Dua hari sebelum akhir Desember 2017 silam, sembilan orang telah tewas di sebuah lokasi penambangan di Ngoe Ngoe, Kamerun. Lokasi adalah sebuah desa dengan lebih dari 2.500 penduduk di Wilayah Timur Kamerun.  Media lokal melaporkan bahwa insiden itu memakan korban tewas.

Lokasi kejadian adalah pertambangan milik Lu & Lang,  sebuah perusahaan pertambangan dari Tiongkok. Perusahaan itu sudah menghentikan operasinya dan membiarkan lubang-lubang bekas-bekas galian penambangannya tidak ditimbun. Hal itu mengabaikan risiko besar yang bisa ditimbulkan bekas galian itu. Lubang-lubang itu menjadi semacam “kuburan-kuburan” yang membahayakan warga setempat.

Banyak warga,  pria dan wanita yang tewas di dalam lubang ‘gua’ galian itu. Mereka ke lokasi dengan harapan menemukan beberapa emas yang tersisa.

Menurut Mada Michel, walikota Ngoura wilayah Ngoe Ngoe, sebelumnya perusahaan Lu & Lang telah berulang kali meninggalkan lokasi tambang dalam kondisi yang tidak aman, yang menyebabkan kematian.

Perusahaan-perusahaan pertambangan Tiongkok mengabaikan pedoman keselamatan hanyalah salah satu dari banyak kesengsaraan yang disebabkan oleh penambangan di wilayah itu.

Organisasi masyarakat sipil setempat mengatakan jumlah korban tewas akibat eksploitasi mineral ilegal dan praktik-praktik penambangan yang tidak berkelanjutan mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Sekitar tiga tahun yang lalu, empat orang diduga tewas dengan cara yang sama ditemukan di lokasi yang sama di Ngoe Ngoe.

Kode penambangan Kamerun menetapkan bahwa perusahaan pertambangan bertanggung jawab untuk menimbun lubang setelah operasi.

Hal itu mewajibkan perusahaan penambangan saat meninggalkan lokasi tambang, harus dalam kondisi yang aman sehingga tidak menimbulkan ancaman. Namun, perusahaan-perusahaan pertambangan, yang kebanyakan dari Tiongkok, seperti Lu & Lang, membiarkan lubang-lubang terbuka. 

Penduduk setempat mencari bintik-bintik batu permata di lubang penambangan yang ditinggalkan oleh perusahaan pertambangan Cina di Betare-Oya. (Amindeh Blaise Atabong untuk The Epoch Times)

Para aktivis masyarakat sipil mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan Tiongkok lolos jeratan peraturan dan mengabaikan peraturan karena dua alasan utama.

Perusahaan itu membayar suap besar kepada para pejabat, dan beberapa orang Kamerun yang berpengaruh memiliki saham di perusahaan-perusahaan itu.

Para aktivis juga mencurigai rezim komunis Tiongkok telah mengancam melalui negosiasi pribadi. Pasalnya, Tiongkok adalah mitra utama dengan Kamerun, telah memberi negara tersebut banyak pinjaman dan hibah.

Praktik Pertambangan Mematikan

Data statistik oleh organisasi lingkungan nirlaba Forêts et Développement Rural atau FODER menyebutkan bahwa antara tahun 2017 dan 2018, tidak kurang dari 100 orang telah tewas di lubang-lubang tambang yang dibiarkan tidak ditimbun.

FODER  mengatakan ada lebih dari 250 lubang penambangan yang ditinggalkan sejak tahun 2012 yang belum ditimbun.

Beberapa lubang-lubang terbuka, sedalam 80 meter dan terisi air yang menggenang. Kondisi itu bisa menimbulkan risiko fatal bagi warga setempat, terutama anak-anak yang bermain di sekitarnya dan hewan-hewan ternak.

Para penambang lokal juga berisiko terkubur di lubang saat  mereka berupaya menemukan sisa-sisa emas yang tertinggal.

Seekor sapi terjebak di lumpur di Ngoe Ngoe, Kamerun. Kegiatan penambangan Tiongkok membuat aliran sungai tersumbat lumpur, dan dalam beberapa kasus sungai dialihkan untuk melayani situs-situs pencucian emas. (Solomon Tembang)

Seorang ibu warga Ngoyla, Soweiya Audrey, berusia 30 tahunan, mengatakan hidupnya tidak pernah sama sejak dia kehilangan suaminya pada tahun 2017.

“Suamiku pergi untuk berburu pada suatu malam dan tidak pernah kembali,” katanya.

Ibu itu sudah mencarinya hampir dua minggu sebelum menemukan mayatnya dalam kondisi membusuk di salah satu lubang penambangan yang ditinggalkan oleh sebuah perusahaan Tiongkok. Mayatnya ada di sepanjang jalan setapak yang tertutup semak belukar.

Tragedi itu adalah untuk ketiga kalinya Audrey kehilangan anggota keluarga. Sebelumnya Audrey kehilangan dua sepupunya pada tahun yang sama dalam kondisi yang sama.

“Saya mengalami gangguan mental dan fisik pada tahun itu. Sejak saya pulih, kekhawatiran saya adalah harus mengurus anak-anak saya sendirian. Hidup bagi saya sangat sulit dan saya berjuang untuk bertahan hidup,” katanya.

Kisah tragis seperti dialami Audrey itu biasa terjadi. Haman Baba, yang tinggal di Mungonam di pinggiran Batouri, menggambarkan kematian putra satu-satunya sebagai hal terburuk yang pernah terjadi padanya.

Anak laki-lakinya bermain di dekat sebuah lubang terbuka ketika dia jatuh dan tenggelam.

Aktivitas-aktivitas perusahaan tambang Tiongkok telah membuat daerah perumahan yang sebelumnya aman menjadi rentan terhadap bahaya.

Perusahaan-perusahaan itu menggunakan ekskavator untuk menggali lubang-lubang dalam yang menjadikan rumah-rumah yang terletak di sekitar tepinya longsor dan berisiko runtuh.

Para aktivis masyarakat sipil mengatakan ketika penduduk lokal mengeluh tentang hak-hak mereka dan sumbangan dana abadi yang bermanfaat untuk masyarakat, jelas telah dilanggar oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok. Sementara pemerintah Kamerun mengabaikan masalah itu.

Akhirnya pada bulan April 2018, Menteri Pertambangan, Industri, dan Pengembangan Teknologi Kamerun menjatuhkan sanksi kepada tiga perusahaan Tiongkok. Tiga perusahaan itu adalah Hong Kong, Peace Mining, dan Lu & Lang.

Ketiganya dilarang melakukan kegiatan penambangan emas dan para pejabatnya diperintahkan untuk meninggalkan wilayah itu.

Peace Mining dan Lu & Lang didakwa atas degradasi lingkungan serta konflik-konflik mematikan yang terjadi berulang dengan penduduk setempat yang dipicu oleh para karyawan perusahaan-perusahaan Tiongkok itu.

Untuk bagiannya, perusahaan Hong Kong bahkan tidak memiliki izin untuk melakukan kegiatan-kegiatan penambangan.

Meskipun ada sanksi, Media The Epoch Times mengetahui bahwa beberapa dari perusahaan yang telah dihentikan tersebut, ternyata masih terus beroperasi.

Konfrontasi dengan Kekerasan

Rasa permusuhan atas masalah “kuburan-kuburan terbuka” antara perusahaan-perusahaan pertambangan Tiongkok dengan penduduk setempat, terjadi dalam jumlah besar di daerah-daerah yang kaya akan sumber daya mineral.

Menurut Justin Landry Chekoua, manajer proyek senior untuk Proyek Pertambangan, Lingkungan, Kesehatan & Masyarakat di FODER, para penambang Tiongkok secara teratur mengusir para penambang lokal yang telah menemukan emas. Hal itu sering menyebabkan konflik-konflik yang mematikan.

Kurang dari dua tahun yang lalu, lokasi penambangan Betare-Oya menjadi pusat konfrontasi dengan kekerasan antara para penambang Tiongkok dengan penduduk setempat.

Setelah gagal memaksa beberapa penduduk setempat untuk meninggalkan lokasi tambang, seorang pria Tiongkok mengambil pistol dari mobilnya dan menembak salah satu penduduk setempat. Dia  telah membunuhnya.

Sebagai pembalasan, orang-orang di tempat kejadian menerkam pria Tiongkok tersebut dan melemparinya dengan batu sampai tewas.

Sebelum perusahaan-perusahaan pertambangan Tiongkok muncul sekitar tahun 2000, kehidupan di daerah pertambangan di Wilayah Timur Kamerun itu, tenang dan damai.

Warga setempat menambang di tanah yang mereka warisi dari nenek moyang mereka menggunakan peralatan sederhana.

Justin Landry Chekoua mengatakan, Tiongkok datang karena keputusan pemerintah untuk menemukan lagi emas di daerah Bendungan Lom Panga sebelum lokasi dibangun. Sejumlah besar emas akan dibanjiri oleh perairan bendungan, sehingga pemerintah mengizinkan penambangan semi-industri di daerah tersebut.

Warga negara Kamerun adalah satu-satunya yang diizinkan oleh hukum untuk memiliki izin penambangan. Namun karena mereka tidak memiliki kemampuan teknis yang diperlukan, mereka diizinkan untuk mengadakan perjanjian dengan perusahaan-perusahaan asing.

“Boro-boro menjalin kemitraan, kebanyakan orang Kamerun mendapatkan kuasa otorisasi dan menjualnya kepada perusahaan asing, sebagian besar dari mereka berasal dari Tiongkok,” kata Chekoua.

Chekoua menambahkan bahwa beberapa perusahaan Tiongkok sekarang menggunakan kartu identitas untuk menunjukkan berasal dari karyawan-karyawan setempatnya untuk mendapatkan izin.

Ketika perusahaan-perusahaan Tiongkok menambang emas bernilai miliaran franc CFA, yakni mata uang Afrika Barat, komunitas-komunitas sekitar sungai dibiarkan begitu saja.

Selain bahaya yang ditimbulkan oleh lubang-lubang yang terbengkalai, penduduk setempat adalah korban dari penggunaan dan tertinggalnya sisa-sisa bahan-bahan kimia penambangan di tanah tersebut, menjadikannya tidak subur.

Kerusakan lahan pertanian dan hutan juga menjadi masalah. Selain itu, genangan air yang terakumulasi di dalam lubang melahirkan nyamuk, yang menyebarkan malaria.

Bernard Ngalim, seorang spesialis hak asasi manusia dan hak lingkungan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa penambang-penambang asing, termasuk Tiongkok, melanggar dengan tanpa mempedulikan hak-hak lingkungan, sosial, dan politik masyarakat.

“Mereka tidak membayar royalti yang sesuai. Mereka tidak menyatakan jumlah emas yang diproduksi. Mereka menodai tempat-tempat pemujaan dan pemakaman tradisional dan menggunakan pasukan keamanan pemerintah untuk mengintimidasi dan melecehkan orang-orang,” katanya.

Di bawah undang-undang hak-hak asasi nasional dan internasional, pemerintah memiliki kewajiban untuk melindungi warga negara dari semua bentuk pelecehan. Namun orang-orang Tiongkok telah menemukan cara untuk mengalahkan sistem tersebut. Mereka sering mengatakan kepada pemerintah setempat bahwa, “kami berurusan langsung dengan Yaoundé atau ibukota.”

Ngalim mengatakan Kamerun harus melihat dengan seksama cara sektor pertambangan diatur dan melakukan perubahan.

Upaya untuk mewawancarai beberapa perusahaan pertambangan Tiongkok sia-sia. Mereka yang telah menjawab panggilan telpon segera menutup telepon begitu topik tersebut disebutkan. Kedutaan Tiongkok di Yaoundé juga tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar soal kasus itu. (epochtimes/ran/rp)

Share

VIDEO POPULAR