Bldaily.id. Pada 1492, dengan membawa Alkitab dan catatan perjalanan Marcopolo, Columbus memimpin armada laut berlayar menuju ke negeri Dinasti Yuan (1271-1368) di Timur. Di awal buku harian pelayarannya tertulis jelas, tujuan pelayaran jauhnya adalah “Negeri Khan” yakni Dinasti Yuan yang dirajai oleh Khubilai Khan.

Di masa itu jalur perdagangan darat timur dengan barat diputus oleh Kekaisaran Ottoman (Turki – Red.). Sebelum berlayar, Columbus sempat mengusulkan pada raja Spanyol Ferdinand II (1452-1516), ia bisa pergi ke timur lewat jalur laut dan membangun kembali hubungan dengan Mongol Khan.

Tanah impian yang ingin dikunjungi Columbus adalah “kerajaan langit” seperti yang tertulis pada catatan perjalanan Marcopolo. Tapi perjalanan Columbus kali ini hanya mencapai negara-negara di Hindia Barat. Menurut informasi, sebelum ajal Columbus sangat meyakini negara-negara tersebut merupakan bagian dari Kekaisaran Khan. Faktanya, saat Columbus berlayar, Dinasti Yuan telah hancur lebih dari seratus tahun, dan Negeri Khannya Khubilai Khan masih menjadi negeri menarik yang didambakan orang-orang Eropa.

Dinasti Yuan yang menjadi negeri dambaan orang-orang Eropa, yang diperkenalkan lewat “Catatan Perjalanan Marcopolo” begitu menggemparkan benua Eropa pada masa itu. Pekerjaan yang paling menghabiskan waktu dan tenaga di Eropa pada abad pertengahan adalah mencatat dokumen dan buku.

Reformasi teknik cetak huruf tipografi oleh orang Eropa bernama Gutenberg membuat industri pembuatan buku yang berskala relatif kecil di masa itu berubah menjadi industri yang paling berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.

“Percetakan telah memicu kebangkitan karya terkenal Yunani kuno, perkembangan penulisan bahasa, bangkitnya paham nasionalisme, meletusnya reformasi Protestan, timbulnya ilmu pengetahuan, dan faktanya percetakan telah mempengaruhi kehidupan dan pengetahuan di berbagai aspek mulai dari pertanian dan seni, hingga ilmu hewan.” – Genghis Khan and Today’s World Formation.

Seiring dengan pembaharuan teknik percetakan, “Catatan Perjalanan Marcopolo” bisa diterbitkan di Eropa, dan segera menjadi buku terlaris. Buku ini membuka jendela baru bagi Eropa di masa itu, juga membuka wawasan geografi orang Eropa, memicu keinginan bangsa Eropa untuk menjelajahi dunia timur, hasrat yang kental terhadap timur ini terus berlangsung selama beberapa abad, dan terus memperluas pemahaman Eropa terhadap dunia.

Peraturan Kekaisaran Mongol Dorong Pemikiran Baru Eropa

Seiring dengan ekspedisi militer bangsa Mongol ke dunia Barat dan pengaruh Dinasti Yuan terhadap luar negeri, di Eropa mulai muncul pemikiran baru. Dari catatan perjalanan Marcopolo, hingga tabel bintang Stellar Ulu Pogue yang rinci, semua pengetahuan baru ini menandakan, pengetahuan klasik kuno yang semula diserap oleh orang Eropa tidak sepenuhnya benar.

Genghis Khan menetapkan kode hukum “Great Zhasa,” menjamin seluruh Kekaisaran Mongol berjalan dengan efektif. Kekaisaran Mongol memperlihatkan pemikiran baru, seperti menggunakan uang kertas dan pena, kebebasan beragama, kekebalan diplomatik, perlindungan perdagangan, dan hukum internasional. Semua itu adalah pemikiran baru yang memiliki makna penting, mendorong kebangkitan Eropa, dan menjadi pencetus lahirnya pemikiran baru dan membuka jalan baru bagi Eropa.

Di zaman sekarang ini, elemen seperti kebebasan beragama dan berpendapat, tatanan hukum demokrasi dan lain-lain, dipandang sebagai indikator penting untuk menentukan beradab atau tidaknya suatu negara. Dan lebih dari 700 tahun silam, Kekaisaran Mongol yang dibangun oleh Genghis Khan, Dinasti Yuan yang didirikan oleh Khubilai Khan, telah mencapai kebebasan beragama dan berpendapat, pengurangan hukuman mati, penegakan hukum dan berbagai elemen lainnya yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah negeri yang beradab. Lebih dari 700 tahun silam, Dinasti Yuan telah mencapai tingkat peradaban tinggi seperti ini.

Pengaruh Internasional yang ditampilkan Dinasti Yuan Mewarisi Kebudayaan Tionghoa

Saat Columbus berlayar, Dinasti Yuan telah hancur lebih dari seratus tahun, tapi pengaruh internasionalnya belumlah pudar. Salah satu negara vassal Dinasti Yuan yakni negeri Ilkhanat, berupaya keras mempertahankan kelancaran perdagangan Jalur Sutera di wilayah kekuasaannya.Jalur Sutera pada masa itu adalah jalur perdagangan bebas yang terbaik dan terpanjang.

Di masa itu, keseluruhan Jalur Sutera untuk pertama kalinya juga untuk terakhir kalinya dikuasai oleh satu negara. Waktu itu, perdagangan antara timur dan barat jauh lebih mudah dan lancar dibandingkan wilayah mana pun dan masa perang apa pun.

Menurut rangkuman Profesor Ray Huang (Huang Renyu) dari Michigan University, ciri khas paham kapitalisme adalah “manajemen dengan angka.” Dan pada Dinasti Yuan ciri khas ini sangat jelas terlihat masyarakat dinasti Yuan menggunakan uang kertas (uang deposit) dan angka Arab di dalam wilayah teritorialnya dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Dinasti Yuan membentuk biro pemerintah yang mengawasi percetakan, manajemen dan penggunaan uang deposit. Pada Juli 1260, uang kertas yang diterbitkan di masa kekuasaan Khubilai Khan ada 10 jenis yakni 10 Wen, 20 Wen, 30 Wen, 50 Wen, 100 Wen, 200 Wen, 300 Wen, 500 Wen, 1 Guan (1000 Wen), dan 2 Guan (2000 Wen).

Negeri Ilkhanat meniru metode uang kertas Dinasti Yuan yang disebut “Uang Kertas dari zaman Dinasti Yuan,” penggunaan uang kertas diterapkan di dalam Kekaisaran Khan, di atas uang kertas juga tercetak abjad Mandarin dan huruf Arab. Meskipun penerbitan uang kertas sangat singkat, tapi di Asia Barat tindakan ini mendorong penyebaran teknik cetak Tiongkok, para saudagar Ilkhanat yang berdatangan menyebarkannya ke daratan Eropa.

Pada 1585, orang Spanyol Juan Genzalezde Mandozd (1540-1620) menerbitkan sebuah buku berjudul “Catatan Kekaisaran Tionghoa” di Roma. Di dalam buku itu tertulis asal muasal teknik cetak di Eropa, penulis mengatakan, “Setelah orang Tiongkok menggunakan teknik cetak selama bertahun-tahun, baru menyebar ke Jerman melalui Rusia dan Moskow. Pedagang melalui Laut Merah dan Felix di Arab lalu tiba di Tiongkok, dan membawa pulang sejumlah buku. Inilah yang menjadi pondasi lahirnya teknik cetak tipografi ciptaan orang Eropa, Gutenberg.

Jelas bahwa teknik percetakan adalah hasil ciptaan orang Tiongkok yang disebarkan kepada kita, mereka memang pantas mendapatkannya. Hal yang lebih meyakinkan lagi adalah, di Jerman saat ini, masih ditemukan banyak buku-buku hasil cetakan orang Tiongkok yang telah ada sekitar 500 tahun sebelum lahirnya teknik percetakan tipografi di Eropa.”

Dua Sisi Perang, Kelebihan dan Kekurangan Eksis Bersamaan

Perang selalu memiliki sisi kejam, tapi juga memainkan peran mendorong perkembangan ilmu pengetahuan masyarakat manusia juga. Ada akademis berpendapat, PD-II telah mendorong terciptanya teknologi nuklir, teknologi roket, komputer, juga membentuk situasi internasional dan cara berpikir baru.

Di dalam sejarah, perang yang membawa contoh nyata budaya juga tidak sedikit. Pasukan Mongol menyerang negeri Tiongkok di selatan, dalam proses menyerang Dinasti Liao dan Dinasti Kim, mereka menguasai teknik pembuatan mesiu dan senjata api, dan dibawa untuk menaklukkan Barat. Pada 1260, Kekaisaran Mamluks Mesir berperang melawan pasukan Mongol di Damascus, pasukan Mongol berhasil dikalahkan, sejumlah pembuat mesiu yang berbangsa Han berhasil ditangkap. Sejak saat itu mesiu dan senjata buatan Tiongkok pun beredar luas ke negeri barat.

Warga Dinasti Yuan bernama Wang Dayuan berlayar dua kali ke segala penjuru antara tahun 1330 – 1337. Lalu menulis buku berjudul “Dao Yi Zhi Lue (島夷志略Catatan Mengenai Suku-suku Primitif di Pulau-pulau)” yang berdasarkan pengalaman pribadinya. Di dalam buku disebutkan, setelah Wang Dayuan berwisata di Mekkah, ia menyeberang Laut Merah dan tiba di Mesir. Ia menyebut negara Mesir yang dikuasai oleh Dinasti Mamluks dan mengatakan negara itu bersebelahan dengan Yerusalem.

Di Mesir, Wang Dayuan bertemu dengan orang sekampung dari Hebei yang bermarga Chen. Menurut penelusuran, sangat mungkin Chen adalah keturunan etnik Han yang ditawan pada medan perang Ain Jalut ketika Mongol menyerang dunia barat.

Setelah Dinasti Han (202SM – 220) dan Kekaisaran Roma runtuh, jalur perhubungan darat Eropa dan Asia terputus selama ribuan tahun. Penyerangan pasukan Mongol dan Dinasti Yuan telah membangun kembali dan memperluas jalur perhubungan darat dari Asia menuju Eropa, dan memperlebar ruang lingkup dari dampak yang timbul dari jalur perhubungan tersebut.

Seiring dengan penyerangan Mongol ke barat, pertukaran budaya dan teknologi antara timur dan barat pun menjadi marak. Ketika Hulagu menyerang barat, banyak tukang dan akademisi etnik Han (suku mayoritas di daratan Tiongkok) diikutsertakan. Setelah negeri Ilkhanat berdiri, orang-orang itu pun tetap tinggal, dan menjadi penyebar kebudayaan Tiongkok.

Dalam rancangan teknis proyek pengairan di kerajaan Mesopotamia, ada pakar orang Tiongkok terlibat. Pada masa itu, teknik cetak, mesiu, kompas, uang kertas dan lain-lain yang berasal dari TIongkok menyebar masuk ke Asia Barat dan terus mencapai Eropa.

Sistem pos penjagaan dari Dinasti Yuan diterapkan juga oleh kerajaan Persia, Mesir, dan Rusia. Ilmu astronomi Tiongkok, penanggalan, dan medis juga menyebar ke Asia Barat, buku ensiklopedia yang disusun oleh seorang menteri negeri Ilkhanat terdapat catatan mengenai pengobatan dan ramuan herbal Tiongkok.

Masalah penetapan pajak di dalam surat kesepakatan dagang antara negeri Ilkhanat dan Venisia ditetapkan sebesar 3,3%, sama seperti di Dinasti Yuan. Pajak ini cukup rendah waktu itu, dan para saudagar yang bertransaksi di dalam wilayah Dinasti Yuan, jika mengalami bahaya, bencana, dan lain-lain, pihak kerajaan akan mengganti kerugian mereka. Sehingga seluruh dataran Eropa dan Asia mulai dari timur sampai ke barat, pertukaran budaya dan perdagangan antar benua sangat lancar, dan merupakan pemberian Genghis Khan dan raja penerusnya.

Sumber: erabaru.net

Share

VIDEO POPULAR