Chip-chip semikonduktor memberi daya mulai dari smartphone hingga rudal. Tiongkok telah menetapkan tujuannya untuk menjadi pemimpin global dalam pembuatan chip ini.

Namun laporan think tank baru-baru ini memperingatkan bahwa langkah agresif rezim Komunis Tiongkok untuk mencapai ambisinya itu memiliki efek negatif pada industri global. Dampaknya kemungkinan akan semakin memburuk jika tren terus berlanjut.

Laporan, yang diterbitkan oleh Pusat Studi Strategi Internasional, Center for Strategic and International Studies atau CSIS, yang berbasis di Washington pada 27 Februari 2019, disusun oleh James Andrew Lewis, wakil presiden senior lembaga think tank dan mantan pejabat dinas asing di departemen Negara dan Perdagangan.

“Ada kekhawatiran bahwa jika Tiongkok mencapai posisi dominan dalam semikonduktor, Tiongkok mungkin berusaha untuk mendorong pesaing-pesaing asing keluar dari pasar atau menggunakan keunggulannya sebagai alat pemaksa dengan menolak atau membatasi penjualan,” tulis Lewis.

Lewis menjelaskan bagaimana tindakan-tindakan Tiongkok berbeda dari persaingan di pasar bebas.

“Ketika upaya-upaya Jepang, Korea, dan Taiwan meningkatkan daya saing dan masalah-masalah perdagangan dengan Amerika Serikat, mereka tidak mengangkat masalah strategis atau militer. Negara-negara ini adalah mitra. Tiongkok bukan,” katanya.

Selain Amerika Serikat, ketiga negara Asia tersebut adalah kekuatan besar semikonduktor dunia.

Menurut perusahaan riset semikonduktor yang berbasis di Amerika Serikat, IC Insights, 15 pemimpin penjualan semikonduktor teratas pada paruh pertama 2018 terdiri dari tujuh perusahaan Amerika Serikat, tiga perusahaan Eropa, dua perusahaan Korea Selatan, dua perusahaan Taiwan, dan satu perusahaan Jepang, konglomerat teknologi Korea Selatan, Samsung, menduduki peringkat pertama diikuti oleh Intel.

Menurut laporan tersebut, Tiongkok saat ini hanya memproduksi sekitar 16 persen dari kebutuhan semikonduktornya, sangat bergantung pada impor-impor asing.

Menurut Reuters, pada tahun 2017, Tiongkok mengimpor semikonduktor senilai US$260 miliar, lebih dari nilai total impor minyak mentah.

Laporan itu memperingatkan bahwa jika Tiongkok berhasil mendapatkan dominasi atas pasar dunia, maka Tiongkok akan menggunakannya untuk kepentingan intelijen, militer, komersial, dan politik dengan memanipulasi rantai pasokan semikonduktor yang menjadi sandaran ekonomi dan militer Barat.

Laporan memberi contoh raksasa telekomunikasi Huawei sebagai indikator tentang apa yang bisa dilakukan oleh industri semikonduktor yang didukung negara. Setelah menerima subsidi-subsidi dan investasi-investasi dari Beijing, sambil menggunakan spionase industri untuk mencuri pengetahuan dari perusahaan-perusahaan teknologi Barat, Huawei berkembang karena dapat membuat produk-produk berkualitas dengan biaya rendah.

Selanjutnya, perusahaan itu menguntungkan rezim Tiongkok. Akses ke infrastruktur telekomunikasi dapat memberikan keuntungan intelijen yang sangat penting.

Pendekatan yang Dipimpin Negara

Rezim Komunis Tiongkok telah mengumumkan ambisi semikonduktor sejak dini. Pada Juni 2014, Dewan Negara Tiongkok mengumumkan “Pedoman Pengembangan Industri Sirkuit Terpadu Nasional,” yang membentuk dana negara tingkat pusat untuk mendorong industri sirkuit terpadu, integrated circuit  Tiongkok, sembari mendorong pemerintah daerah untuk menyiapkan dana-dana mereka sendiri.

Sekitar setahun kemudian, Komunis Tiongkok mengumumkan rencana “Made in China 2025”, yang menetapkan tujuan bagi Tiongkok untuk memenuhi 40 persen kebutuhan semikonduktor domestiknya. Pada tahun 2025, tujuannya adalah untuk meningkatkan angka tersebut menjadi 70 persen.

Menurut laporan, industri semikonduktor Tiongkok saat ini didukung oleh lebih dari US$58 miliar dalam berbagai jenis dana investasi semikonduktor pemerintah pusat dan ditopang oleh janji US$60 miliar lainnya dalam 30 dana semikonduktor tambahan yang dibuat oleh pemerintah daerah.

Laporan itu memprediksi bahwa ekspansi yang disubsidi seperti itu untuk industri Tiongkok pada akhirnya akan mendorong keluar para produsen di negara-negara lain karena para pekerja di sana melihat penyusutan pendapatannya dan pada saat yang sama perusahaan-perusahaan mereka mengeluarkan lebih sedikit untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut.

Pada akhirnya, hal itu akan “melemahkan industri global dan laju inovasi semikonduktor.”

Komunis Tiongkok juga menggunakan pencurian kekayaan intelektual untuk meningkatkan sektor semikonduktornya sendiri, termasuk dengan merekrut para pekerja Tionghoa dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, dan menekan perusahaan-perusahaan Barat untuk mentransfer teknologi mereka dengan imbalan akses ke pasar Tiongkok.

Tiongkok Tertinggal di Belakang

Bagaimanapun kemajuan teknologi semikonduktor  Tiongkok masih sangat terbatas saat ini.

Dari semua jenis chip yang berbeda logika, memori, sensor, kekuatan, sinyal, dan analog, Tiongkok telah sukses membuat chip memori yang menyimpan data, yang membutuhkan proses pembuatan yang tidak terlalu rumit.

Sebaliknya, Tiongkok tidak mampu menghasilkan chip logika dengan kekuatan dan kecanggihan besar, seperti central processing unit atau CPU yang berfungsi sebagai mesin utama komputer.

Tantangan Tiongkok adalah bahwa ia tidak memiliki “pengetahuan”, atau pengetahuan dan keterampilan yang dibangun dari pengalaman selama bertahun-tahun. Terlepas dari fakta bahwa 19 fasilitas fabrikasi semikonduktor baru telah dibangun sejak 2017.

Kerugian inilah yang menyebabkan Tiongkok mencoba mengakuisisi para pembuat chip Amerika, seperti Lattice, Micron Technology, dan Western Digital Corporation.

Menurut Wall Street Journal, pada tahun 2016, Unisplendour, sebuah unit pembuat chip yang didukung negara Tiongkok, Tsinghua Unigroup, berupaya mengakuisisi 15 persen saham di pabrikan AS, Western Digital.

Perusahaan Tiongkok itu membatalkan rencananya setelah Komite Investasi Asing di Amerika Serikat memutuskan untuk menyelidiki kesepakatan tersebut.

Pada tahun 2017, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memblokir Canyon Bridge Capital, sebuah perusahaan ekuitas swasta yang didukung Tiongkok, dalam mengakuisisi Lattice Semiconductor Corp yang berpusat di Oregon.

Dalam kasus Micron, perusahaan menolak kesepakatan pada 2015, dengan alasan bahwa regulator Amerika Serikat tidak akan pernah menerimanya.

Mengutip The Wall Street Journal, antara tahun 2015 dan 2017, investor Tiongkok telah menawarkan lebih dari US$30 miliar penawaran untuk perusahaan semikonduktor Amerika dan Eropa. (epochtimes/ran/rp)

Share

VIDEO POPULAR