Oleh: Li Xinru

Jumlah penduduk di daratan Tiongkok pada 2018 telah dipublikasikan. Ternyata kaum pria berjumlah 31,64 juta orang. Jumlah itu lebih banyak daripada kaum  wanita. Hal itu membuat warga pria gusar.

Di sisi lain, warganet wanita ramai-ramai mempertanyakan, “Mengapa jumlah pria lebih banyak dibanding jumlah wanita, tapi mereka belum juga mendapat pasangan laki-laki?”

Terkait fenomena itu, baru-baru ini, ada perusahaan memberikan libur tambahan 8 hari untuk memberikan kesempatan para karyawatinya mencari jodoh.

Menjelang liburan tahun baru Imlek pada tanggal 5 Februari 2019 mendatang,  di Tiongkok, ratusan juta warga akan pulang ke kampung halaman masing-masing untuk berkumpul bersama keluarga.

Sebagian karyawati sepertinya lebih ‘beruntung’, karena mengira bisa mendapat libur tambahan sebanyak 8 hari. Syaratnya adalah, harus wanita lajang dan berusia di atas 30 tahun.

Sebuah perusahaan bahkan menyatakan bahwa bagi karyawati yang mendapat surat nikah sebelum tanggal 31 Desember 2019, maka bonus tahunan tahun 2019 akan diberikan dua kali lipat.

Selain itu dua perusahaan di Hangzhou yang terletak di sebuah taman kota memberikan ‘libur cari jodoh’ bagi karyawatinya yang tidak bekerja di lini utama.

Sebelumnya, sebuah sekolah di Hangzhou telah memberikan ‘libur pacaran’ bagi guru-guru wanita yang masih berstatus lajang.

Tekanan sosial dimana kaum wanita didesak untuk segera menikah masih sangat besar. Pemerintah TIongkok khawatir akan masalah penuaan usia penduduk dan berkurangnya angkatan kerja yang kian hari kian serius.

Perlu diketahui bahwa sejak akhir tahun 1979, Partai Komunis Tiongkok telah memberlakukan kebijakan satu anak yang sangat keras. Kebijakan itu mengakibatkan Tiongkok kekurangan kelahiran 400 juta jiwa.

Disamping itu sejak tahun 2016 Partai Komunis Tiongkok mulai menerapkan kebijakan dua anak. Namun belakangan menghadapi masalah realita seperti investasi pendidikan, biaya kesehatan dan rumah tinggal yang begitu mahal. Akibatnya banyak pasangan suami istri yang tetap memiliih untuk memiliki satu anak saja atau bergabung dalam kelompok “DINK” atau Double Income No Kids, yang artinya pendapatan ganda tanpa anak.  

Akademisi: Men-stigma Wanita Lajang, Partai Komunis Tiongkok Alihkan Akibat Kebijakan Satu Anak

Sejak tahun 2007, media massa corong pemerintah yakni Xinhua News Agency dan surat kabar People’s Daily telah berusaha keras mempopulerkan satu kosa kata baru yakni “wanita yang tersisa atau Sheng Nü.”

Sheng Nü adalah kaum wanita berusia di atas 27 tahun yang masih berstatus lajang. Mereka dianggap karena telah mengenyam pendidikan tinggi maka memilih untuk terlambat menikah karena terlalu menuntut kesempurnaan.

Terkait hal itu, Leta Hong Fincher  seorang reporter dari Amerika Serikat hal menulis dua buku berjudul  “Leftover Women” dan “Leftover Women: The Resurgence of Gender Inequality in China”.

BBC memberitakan, menurut teori Leta Hong, cara ini adalah ‘kebijakan propaganda dari rencana pemerintah Beijing’, tujuannya adalah menciptakan ‘stigma buruk’ bagi kaum wanita pada usia tertentu yang masih melajang.

Leta Hong menegaskan itu akibat buruk kebijakan ‘satu anak’ Partai Komunis Tiongkok, yang mengakibatkan hilangnya keseimbangan rasio penduduk antara pria dan wanita. Tujuan utama Partai Komunis Tiongkok adalah melimpahkan kesalahan dari kebijakan satu anak serta serangkaian kebijakan pemerintah lainnya yang gagal total itu menjadi kesalahan kaum wanita tak berdosa itu. Meraka menjadi ‘kambing hitam’ bagi Komunis Tiongkok.

Menurut data statistik kependudukan 2018 versi pemerintah Tiongkok, jumlah penduduk pria adalah 31,64 juta lebih banyak daripada penduduk wanita. Banyak warganet pria berseru: akhirnya ditemukan juga penyebab mengapa kami masih melajang!

Tingkat Kelahiran Menurun, Akademisi: Harga Rumah Jadi “Pil Anti Hamil”  

Tahun 2018, menurut data Partai Komunis Tiongkok hanya ada 15 juta bayi lahir. Angka itu berkurang lebih dari 2 juta bayi dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat kelahiran nasional adalah yang terendah sejak tahun 1949.

Sementara itu menurut peneliti dari Wisconsin University sekaligus penulis buku “Big Country with an Empty Nest” yakni Yi Fuxian bersama dengan Kepala Balai Riset Ekonomi Rakyat dari Beijing University yakni Su Jian menyatakan bahwa jika digunakan struktur usia versi pemerintah, maka tingkat kelahiran seharusnya adalah sekitar 10,3 juta jiwa.

Menurut situs berita finansial JWview, ketua Dewan Direksi Ctrip bernama Liang Jianzhang yang selama jangka waktu panjang mengamati masalah kependudukan pada beberapa waktu lalu saat forum seminar “Statistik Populasi Tiongkok dan Rekomendasi Kebijakan” mengatakan, tiga gunung besar yang menghancurkan angka kelahiran salah satunya adalah harga property. Inilah “pil anti hamil yang sangat penting.”

Terkait hal itu, warganet ramai berkomentar.

 “Rumah, pendidikan dan pengobatan, salah satu dari tiga hal ini bisa menghancurkan satu keluarga.”

“Tidak salah, ini semua akibat harga rumah (properti) yang terlalu mahal!”

“Ini adalah pengalaman pribadi.”

“Siapa berani punya anak! Gaji cuma beberapa ribu, membesarkan anak dari kecil hingga dewasa, masuk perguruan tinggi sampai menikah tidak ada yang mampu, terlalu jauh dari harapan.”

“Siapakah yang yang menggoreng properti menjadi begitu mahal? Berapa banyak pendapatan pemerintah daerah yang didapat dengan mengandalkan menjual properti?”

“Libur Perjodohan” Apakah Efektif?

Penanggung jawab personalia dari sebuah perusahaan seni pertunjukan Hangzhou Songcheng Performing Arts bernama Huang Lei menyatakan pada media Zhejiang Online, “Sejumlah karyawati kami tidak banyak berinteraksi dengan pihak luar, oleh karena itu kami memberikan libur lebih panjang bagi mereka, agar mereka mempunyai lebih banyak waktu dan kesempatan untuk mengenal kaum pria.”

Manajer personalia perusahaan itu juga membenarkan adanya pengumuman itu dan sudah diberlakukan. Namun untuk sementara belum ada karyawati yang mengajukan libur.

Menurut Leta Hong, kebijakan itu tidak akan terlalu efektif. Tindakan itu hanya salah satu dari sekian banyak percobaan dan kebijakan.

“Saat ini semakin banyak kaum wanita di Tiongkok yang semakin tidak mencemaskan soal menikah dan mempunyai anak,” kata Hong.  (epochtimes/sud/whs/rp)

Share

VIDEO POPULAR