Investasi Tiongkok di negara berpenghasilan rendah menyejukkan atau memusingkan?

Dalam tulisan mengenai tinjauan prospek ekonomi global tahun 2019, Bank Dunia menilai bahwa ekspor masih akan mendominasi, meskipun proporsinya menurun.

Bank Dunia memperkirakan tingkat pertumbuhan troika (ekspor, investasi, dan konsumsi) yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi tahun ini dan selanjutnya. Selain konsumsi mengalami sedikit pertumbuhan dibandingkan dengan prakiraan tahun lalu, investasi dan ekspor telah berkurang secara signifikan.

Tingkat pertumbuhan Global : GDP, Konsumsi, Investasi dan Ekspor tahun 2017 – 2021

Tidak peduli bagaimana perang dagang AS – Tiongkok akan mempengaruhi ekspor Tiongkok tahun ini, perdagangan tidak adil Tiongkok hanya akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi global.

Di bidang investasi yang merangsang pertumbuhan ekonomi, perubahan kebijakan Tiongkok juga membuat situasi investasi pada tahun 2019 menjadi kurang optimis.

Walaupun investasi Tiongkok di luar negeri baru-baru ini masih terlihat kuat dengan skala saham investasi langsung masih menempati peringkat kedua di dunia pada tahun 2017, tetapi sejak tahun 2018, Tiongkok telah memperketat investasinya di luar negeri karena tertekan masalah utang.

Sebagai contoh, dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan seperti HNA, Wanda, Anbang, Fosun dan perusahaan swasta lainnya yang membeli aset di luar negeri telah diperintahkan oleh rezim Beijing untuk menjual aset mereka agar dananya bisa dikirim balik ke Tiongkok.

Namun, investasinya pada proyek-proyek OBOR dan industri berteknologi tinggi di negara maju masih mendapat dukungan dari pemerintah Tiongkok, meskipun sejak tahun lalu telah banyak mendapat penolakan banyak negara.

Tidak hanya AS dan Eropa memperketat pemeriksaan mereka terhadap investasi Tiongkok di bidang teknologi tinggi, tetapi data Bank Dunia dan IMF juga menunjukkan bahwa risiko utang negara peserta proyek OBOR Tiongkok telah naik secara menyolok.

Dalam tinjauan prospek ekonomi global tahun 2019, Bank Dunia juga menyebutkan bahwa masalah utang akan semakin menambah beban bagi negara-negara berpenghasilan rendah.

Dalam 4 tahun terakhir, proporsi utang pemerintah terhadap PDB di negara-negara berpenghasilan rendah telah meningkat dari 30% menjadi 50%.

Jika kondisi pembiayaan tiba-tiba mengetat, negara-negara berpenghasilan rendah tersebut mungkin dapat mengalami arus modal keluar yang tiba-tiba, sehingga ekonomi akan terpukul keras.

Investasi komunis Tiongkok melalui OBOR telah terbukti secara signifikan meningkatkan beban dan risiko utang dari negara-negara berpenghasilan rendah. Karena itu  mendapatkan kewaspadaan yang tinggi dari semakin banyak negara-negara Barat.

Konsumsi yang lemah tidak mampu menarik pertumbuhan ekonomi Tiongkok

Terlepas dari ekonomi Tiongkok atau dunia, ketika menghadapi anjloknya ekspor dan investasi, maka konsumsi adalah kekuatan pendorong utama untuk pertumbuhan ekonomi. Namun, di bawah erosi harga rumah yang tinggi dan utang yang tinggi, kekuatan konsumsi domestik Tiongkok pun melemah. Bagaimana ia mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi dunia?

Dalam konteks perang dagang yang menghantam ekspor dan investasi Tiongkok pada tahun 2018, pemerintah Tiongkok masih saja gembar-gembor dengan mengatakan bahwa tingkat kontribusi konsumsi telah mencapai 78,5% dari PDB, dan meningkatnya pasar konsumen menjadi kekuatan pendorong utama untuk pertumbuhan ekonomi.

Pernyataan otoritas berwenang Tiongkok ini jelas tidak sesuai dengan kondisi di mana gelembung perumahan dan utang rumah tangga Tiongkok yang membumbung tinggi. Karena pasar konsumen yang kuatlah yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, itu perlu berasal dari berlimpahnya atau tumbuhnya pendapatan rakyat yang dapat dibelanjakan.

Namun, hutang rumah tangga yang melonjak mengikis dompet rakyat Tiongkok, di antaranya tingginya harga perumahan telah menjadi pendorong utama.

Dari data keuangan yang tercatat sampai pada akhir kuartal ketiga tahun 2018 diketahui bahwa, saldo pinjaman perumahan pribadi (KPR) adalah RMB. 24,88 triliun, meningkat 18% YoY.

Melonjaknya harga rumah telah menyebabkan meningkatnya proporsi KPR dan menjadi bertambahnya beban hutang rumah tangga.

Dari data keuangan resmi diketahui bahwa penghasilan per kapita yang dapat dibelanjakan untuk paruh pertama tahun 2018 adalah RMB. 14.000,-. 

Dari sini dapat diperkirakan bahwa total penghasilan per kapita yang dapat dibelanjakan secara nasional tahun 2018 adalah RMB. 39 triliun.

Penghasilan per kapital yang digunakan untuk membayar angsuran perumahan sudah mencapai 64 %, naik hampir 2 kali lipat dari 10 tahun lalu yang hanya 22.6%. Dengan demikian, kemampuan untuk membelanjakan barang lain jauh menurun.

Gelembung perumahan telah menekan kekuatan belanja rakyat Tiongkok. Konsekuensinya adalah tingkat pertumbuhan penjualan ritel barang-barang konsumsi pada tahun 2018  berkurang cukup drastis.

Dari mobil, ponsel sampai obat-obatan, tembakau dan alkohol, menurunnya omzet penjualan menunjukkan bahwa permintaan domestik merosot karena kemampuan untuk belanja menurun.

Pada saat yang sama, data resmi dari Tiongkok menunjukkan bahwa kesenjangan distribusi pendapatan sedang melebar, sedangkan teori ekonomi menunjukkan bahwa dampak dari melebarnya kesenjangan pendapatan terhadap ekspansi konsumsi adalah negatif.

Dengan kata lain, sementara para elit Partai Komunis Tiongkok yang menempati kelas ekonomi istimewa telah membuat kesenjangan antara kaya dan miskin makin kentara, meskipun mereka dapat mendorong tumbuhnya kemampuan belanja beberapa barang mewah. Tetapi untuk ekspansi pasar konsumen secara keseluruhan, selain tidak berguna malahan memainkan peran negatif.

Dalam konteks situasi seperti ini bagaimana Tiongkok tahun 2019 bisa mendorong pertumbuhan konsumsi global, sementara permintaan domestik Tiongkok sendiri (konsumsi domestik) sedang melemah?

He Qinglian mengingatkan bahwa daripada rezim Tiongkok bermimpi untuk menyelamatkan ekonomi, lebih baik berkonsentrasi pada penyesuaian struktur ekonominya.

Sementara itu sarjana Tiongkok terkenal Shi Hanbing mengusulkan solusi untuk mengatasi masalah ekonomi yang sedang dihadapi sekarang adalah membuat rakyat kaya. (epochtimes.com/sinatra/rp)

Share

VIDEO POPULAR