Aktivis Uighur di luar negeri baru-baru ini meluncurkan kampanye “Me too Uyghur” atau “Saya juga orang Uighur” lewat media sosial. Banyak warga Uighur mulai menanggapinya dan menyerukan pihak berwenang Tiongkok untuk mengumumkan keberadaan kerabat mereka yang hilang dan yang ditempatkan dalam “kamp pendidikan ulang.” 

Menurut laporan Radio Free Asia pada 12 Februari 2019, Asosiasi Bantuan Uighur atau Uyghur Aid meluncurkan kampanye ‘Me too Uyghur’ di media sosial Facebook dan Twitter pada 11 Februari 2019.

Kampanye permintaan warga Uighur luar negeri untuk memaparkan kondisi para tahanan melalui rekaman video atau foto-foto para kerabat yang hilang atau disandera pihak berwenang Tiongkok. Juga menuntut pihak berwenang Tiongkok untuk mengumumkan kondisi para tahanan.

Ketua Asosiasi Bantuan Uighur, Halmurat Harri mengatakan bahwa setelah menonton video “Kebangkitan” dari musisi Uighur Abdurehim Heyit yang dirilis oleh pihak berwenang Tiongkok pada 10 Februari 2019 yang lalu, muncul ide untuk meluncurkan kampanye itu.

Harri berharap bahwa gerakan itu akan memberikan tekanan kepada otoritas Beijing untuk membebaskan semua tahanan yang relevan.

“Kita semua adalah manusia, kita semua memiliki hak asasi manusia, kita memiliki hak untuk menghubungi keluarga kita, dan kita memiliki hak untuk bersatu kembali dengan keluarga kita,” kata Harri.

Halmurat Harri mengatakan, ia adalah penduduk asli Turpan di Xinjiang yang meninggalkan rumah untuk bersekolah di luar pada tahun 2003.

Harri tiba di Finlandia sepuluh tahun yang lalu. Saat ini Harri sudah berprofesi sebagai dokter dan praktik di Finlandia.

Ibu dan ayahnya dibawa ke “kamp pendidikan ulang” masing-masing pada bulan April 2017 dan Januari 2018. Setelah itu kontak dengan mereka terputus. Mereka baru dibebaskan sebelum Natal tahun lalu dan sampai saat ini masih dalam tahanan rumah. Setelah orang rumahnya ditangkap, Harri memutuskan untuk menjadi aktivis.

Setelah berita tentang kematian musisi Uighur Abdurehim Heyit dalam “kamp pendidikan ulang” komunis Tiongkok tersebar, pemerintah Turki untuk pertama kalinya mengutuk keras penahanan ilegal jutaan warga Uighur oleh otoritas Tiongkok.

Turki menuntut pihak berwenang menutup “kamp pendidikan ulang. Turki juga menyerukan kepada Perserikatan Bangsa Bangsa untuk mengambil tindakan mengakhiri tragedi kemanusiaan itu sesegera mungkin.

Malam hari berikutnya, media corong Partai Komunis Tiongkok menerbitkan sebuah video di Twitter yang menunjukkan seorang pria yang mengaku sebagai Heyit dan mengatakan bahwa dirinya sehat-sehat saja.

Pada hari yang sama, Kedutaan Besar Tiongkok di Turki mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa Heyit yang mantan aktor dari rombongan seni Xinjiang ditangkap karena melakukan tindakan yang membahayakan keamanan negara.

Sekarang Heyit berada dalam kondisi sehat, berbeda dengan isu yang beredar bahwa Heyit sudah meninggal dunia.

Namun, organisasi hak asasi manusia internasional dan warga Uighur menyatakan keraguan tentang keaslian video itu.

Menurut laporan, kampanye ‘Me too Uyghur’ telah menerima tanggapan dari masyarakat luas. Ratusan orang telah memposting video atau foto di Twitter atau Facebook. Banyak dari mereka memegang foto kerabat yang hilang dan label bertuliskan ‘Me too Uyghur’ dan menuntut pihak berwenang untuk mengungkapkan keberadaan keluarga-keluarga mereka itu.

Di antara mereka, ada Arslan Hidayat, seorang warga Uighur di Turki. Arslan mengatakan dalam sebuah video yang diposting di Facebook pada 11 Februari 2019 yang lalu, bahwa ia adalah menantu dari komedian terkenal Uighur yang bernama Adil Mijit. Ayah mertuanya itu telah hilang pada 2 November 2018 dan hingga kini belum ada beritanya.

“Jika pihak berwenang memiliki keberanian, tolong publikasikan video tentang kondisi ayah mertua saya dan jutaan tahanan etnis Uighur lainnya,” katanya.

Arslan juga berharap netizen dari semua negara dapat meneruskan kampanye ini dan membiarkan komunitas internasional tahu lebih banyak tentang petaka yang sedang dihadapi warga Uighur di Xinjiang.

Patrick Poon, seorang peneliti Tiongkok di Amnesty International mengatakan kepada Suara Jerman bahwa kampanye itu adalah gerakan spontan yang sangat kuat bagi komunitas Uighur.

Patrick percaya bahwa karena kampanye itu ditanggapi oleh sebagian besar orang Uighur hanya dalam satu hari, berarti banyak orang Uighur sudah mulai dapat mengatasi rasa ketakutan mereka. Mereka juga bersedia untuk berbicara secara terbuka tentang nasib kerabat mereka yang ditahan oleh otoritas komunis Tiongkok.

Patrick menekankan, mereka dapat secara terbuka membagi pengalaman kehilangan kontak dengan sanak keluarganya, untuk menandingi apa yang pemerintah Komunis Tiongkok canangkan sebagai “pelatihan kejuruan” bagi warga Uighur.

Jika lebih banyak warga Uighur secara terbuka mendukung orang yang mereka cintai, pihak berwenang Tiongkok pasti akan merasa lebih tertekan. Menurut Patrick, itu juga akan mendorong negara lain untuk membantu menekan Komunis Tiongkok. (epochtimes/sin/rp)

Share

VIDEO POPULAR