of Washington, Amerika Serikat. Video berisikan penuturan beberapa warga etnis Uighur Xinjiang yang telah mengalami tahanan dalam “kamp pendidikan ulang.”

Mereka menuturkan bagaimana pengalaman kehidupan seharian ketika berada dalam kamp tahanan, bagaiman penindasan yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok terhadap mereka. Para perwakilan dari berbagai organisasi, media pemerintah dan non-pemerintah menghadiri acara tersebut.

Para saksi mata etnis Uighur yang mengalami penahanan menuturkan bahwa tempat penahanan itu tak lain adalah sebuah penjara. Para penjaga semua bersenjata lengkap dan dilengkapi pula dengan tongkat listrik. Ada orang dirantai di kunci, agar ia tidak dapat tidur.

Setiap hari ada saja orang yang mengalami pemukulan oleh sipir dan menerima hukuman fisik. Warga Uighur diperlakukan seperti binatang dalam kamp pendidikan ulang.

“Kita sering mendengar jeritan warga Uighur yang disiksa. Mendengar jeritan-jeritan kesakitan membuat kita semakin takut. Semua terdiam tidak berani berbicara, paling-paling hanya saling memandang satu sama yang lain,” tutur para saksi mata etnis Uighur dalam video.

Ada juga saksi yang mengungkapkan, warga etnis Uighur yang ditahan di kamp pendidikan ulang setiap hari dalam waktu yang panjang dipaksa untuk menerima propaganda pencucian otak pihak berwenang Tiongkok.

Pada akhir bulan November tahun lalu, majalah Barat ‘Bitter Winter’ yang berpusat di Italia menerbitkan video tentang kamp pendidikan ulang di Xinjiang. Video tersebut mengungkapkan bahwa apa yang oleh Partai Komunis Tiongkok  dinamakan Pusat Pelatihan Kejuruan sebenarnya tidak berbeda dengan penjara.

Menurut laporan itu, reporter majalah yang menyamar dan menyelinap ke dalam kamp pendidikan ulang di Desa Yingye’er, Kota Yining di Xinjiang pada bulan Agustus tahun yang sama. Kamp itu dinamakan Pusat Pelatihan Pendidikan Keterampilan Kejuruan Yining Yingye’er.

Seluruh jendela di area kamp dipasangi teralis dan kawat berduri. Pintu keluar masuk utama juga dilengkapi dengan gerbang besi dan pagar besi.

Sejumlah kamera CCTV terpasang dalam gedung, yang digunakan untuk memonitor perilaku semua tahanan dari segala arah. Tak ada sudut yang tak tertangkap kamera. Jelas para tahanan tidak memiliki privasi sama sekali. (sin/rp)

 

 

Share

VIDEO POPULAR