Warga Muslim Uighur menyerukan pada Komunis Tiongkok untuk memposting video-video terkait keluarga mereka yang menghilang di dalam kamp-kamp penahanan.

Kecemasan warga Uighur terhadap keselamatan keluarganya merebak. Salah satunya sebagai buntut dari meninggalnya musisi terkenal Uighur, Abdurehim Heyit, di dalam tahanan beberapa waktu lalu.

Kampanye media sosial pun muncul dengan  diluncurkan kampanye dengan hastag #MeTooUighur. Hal itu dilakukan setelah keluarnya video di media pemerintah yang memperlihatkan musisi terkenal Uighur, Abdurehim Heyit, meninggal di dalam tahanan.

“Tiongkok, tunjukkan pada kami video-video mereka kalau mereka masih hidup!” tulis Halmurat Harri, seorang aktivis Uighur yang berbasis di Finlandia, di akun Twitternya.

Harri mendesak rezim Tiongkok juga mengeluarkan video-video lain untuk membuktikan agar orang percaya bahwa para tahanan dalam keadaan sehat. Pasalnya banyak laporan-laporan tentang kondisi tahanan yang ditelantarkan dan kadang mendapat tindakan brutal di dalam kamp-kamp penahanan.

Rezim Tiongkok melakukan pengawasan ketat di kamp-kampnya, yang menampung sekitar 1 juta Muslim minoritas di wilayah barat jauh Xinjiang.

Para mantan tahanan yang melarikan diri ke luar negeri member kesaksian bahwa ketika ditahan, mereka dipaksa melepaskan keyakinan agama mereka dan berjanji setia kepada Partai Komunis yang berkuasa. Metodenya melalui cara-cara indoktrinasi yang mengingatkan pada Revolusi Kebudayaan.

Kamera-kamera pengintai, pos-pos pemeriksaan keamanan dan polisi anti huru hara ada dimana-mana di setiap penjuru Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir.

Komunis Tiongkok  menghadapi tekanan internasional yang terus meningkat karena terus-menerus menggunakan alasan memerangi terorisme dan radikalisasi untuk menganiaya umat Islam Uighur.

Dalam sebuah sebuah tayangan kritik terbuka yang jarang dilakukan dari sebuah negara mayoritas Muslim, Turki menyebut perlakuan Tiongkok terhadap warga Uighur tersebut sebagai penghinaan besar bagi umat manusia.

Mengutip laporan-laporan kematian Heyit, kementerian luar negeri Turki mengutuk kamp-kamp konsentrasi dan asimilasi sistematis yang menjadikan umat Muslim Turk di Xinjiang sebagai sasaran.

Banyak orang Uighur di luar Tiongkok mengatakan mereka tidak dapat menghubungi keluarga yang masih tinggal di Xinjiang. Mereka khawatir, orang-orang yang mereka cintai telah terjerat jaring pengamanan Komunis Tiongkok. Mereka bahkan tidak tahu apakah anggota keluarga mereka sudah meninggal atau masih hidup.

Informasi lainnya menyebutkan, menurut warga Uighur, hanya sekadar melakukan komunikasi dengan seseorang di luar negeri dapat mengakibatkan penahanan.  Akibatnya banyak keluarga Uighur di Tiongkok memblokir diri di media sosial.

Di Twitter, orang-orang Uighur di luar negeri memposting foto diri mereka yang sedang memegang foto orang tua, anak, dan saudara kandung mereka yang hilang.

Postingan itu menyebutkan bahwa jika keluarga mereka masih hidup, pemerintah Komunis Tiongkok  juga harus mengeluarkan video-video tentang mereka. (epochtimes/ran/rp)

Share

VIDEO POPULAR