Bldaily.id. Anda mungkin tidak terpikirkan bahwa ada sebuah permainan strategi yang dibuat untuk meningkatkan karakter moralitas, akan tetapi menurut legenda Tiongkok, permainan Weiqi (baca: wei jhi) memang diperuntukkan hal demikian. Weiqi lebih dikenal oleh dunia Barat dengan nama Go dari bahasa Jepang, hal ini dikarenakan Bangsa Jepang yang memopulerkannya di Barat.

Ada banyak cerita tentang asal-usul Go. Salah satu versi mengatakan permainan papan bidak ini awalnya digunakan oleh Kaisar Yao (2337–2258 SM) dari Tiongkok, untuk mengajarkan prinsip-prinsip moral kepada putranya, Danzhu (baca:tan chu).

Cara bermain Go, yang dalam bahasa Mandarin berarti “catur pengepungan”, adalah mengambil dan mengisi kotak-kotak kecil berjumlah 19 x 19 di atas papan bujursangkar dengan bidak yang berwarna hitam dan putih, selain itu pemain harus mampu melindungi integritas formasinya sendiri sementara juga melingkari bidak-bidak milik lawan.

Permainan ini hanya memiliki satu jenis bidak, yang disebut batu, dan warnanya terbagi menjadi putih dan hitam untuk membedakan bidak kedua pemain. Permainan Go tampaknya sederhana namun memiliki jumlah kemungkinan strategi yang hampir tak terbatas, serta trik halus yang dapat merebut kemenangan dari genggaman lawan bahkan dalam situasi yang paling tidak mungkin sekalipun.

Go adalah salah satu dari empat seni terbesar Tiongkok kuno, yang lain berupa kaligrafi, lukisan, dan penguasaan instrumen tradisional. Mungkin dikarenakan oleh kedalamannya, permainan Go secara tradisional dikaitkan dengan fenomena langit, strategi militer, pengelolaan urusan negara, dan bahkan ramalan.

Kesabaran dan karakter

Sebagai seorang pemuda, legenda mengisahkan, putra Kaisar Yao Danzhu kurang dalam hal budi pekerti, sehingga ayahnya meminta bantuan makhluk Surgawi. Di tepi Sungai Fen, dia melihat dua makhluk Surgawi sedang asyik duduk saling menghadap satu sama lain di bawah pohon juniper hijau.

Mereka menggambar kotak-kotak kecil di atas pasir dan menaruh butiran hitam dan putih di sepanjang diagram sambil menyusun strategi. Kaisar mendekati mereka dan bertanya bagaimana dia bisa memperbaiki perilaku putranya. Salah satu makhluk surgawi tersebut mengatakan, “Danzhu baik dalam berkompetisi tapi membabi buta. Ambil apa yang dia pandai dan kembangkan karakternya seperti itu.”

Makhluk yang satunya lagi menunjuk pada diagram diatas pasir dan batu-batu kecil. “Ini adalah papan Go,” katanya. “Diagram ini berbentuk persegi dan statis, sedangkan butiran ini berbentuk bulat dan bergerak. Ini mengikuti pola langit dan Bumi. Mulai dari saat kami menciptakan permainan ini, tidak ada yang benar-benar menguasainya.”

Setelah kembali, Kaisar mengajari Danzhu permainan Go dan membuat kemajuan pesat. Orang dahulu menciptakan Go bukan demi menang atau kalah, tapi untuk mengolah karakter (watak), budidaya moralitas dan temperamen, menumbuhkan kebijaksanaan, dan mengekspresikan bakat artistik seseorang.

Suasana mistis menyelubungi Go, dan menjadi subjek dari pepatah Tiongkok, “sehari di surga setara dengan seribu tahun di Bumi”. Legenda dibalik kalimat ini adalah, berasal dari seorang penebang kayu yang tersesat di hutan, tak disangka melihat sepasang makhluk surgawi tengah asyik bermain Go.

Si penebang kayu diberi sebutir buah surgawi oleh salah satu pelayan mereka, kemudian ia asyik menonton pertandingan mereka selama berjam-jam, sampai si pelayan mengingatkannya bahwa sudah waktunya untuk kembali ke rumah.

Si penebang kayu bangkit untuk mengambil kapaknya, namun ia menemukan bahwa kapaknya telah berkarat, lantas ia kembali ke kampung halamannya, dan menemukan dirinya sudah dalam usia yang berbeda.

Refleksi dari kosmos

Secara tradisional papan Go memiliki 19 kotak vertikal dan 19 kotak horizontal, membentuk 361 buah kotak, hal ini konon melambangkan beribu-ribu benda langit. Sebuah titik di tengah papan, disebut Tianyuan, melambangkan pusat alam semesta.

Bidak-bidak yang berbentuk bulat, dengan warna hitam dan putih mencerminkan sifat melingkar yang dianggap orang Tiongkok kuno berasal dari Surga, sedangkan posisi persegi yang ditempatinya mewakili Bumi.

Penguasaan terhadap Go, mewujudkan kehidupan ideal orang Tiongkok yang sesuai dengan takdir. Semacam kultivasi (pertapaan) pribadi ini, menekankan seseorang untuk memperoleh hal-hal secara alamiah bukan melalui kekerasan. Prinsip ini tercermin dalam mekanisme Go: apabila bermain terlalu agresif akan berisiko terhadap pengepungan, sedangkan kemampuan dan kesabaran untuk menganalisis aliran pertandingan adalah cara untuk meraih kemenangan.

Kesederhanaan Go adalah unsur lain yang terjalin baik dengan filosofi tradisional Tiongkok.

Warna putih dan hitam mencerminkan tradisional Taois dualitas Yin-Yang. Meskipun mereka adalah dua elemen yang bertentangan, namun hidup berdampingan untuk menghasilkan “hal-hal yang segudang”. Dengan cara ini, permainan Go dapat dilihat tidak hanya sebagai perjuangan antara pasukan tempur, tetapi sebagai interaksi tanpa henti dari hal berlawanan namun saling melengkapi, yang ditemukan sepanjang hidup dan dunia.

Sumber: erabaru.net

Share
Tag: Kategori: BUDAYA Tradisional

VIDEO POPULAR