Kata “karma” semua orang mungkin pernah mendengar kata itu.  Dalam bahasa Sanskerta, bahasa India kuno, karma merujuk pada konsekuensi yang terjadi sebagai hasil dari pikiran, ucapan, dan tindakan kita.

Banyak yang percaya karma terakumulasi dari kehidupan masa lalu. Apa yang Anda lihat terjadi dalam kehidupan ini adalah hasil dari karma Anda, yang baik ataupun buruk. Dengan kata lain, karma baik atau buruk adalah konsekuensi dari pikiran dan tindakan Anda. Ada persitiwa-peristiwa pembalasan karma dengan segera.

Berikut adalah contoh bagaimana melakukan kejahatan dapat menghasilkan karma buruk dalam kehidupan ini.

Pada tahun 2006, The Epoch Times mewawancarai mantan istri ahli bedah Tiongkok, Annie – nama samara – yang mengungkapkan bahwa mantan suaminya telah terlibat dalam pengambilan paksa kornea mata dari 2000 praktisi Falun Gong di kamp konsentrasi Sujiatun di Tiongkok Timur Laut.


Mantan istri ahli bedah otak Tiongkok, Annie, berbicara pada konferensi pers dan rapat umum di McPherson Square pada 20 April 2006 (© The Epoch Times)

Untuk diketahui Falun Gong adalah latihan meditasi berdasarkan prinsip-prinsip “Sejati-Baik-Sabar,” tetapi telah dilarang oleh rezim komunis Tiongkok sejak pertengahan tahun 1999 karena kepopulerannya.   

Mantan suami Annie adalah seorang ahli bedah otak. Annie menceritakan bahwa mantan suaminya itu  membawa ponsel setiap waktu. Setiap saat, siang atau malam berdering, mantan suaminya itu segera pergi untuk mengeluarkan kornea mata dari lebih banyak lagi praktisi Falun Gong. Para praktisi itu masih dalam kondisi hidup pada saat pengambilan.

Annie, meskipun tidak terlibat langsung dengan kejahatan mengerikan dalam mengeluarkan kornea mata dari orang yang masih hidup itu, mengatakan dia dan anggota keluarganya memiliki banyak pengalaman hidup yang mendatangkan kehancuran setelah suaminya mulai melakukan kegiatan pengambilan kornea.

Dia mengatakan bahwa karma yang dilakukan oleh seorang anggota keluarga kemudian dapat mengumpulkan lebih banyak karma untuk keluarganya, dan mereka semua dapat berakhir dalam penderitaan.

“Awalnya, mantan suami saya hanya mengatakan dia ingin mencari pekerjaan lain. Saya sangat terkejut.  Mengapa? Kita memiliki kehidupan yang baik di Sujiatun,” kata Annie.

Menurut Annie, mantan suaminya itu benar-benar ahli bedah otak yang berbakat. Banyak kepala rumah sakit menginginkan dia bekerja di rumah sakit mereka.

“Dia pintar. Dia tahu cara mendapatkan uang,’ kata Annie.

Dokter Tiongkok melakukan transplantasi organ. (© Video Screenshot | Harvested Alive -10 Years Investigation of Force Organ Harvesting)

Annie telah memperhatikan suaminya mulai menjadi linglung, dan tidak bisa tidur di malam hari.

“Secara bertahap, dia mulai berkeringat di malam hari dan mengalami mimpi buruk. Ketika dia bangun, sprei telah basah dengan keringatnya. Saya bertanya kepadanya apakah pekerjaannya terlalu membuat stress,” cerita Annie.

Saat itulah dia bercerita tentang perannya dalam membunuh para praktisi Falun Gong untuk diambil organ-organnya.

“Mantan suami saya tahu mereka adalah praktisi Falun Gong. Setiap ahli bedah tahu itu. Pada saat itu, mereka diberitahu bahwa menganiaya Falun Gong tidak dianggap sebagai kejahatan. Sebaliknya, itu adalah pembersihan demi Partai Komunis Tiongkok,” kisah Annie.

Annie menuturkan lebih lanjut, mereka yang ada di meja operasi hancur secara mental atau kehilangan kesadaran. Sasaran utama pengambilan kornea adalah orang tua dan anak-anak.

“Akhirnya, aku tidak bisa mentolerir lagi,” tutur Annie.

Dia benar-benar telah melakukan pengambilan kornea … Orang-orang yang berada di meja operasi tidak sadar. Mereka hidup. Dia mengetahuinya setelah menjalankan beberapa. Bagaimana mungkin ada begitu banyak orang yang menyumbangkan kornea mata mereka?

Pintu masuk ke Kamp Konsentrasi Sujiatun dan peta wilayah (© The Epoch Times)

Ke mana organ-organ tersebut dan mayatnya dikirim, dia tidak pernah bertanya.

“Dia sangat gugup saat mengemudi. Dia tidak bisa hidup normal,” kenang Annie. Dan operasi tidak berhenti pada pencopotan kornea, organ-organ vital lainnya juga diambil.

“Saya bercerai karena itu. Jika itu urusan di luar nikah, mungkin saya masih bisa menoleransinya. Fakta bahwa dia bisa memberi tahu saya ini menunjukkan bahwa dia masih memiliki sedikit nurani. Jika dia tidak memberi tahu saya, saya tidak akan percaya. Dia mengatakan ini padaku dengan mulutnya sendiri. Tidak ada yang akan mengatakan bahwa dia telah melakukan sesuatu seperti ini,” jelas Annie.

Ketika tekanan Partai Komunis Tiongkok mulai meningkat tentang penganiayaan brutal mereka terhadap praktisi Falun Gong, dokter bedah yang sangat gelisah hatinya itu menjadi lebih takut.

“Mantan suamiku juga khawatir bahwa suatu hari nanti dia akan dibunuh dengan tujuan untuk menghancurkan bukti. Jadi dia pergi ke luar negeri. Orang lain tahu dia tidak akan berani berbicara,” tutur Annie.

Ilustrasi – The Epoch Times

Menurut Annie, memilih antara yang benar dan yang salah adalah sesuatu yang kita semua hadapi terus-menerus, dan memilih untuk melakukan kejahatan seperti ini pasti membawakan Anda karma berat dan pembalasan.

“Antara hidup dan uang, beberapa orang memilih uang. Setelah saya mengetahui hal ini, saya memberi tahu mantan suami saya, ‘Seluruh hidupmu telah hancur. Kamu tidak akan bisa lagi memegang pisau bedah. Saat kamu melakukan operasi untuk orang, kamu akan mengingat hal-hal yang kamu lakukan di masa lalu.””

“Saya bukan ahli bedah. Meski begitu, setiap kali saya berbicara tentang ini, saya gemetar dan takut.”

“Siapa pun yang telah melakukan hal semacam ini merasakan beban rasa bersalah,” tambahnya.

Meskipun Annie tidak berlatih Falun Gong, Annie tampil untuk mengungkapkan kekejaman ini kepada dunia, karena mengeksposnya akan menghalangi tindakan jahat ini. (epochtimes/ran/rp)

Untuk informasi lebih lanjut, tonton film dokumenter pendek ini dari Swoop Films.

Share

VIDEO POPULAR