Oleh Li Yun

Akibat Partai Komunis Tiongkok meluncurkan gerakan ‘Lompatan Jauh ke Depan’ pada akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an, rakyat Tiongkok berada dalam keadaan sengsara luar biasa.

Sediknya 40 juta orang rakyat meninggal dunia secara tidak wajar. Namun sampai sekarang komunis Tiongkok masih bersikap enggan untuk membicarakan bencana besar tersebut meskipun 60 tahun telah berlalu.

Akhir-akhir ini sekelompok masyarakat Tiongkok menyerukan kepada pemerintah Komunis Tiongkok untuk menghadapi kejadian dalam sejarah ini. Foto yang menjadi bukti berdarah “ayah makan anak” sampai mengejutkan dunia.

Setelah kolektivisasi pertanian dan Lompatan Jauh ke Depan, bencana kelaparan besar terjadi di Tiongkok menyebabkan puluhan juta orang meninggal secara tidak wajar.

Pejabat Partai Komunis Tiongkok sampai sekarang masih mengelak untuk mengomentari bencana besar yang pernah terjadi  dalam sejarah pemerintahan mereka. Bahkan menyalahkan alam, menyebutnya sebagai akibat dari 3 Tahun Bencana Alam.

Suara Amerika pada 2 Maret melaporkan bahwa melalui penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ahli dan cendekiawan, ditemukan kalau bencana kelaparan besar itu bukan akibat bencana alam, melainkan bencana buatan manusia.

Akibat gerakan Lompatan Jauh ke Depan, pihak berwenang di satu sisi memaksa para petani Tiongkok untuk menyetorkan biji-bijian hasil panen mereka untuk “kepentingan negara.”

Di sisi lain memblokir berita dan melarang petani melarikan diri atau  meninggalkan desa, setelah bencana kelaparan meluas. Hal-hal demikian ikut memperburuk situasi. Xinyang, Henan adalah yang paling menonjol.

Karena kehabisan makanan, beberapa tempat bahkan muncul fenomena kanibalisme. Di daerah pertanian Jiabiangou, propinsi Gansu yang saat itu terdapat lebih dari 3.000 orang golongan sayap kanan yang ditahan, kebanyakan dari mereka meninggal dunia karena kelaparan dan penyiksaan yang tidak manusiawi.

Saat ini, sejumlah kecil orang yang selamat dan para anak cucu yang hendak sembahyang arwah para pendahulu pun tidak diperkenankan oleh pihak berwenang.

Wang Ping, seorang penulis yang sudah pindah ke Amerika Serikat dan beberapa orang yang selamat dari bencana kelaparan besar itu sering berdiskusi di media sosial tentang dampak besar bencana itu dan moralitas sosial. Sangat berharap kepada pihak berwenang untuk  mengungkap kejadian itu sesuai fakta.

Wang Ping mengatakan bahwa kejadian bencana kelaparan besar yang dimulai sejak tahun 1958 hingga 1962 itu meninggalkan rasa sakit yang tak terhingga bagi rakyat Tiongkok.

Bencana kelaparan besar 5 tahun itu telah membongkar budaya kebohongan Partai Komunis Tiongkok.

Pada saat itu, digembar-gemborkan oleh pejabat daerah bahwa ladang 1 mu atau 666.7 meter persegi,  dapat menghasilkan 200.000 jin atau 0.5 kilogram beras, dan hasil gandum 120.000 jin. Ilmuwan terkemuka pun menerbitkan artikel yang mendukung konsep itu.

Sampai kemudian, penduduk yang mati kelaparan pun tidak boleh dilaporkan sebagai korban kelaparan tetapi harus dilaporkan mati karena sakit. Bencana kelaparan yang berlangsung selama 5 tahun oleh pemerintah pusat dikatakan sebagai 3 tahun bencana alam.

Wang Ping mengatakan bahwa beberapa teman lama secara bersama menulis surat terbuka yang ditujukan kepada pemerintah untuk mengusulkan tiga permohonan.

Pertama. Mendirikan monumen untuk memperingati bencana kelaparan Tiongkok di Xinyang, Henan atau Jiabiangou, Jiuquan, Gansu.

Kedua. Berharap kepada pemerintah untuk menetapkan Hari Peringatan Kelaparan. Disarankan pada saat Festival Ching Ming.

Ketiga. Membebaskan pemblokiran buku ‘Tombstone’ karangan Yang Jisong.

Berapa banyak rakyat Tiongkok yang meninggal dunia akibat bencana kelaparan besar itu, pemerintah Tiongkok sampai sekarang masih merahasiakan.

Menurut perkiraan yang dilakukan oleh para sarjana independen di Tiongkok dan Barat, jumlah rakyat yang menjadi korban bencana kelaparan itu setidaknya mencapai 35 – 40 juta orang.

Selama 3 tahun bencana kelaparan, fenomena kanibalisme muncul di berbagai daerah. Sangat tragis dan mungkin di luar imajinasi orang. Sementara Partai Komunis Tiongkok berusaha untuk menyembunyikan fakta rakyatnya meninggal dunia karena bencana kelaparan. Berita-berita tentang kanibalisme terus diblokir dan ditutup-tutupi oleh rezim dengan menyebutnya sebagai “kasus khusus manusia”, “kasus kelainan” dan sebagainya.

Foto-foto tersebut diambil dan dipublikasikan oleh sejarawan Tiongkok kontemporer Yu Xiguang dari Biro Arsip Kantor Keamanan Publik Liling County, Hunan. (foto internet)

Di masa bencana kelaparan besar itu, sebuah foto ayah bersama anak itu adalah foto yang membuktikan ayah memakan anaknya sendiri yang sempat mencengangkan dunia.

Foto tersebut diambil oleh sejarawan Tiongkok kontemporer Yu Xiguang dari Biro Arsip Kantor Keamanan Publik Liling County, Hunan yang kemudian dipublikasikan.

Foto menunjukkan bahwa seorang ayah yang bernama Liu Jiayuan berdiri di dekat dinding dengan tangannya terborgol. Di sampingnya ada keranjang berisi batok kepala beserta kerangka putranya, dan sebuah wajan yang berisi wortel dan potongan daging dari tubuh putranya yang hampir mati kelaparan. Daging itu sedang direbus oleh Liu yang ingin disantapnya sebelum ia mati kelaparan.

Gambar itu diambil oleh eksekutor untuk dokumen sebelum Liu dihukum mati. Kemudian menjadi saksi bisu dimana kanibalisme benar-benar terjadi di Tiongkok pada era bencana kelaparan besar.

Tragedi manusia makan manusia yang terjadi selama 3 tahun bencana kelaparan, terjadi di sejumlah kabupaten dan propinsi di Tiongkok.

Jasper Becker dalam buku karangannya yang berjudul ‘Hungry Ghosts : Mao’s Secret Famine’ atau Hantu Kelaparan, Mengungkap Rahasia Bencana Kelaparan Besar di Era Mao, mengungkapkan bahwa fenomena kanibalisme terjadi di berbagai wilayah seperti Sichuan, Gansu, Qinghai, Tibet, Shaanxi, Ningxia, Hebei, Liaoning yang meliputi hampir seluruh negeri.

Di Gushi County, Provinsi Henan, catatan resmi menunjukkan ada 200 kasus orang memakan orang, komite partai kabupaten kemudian memerintahkan penangkapan terhadap orang-orang yang ikut makan daging dengan tuduhan “merusak jenasah.”

Menurut bacaan Partai Komunis Tiongkok ‘Referensi Internal’ No. 3032 yang diterbitkan oleh Kantor Berita Xinhua pada tahun 1960, dilaporkan bahwa menurut statistik dari 11 kabupaten dan kota di Daerah Otonomi Gansu Ningxia Hui dan Guizhou tahun ini, ditemukan ada 17 kasus orang makan daging orang. 13 dari 15 orang yang dibunuh itu adalah anak-anak. Jenasah yang digali dari liang kubur untuk dimakan tercatat ada 16.

Yang Jisheng, mantan wartawan senior Kantor Berita Xinhua dalam bukunya yang berjudul ‘Tombstone’ menyebutkan kalau Xinyang County di Henan pada saat itu berpenduduk sekitar 8 juta jiwa, 1 juta di antara mereka meninggal karena kelaparan, masyarakat yang kelaparan bahkan memakan jenasah.

Saat musim dingin, karena galian liang kubur yang kurang dalam membuat jenasah tidak sulit dikeluarkan lagi untuk konsumsi perut yang lapar. Muncul pula fenomena orang makan orang, ada orang tua yang makan daging anaknya sendiri.

Statistik pasca-investigasi Yang Jisheng menunjukkan bahwa kanibalisme di seluruh negeri Tiongkok di era bencana kelaparan itu berkisar antara 4.000 – 5.000 kasus.

Pada tahun 1960, ketika sejumlah besar petani kelaparan sampai mati, pihak berwenang selain tidak mengeluarkan beras yang tersimpan dalam gudang logistik untuk mengatasi bencana,  tetapi malahan dengan sengaja terus meningkatkan jumlah setoran wajib bahan makanan dari para petani.

Tahun 1960, jumlah orang yang mati kelaparan tercatat paling tinggi, padahal  negara masih memiliki ribuan ton stok bahan makanan.

Bahkan hal yang di luar dugaan adalah, di saat rakyat sedang kelaparan, Partai Komunis Tiongkok justru mengekspor bahan makanan ke negara-negara lain dalam jumlah yang besar dengan tidak peduli terhadap kondisi rakyatnya. Tentu saja hal ini memperparah situasi bencana. (sin/rp)

Share

VIDEO POPULAR