Amerika Serikat secara terbuka menyerukan larangan kepada negara-negara Barat dan lainnya menggunakan produk Huawei dan peralatan komunikasi Tiongkok lainnya
Alasannya, Amerika Serikat khawatir produk-produk teknologi Huawei digunakan sebagai kegiatan spionase dan mencuri data. Hal itu tentu berdampak kepada terancamnya keamanan nasional.

Apakah dianggap berlebihan jika negara Barat menolak menggunakan ponsel Huawei? Apa risiko keamanan tersembunyi dalam ponsel buatan Tiongkok itu?

Untuk mengetahuinya, simak informasi berikut ini.

Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence pada 17 Februari 2019 mengatakan, Amerika Serikat menyerukan kepada semua mitra keamanan untuk tetap waspada terhadap ancaman dari Huawei, serta perusahaan telekomunikasi Tiongkok lainnya.

Pasalnya peraturan pemerintah Komunis Tiongkok mengharuskan perusahaan-perusahaan Tiongkok menyediakan informasi yang terpapar melalui jaringan dan perangkatnya kepada lembaga keamanan Beijing.

Amerika Serikat kembali secara terbuka meminta semua negara di dunia untuk memblokir Huawei. Dunia luar menganalisis bahwa perang perdagangan Amerika Serikat melawan Tiongkok telah beralih ke perang ilmu pengetahuan dan teknologi. “Pedang” di tangan pemerintahan Trump yang sedang diarahkan ke Huawei, semakin jelas.

Menurut Sun Qinglong, seorang pakar keuanga, Huawei tidak berdaya untuk menolaknya, karena pengaruh dari tangan rezim Komunis Tiongkok yang sudah masuk ke dalam perusahaan.

Jadi, pejabat daratan Tiongkok ingin menggunakan perang informasi untuk mengendalikan suatu negara. Peralatan Huawei sesungguhnya telah menyediakan alat potensial yang sangat bagus, dengan memanfaatkan peralatan potensial tersebut. Pintu belakang diatur pada saat pengiriman, sehingga perangkat lunak tambahan apa pun tidak mampu untuk mendeteksi status “pintu belakangnya”.

Ren Zhengfei, pendiri Huawei dalam wawancaranya dengan media asing baru-baru ini mengklaim bahwa ia yakin Amerika Serikat tidak dapat membunuh Huawei. Namun, ia enggan menjelaskan lebih banyak mengenai hubungannya dengan militer komunis Tiongkok.

Li Zhongxian, pakar keamanan modal dan dosen Universitas Chengdu mengatakan bahwa Huawei bukan perusahaan yang terdaftar di pasar modal. Sumber dana dan struktur pemegang saham perusahaan tersebut tidak transparan. Pendiri perusahaan, Ren Zhengfei berasal dari keluarga anggota militer komunis Tiongkok.

Ada sejumlah kekuatan Partai Komunis Tiongkok yang berada dalam perusahaan tersebut. Huawei disamakan dengan kediktatoran informasi Partai Komunis Tiongkok sudah tidak asing lagi bagi masyarakat internasional.

Menurut Li Zhongxi, Komunis Tiongkok pada dasarnya menggunakan kecerdasan buatan atau perkembangan teknologi baru ini dalam kediktatoran teknologi informasi untuk memantau rakyat mereka sendiri.
Komunis Tiongkok memantau rakyatnya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi baru, dan dunia luar khawatir dengan pencurian informasi dari pengguna ponsel buatan Tiongkok karena ada kekuatan komunis di belakangnya.

Lembaga penelitian akademik Taiwan TWISC membuat laporan uji 5 ponsel tahun lalu dengan 3 di antaranya adalah ponsel buatan Tiongkok, 1 ponsel buatan Taiwan dan 1 lagi ponsel buatan Korea Selatan.

Hasil penelitian menemukan, ponsel buatan Taiwan dan Korea Selatan hanya informasi dasar dari pabrik asli yang dikembalikan. Berbeda dengan ponsel buatan Tiongkok yang tidak hanya mengembalikan informasi dasar dari pabrik tetapi mengirimkan ‘kunci’ yang digunakan untuk melindungi keamanan sistem.

3 ponsel buatan Tiongkok juga telah terdeteksi disertai dengan aplikasi yang tidak biasa. Bahkan 1 ponsel di antaranya yang bermerk “O” dapat membaca sms pengguna dan catatan panggilan. Ponsel bermerek “X” lainnya, ketika ada sms atau panggilan masuk, ia akan mengirim data langsung ke host pabrikan.

Lin Yingda, seorang profesor dari National Chiao Tung University, Taiwan mengatakan bahwa sistem operasi Huawei sendiri akan mengumpulkan data pengguna untuk dikirim keluar. Dari perspektif sistem, tidak ada masalah untuk mengumpulkan seluruh informasi yang ada dalam ponsel untuk dikirim keluar. Sistem operasi itu yang melakukan sendiri, pengguna tidak berdaya untuk mencegahnya.

“Jika Anda berkomunikasi dengan seseorang yang memiliki telepon seluler seperti itu, kemungkinan informasi yang dibagikan dengannya akan diterima pula oleh Tiongkok,” kata Li Zhongxian.

Tahun 2019 dianggap sebagai tahun pertama 5G. Teknologi 5G mampu memberikan kecepatan pengunduhan yang lebih tinggi dan menghubungkan lebih banyak perangkat kecerdasan buatan. Hal itu juga berarti bahwa saluran ancaman dan serangan juga semakin bertambah banyak.

Rob Strayer, seorang pejabat senior kebijakan luar negeri Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa komunis Tiongkok dapat menggunakan pengaruh Huawei pada jaringan 5G untuk mencuri triliunan dolar kekayaan intelektual atau dengan sengaja menanamkan perangkat lunak berbahaya ke dalam jaringan lawan. Ketika konflik politik terjadi, beberapa jaringan ditutup.

Di sisi lain Sun Qinglong, pakar keuangan mengatakan bahwa demi kepentingan 5G, teknologi inti dari daya saing suatu negara di masa depan adalah pembangunan 5G memungkinkan suatu negara untuk mengembangkan kecerdasan buatan dan mengembangkan perangkat Internet untuk segala.

Itu letaknya di persimpangan antara 4G dan 5G. Saat ini, Amerika Serikat turun tangan menghalangi pada waktu yang tepat dan bahkan meminta beberapa negara untuk memihaknya.

Media asing melaporkan bahwa Presiden Trump akan menandatangani perintah administrasi baru untuk memblokir perusahaan-perusahaan Tiongkok seperti ZTE dan Huawei memasuki pasar 5G Amerika Serikat.

Beberapa analis menunjukkan bahwa setelah larangan itu diterapkan, itu akan sama dengan mendorong negara sekutunya untuk memblokir perangkat telekomunikasi Tiongkok demi pengamanan informasi di era 5G. (epochtimes/sin/rp)

Share

VIDEO POPULAR