Rezim Komunis Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan upayanya untuk mengendalikan internet. Rezim berusaha untuk menekan suara-suara yang berbeda pendapat di kancah media sosial yang selalu ramai.

Baru-baru ini ratusan situs web dan ribuan aplikasi ditutup. Rezim komunis Tiongkok memilih untuk fokus pada aplikasi berita raksasa internet Tencent Holdings yang menyebarkan konten vulgar.

Dalam kurun waktu tiga minggu pertama tahun ini, lembaga siber Tiongkok, Cyberspace Administration of China atau CAC, telah menghapus lebih dari 7 juta informasi online yang dianggap berbahaya. Sebanyak  9.382 aplikasi seluler dan 733 situs web dihapus.

Langkah itu merupakan bagian dari kampanye enam bulan polisi dunia maya atau siber yang diluncurkan pada tahun baru untuk membersihkan informasi vulgar dari internet.

Aplikasi berita milik Tencent, Tiantian Kuaibao, telah dipanggil karena menyebarkan informasi vulgar, tidak intelektual yang berbahaya dan merusak ekosistem internet. Aplikasi itu diperintahkan untuk melakukan perubahan-perubahan. Namun lembaga itu tidak memberikan contoh-contoh spesifik konten yang kasar dan memuakkan.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Tiantian Kuaibao akan beroperasi sesuai dengan hukum dan memenuhi semua persyaratan.

Lembaga itu juga mengkritik Huaban, sebuah jejaring sosial berbagi foto, karena memiliki masalah ekosistem yang serius.

Laman web Huaban saat ini menampilkan pemberitahuan, mengatakan bahwa layanan daringnya telah diturunkan sementara waktu untuk perbaikan.

Pengawas siber secara berkala mengumumkan tindakannya untuk menyensor web. Pada Desember 2018, pengawas siber telah menghapus 110.000 akun media sosial karena menyebarkan apa yang dikatakannya sebagai informasi berbahaya.

Dua bulan sebelumnya, CAC telah membersihkan 9.800 akun media sosial, termasuk yang dimiliki oleh para influencer terkenal. Akun-akun itu dianggap melakukan pelanggaran-pelanggaran menyebarkan informasi yang berbahaya secara politis dan memalsukan sejarah Partai Komunis Tiongkok.

Selain menghapus aplikasi dan situs,  konten-konten di media sosial pun menjadi target penyensoran. Baru-baru ini, sensor telah membidik video-video pendek, format media sosial yang sangat populer yang menawarkan lebih dari 100 juta pengguna setiap hari di Tiongkok.

Sebuah asosiasi internet yang didukung pemerintah bulan ini telah menerbitkan daftar tentang 100 jenis konten yang dilarang. Konten itu termasuk membuat lelucon mengenai pemimpin-pemimpin partai komunis sampai video-video yang mempromosikan “pemujaan terhadap uang.” Platform-platform video pendek itu seperti aplikasi populer Bytedance, Douyin dan Kuaishou.

Raksasa pencarian internet Tiongkok, Baidu Inc. dan Sohu.com, juga telah dipanggil pada awal Januari tahun ini untuk menangguhkan berbagai layanan berita.

Bukan hanya internet domestik di Tiongkok saja yang sangat dibatasi, namun juga telah memperketat kendali pada aktivitas media sosial di luar Great Firewall-nya. Great Firewall mengacu pada perangkat sensor internet Tiongkok yang mencakup pemblokiran situs-situs web asing dan menyensor konten yang dianggap tidak diinginkan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Pengguna twitter juga masuk dalam bidikan. Dalam beberapa bulan terakhir, otoritas Tiongkok telah menargetkan warga Tiongkok di twitter, yang hanya dapat diakses dengan menghindari Firewall.

Beberapa aktivis dan influencer twitter telah ditangkap dan diinterogasi oleh polisi setempat. Sementara pengguna lainnya dipaksa menghapus tweet dan menutup akunya. Tak cukup hanya itu, bahkan pada bulan Desember, polisi mendenda dua netizen Tiongkok yang menerobos Great Firewall karena mengakses situs-situs web internasional yang diblokir. (epochtimes.id/ran/rp)

Share

VIDEO POPULAR