Oleh Li Jie

Konferensi Tingkat TInggi kedua antara Amerika Serikat dengan Republik Demokratik Rakyat Korea Utara atau DPRK yang berlangsung di Hanoi, Vietnam pada 28 Februari lalu berakhir tanpa hasil.

Paparan citra satelit oleh media AS pada 22 Februari menunjukkan bahwa aktivitas di tempat pembuatan rudal di daerah dekat Pyongyang telah meningkat secara signifikan, yang menunjukkan tanda-tanda akan ada peluncurkan rudal (atau satelit) lagi.  

Namun, juga ada beberapa analis yang menanggapinya dengan mengatakan bahwa langkah Kim Jong-un itu paling-paling untuk memberikan tekanan kepada AS sebelum KTT dimulai.

Suara Amerika (VOA) pada 9 Maret melaporkan bahwa National Public Broadcasting Corporation secara eksklusif memperoleh foto satelit yang diambil oleh perusahaan penginderaan jauh satelit komersial AS (Digital Globe) pada 22 Februari.

Foto tersebut menunjukkan bahwa kegiatan di tempat pembuatan rudal Sanumdong yang terletak di pinggiran kota Pyongyang telah meningkat secara signifikan, ada kereta api yang berhenti dan derek besar berdiri di sana.

Laporan itu menyebutkan bahwa di Sanumdong ini rudal balistik antarbenua pertama milik DPRK dirakit.

Pada awal pekan ini, juga ada media yang memaparkan gambar satelit yang menunjukkan situs peluncuran roket yang berada di Laut Barat yang telah dibongkar beberapa waktu lalu sekarang sedang dibangun kembali. 2 buah crane terlihat berada di dekat lokasi tersebut.

Namun, laporan menyebutkan bahwa pembangunan kembali situs peluncuran rudal di Laut Barat itu baru dimulai sekitar 16 Pebruari lalu.

Beberapa media Inggris dan Amerika menafsirkan bahwa Korea Utara dicurigai sedang memulai lagi acara peluncuran roket sebagai balas dendam terhadap AS karena kegagalan KTT.  

Namun, VOA ​​mengutip analisa yang dibuat David Schmerler, seorang peneliti senior di James Martin Center for Nonproliferation Studies mengatakan bahwa aktivitas di situs peluncuran itu sudah dimulai sebelum KTT, mungkin saja Kim Jong-un ingin memberikan sedikit tekanan kepada AS dengan harapan Trump mau memberikan konsesi yang lebih besar kepada DPRK.

Victor Cha, mantan direktur Dewan Keamanan Nasional Asia Amerika Serikat, juga percaya bahwa ini semestinya adalah informasi yang sengaja dirilis ke dunia luar oleh Korea Utara sebagai tanggapan atas KTT di Vietnam yang tanpa hasil.

Presiden Trump mengatakan di Gedung Putih pada 6 Maret bahwa berita Korea Utara sedang membangun kembali basis peluncurannya hanyalah laporan awal dari media AS.

Belum dapat dipastikan, tetapi AS akan terus memperhatikan perkembangan selanjutnya dari mereka. Trump mengatakan bahwa hubungan AS – DPRK saat ini masih baik dan masalah nuklir DPRK pada akhirnya akan terselesaikan.

Pada konperensi pers setelah KTT kedua putus di tengah jalan Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa pada hari pertama KTT itu, Kim Jong-un telah berjanji kepadanya untuk tidak lagi melakukan uji coba senjata nuklir dan peluncuran rudal.

Sepekan setelah KTT kedua itu mengalami kegagalan, media partai milik Korea Utara akhirnya secara terbuka mengakui bahwa pertemuan puncak itu berakhir tanpa hasil.

Meskipun laporan tersebut mendorong tanggung jawab atas kegagalan negosiasi itu kepada Amerika Serikat, tetapi laporan selain tidak memiliki retorika yang kuat,malahan mengecam Jepang yang “merasa senang melihat orang lain kesusahan”.

Menurut analisis luar, Kim Jong-un telah jatuh ke dalam kesulitan ekonomi dan masih berharap dapat kembali berunding dengan Trump di kesempatan berikutnya.

Share

VIDEO POPULAR