Ilham Tohti, seorang dari  etnis Uighur dicalonkan oleh dua anggota kongres Amerika Serikat meraih penghargaan bergengsi Hadiah Nobel Perdamaian.

Ilham Tohti adalah seorang ekonom, penulis, dan professor yang dipenjara oleh rezim Komunis Tiongkok. Tohti  telah berjuang memajukan saling “pengertian dan keharmonisan” antara etnis Han Tiongkok dan Muslim Uighur di Tiongkok.

Anggota Parlemen itu adalah Chris Smith dan Senator Marco Rubio menominasikan Tohti pada Rabu, 30 Januari 2019 yang lalu. Smith dan Rubio pernah menjabat sebagai ketua Congressional-Executive Commission on China bipartisan atau Komisi Eksekutif Kongres Urusan Tiongkok.

Smith dan Rubio bekerja bersama dalam menulis surat untuk nominasi Tohti. Sekelompok anggota parlemen dua partai dan bikameral telah menandatangani surat itu.

“Ilham Tohti pantas menerima Hadiah Nobel Perdamaian, bukan hukuman penjara,” kata Smith.

Menurut Smith, Tohti telah mengabdikan hidupnya untuk membina hubungan damai antar komunitas etnis di Tiongkok. Faktor itulah yang menyebabkan Tohti dijebloskan ke penjara dan disiksa. Keluarga Tohti juga terancam dan hancur secara finansial.

Smith menggambarkan tindakan Partai Komunis Tiongkok  di wilayah Xinjiang tersebut sebagai “menjijikkan,” karena Komunis Tiongkok  telah menghancurkan budaya Uighur dan agama Muslimnya.

Smith juga mengutuk Komunis Tiongkok  karena berusaha mengasimilasi lebih dari satu juta Uighur melalui kamp-kamp “pendidikan ulang politik.”

Sementara pemerintah Tiongkok telah menciptakan perpecahan dan keputusasaan, Ilham Tohti berusaha mempromosikan rekonsiliasi dan toleransi secara damai; untuk ini dia layak menerima Hadiah Nobel Perdamaian.

 “Perjuangannya penting dan harus diakui sekarang lebih dari sebelumnya,” kata Smith.

Rubio juga mengkritik Komunis Tiongkok  karena menahan jutaan orang Uighur. Menurut Rubio, pencalonan itu tidak boleh lewat dari waktu yang tepat karena pemerintah Tiongkok dan Partai Komunis terus-menerus melakukan pelanggaran HAM berat.

Sebuah surat yang ditujukan kepada komite Hadiah Nobel Perdamaian menyatakan kalau Tohti secara tidak adil telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena tuduhan “separatisme,” oleh pengadilan di Xinjiang pada September 2014 silam.

Dalam  surat tertulis, “Perjuangan yang berani dari Profesor Tohti telah mewujudkan dengan tepat jenis wawasan dan bimbingan tentang masalah antar etnis yang harus dianut oleh para pejabat Tiongkok yang, sebaliknya, telah memilih untuk membungkam Profesor Tohti.”

Dengan kamera pengintai keamanan yang diletakkan di atas podium dosen, profesor universitas, blogger, dan anggota minoritas Muslim Uighur, Ilham Tohti memberikan ceramah di sebuah ruang kuliah di Beijing pada 12 Juni 2010. (FREDERIC J. BROWN / AFP / Getty Images)

Tohti dan Xinjiang

Sebelum penangkapannya, Tohti telah bekerja di Universitas Minzu Tiongkok di Beijing. Komentarnya dianggap masuk akal, meskipun kritis terhadap kebijakan-kebijakan Komunis Tiongkok  tentang Xinjiang dan Uighur.

Tohti telah dituduh melakukan tindak kejahatan melawan rezim kediktatoran demokratik rakyat dan sistem sosialisnya. Tuduhan itu termasuk “ketidakharmonisan etnis” dan “kekacauan etnis.” Sebuah   definisi yang ditentukan oleh ideologi Partai, daripada hukum.

Terlepas dari tuduhan separatisme, Tohti telah menentang kemerdekaan Xinjiang dan menganjurkan dialog terbuka untuk menyelesaikan ketegangan antara etnis Uighur dan etnis Han.

Tohti sebelumnya mengelola sebuah situs web, menulis esai, dan melakukan wawancara-wawancara dengan media Barat tentang kebijakan Komunis Tiongkok  di Xinjiang. Pasukan keamanan kemudian membawanya kembali ke Xinjiang, di mana ia menerima hukuman seumur hidup.

Propaganda Anti Muslim

Sejak tahun 2014, Komunis Tiongkok  telah meningkatkan tekanan-tekanan pada orang-orang Uighur di Xinjiang. Tekanan memuncak dalam kampanyenya, mulai tahun lalu, menangkap warga secara massal dan menempatkan mereka di kamp-kamp penahanan. Komunis Tiongkok  membenarkan perlakuannya terhadap orang-orang Uighur tersebut sebagai upaya “anti terorisme.”

Pejalan kaki berjalan melewati poster-poster propaganda anti-teroris yang ditempel di sepanjang jalan-jalan di Urumqi, wilayah Xinjiang Tiongkok bagian barat laut, pada 16 September 2014. (GOH CHAI HIN / AFP / Getty Images)

Berita resmi juga mulai mengkritik budaya-budaya Uighur, termasuk pakaian, rambut wajah, dan sekolah keagamaan. Semakin banyak orang Tionghoa Han yang bermigrasi ke wilayah itu, dan beberapa pejabat bahkan memberikan tunjangan-tunjangan untuk menikahi orang-orang Uighur.

Mengingat pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia tersebut, Perserikatan Bangsa Bangsa sedang bersiap untuk memeriksa kamp-kamp pendidikan ulang Xinjiang.

Berdasarkan laporan Epoch Times, para pejabat di Xinjiang berusaha dengan cepat menutupi tindakan mereka di kamp-kamp pendidikan ulang Xinjiang, dengan memaksa para tahanan menandatangani perjanjian kerahasiaan dan mengirim para tahanan ke wilayah lain. (epochtimes/ran/rp)

Share

VIDEO POPULAR