Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi Tiongkok (China Academy of Information and Communications Technology. CAICT) pada 8 Januari mengumumkan bahwa ponsel yang terjual ke pasar Tiongkok tahun lalu hanya berjumlah 414 juta unit atau menurun sebesar 15.6 % YoY.

Selain ponsel, penjualan mobil juga mengalami penurunan. Tren ini membuat otoritas Tiongkok yang berharap melalui pertumbuhan konsumsi untuk mendorong perekonomian Tiongkok menjadi sia-sia.

Menurut data yang disampaikan CAICT terungkap bahwa pada saat yang sama pengiriman ponsel dari produsen menurun secara signifikan. Ponsel baru yang dipasarkan pada tahun lalu berjumlah 764 tipe, berkurang sebanyak 27.5 % YoY.

Data juga menunjukkan bahwa pada bulan Desember tahun lalu, total pengiriman ponsel Tiongkok turun 16,3% YoY menjadi hanya 35 juta 547 ribu unit.

Di antaranya, tipe baru ponsel yang dipasarkan hanya 42, menurun 53,3 % YoY.

Berita di media Hongkong Economic Times menunjukkan bahwa penjualan ponsel dari 4 merk yakni Huawei, Xiaomi, Oppo, Vivo  juga turun lebih dari 10 % YoY selama liburan panjang 1 Oktober tahun lalu.

Merk Oppo dan Vivo yang mengalami penurunan paling banyak. Oppo turun 33 %, Vivo turun 27 %.

Lembaga penelitian pasar “Canalys” menyebutkan bahwa diperkirakan jumlah pengiriman ponsel Tiongkok ke pasar tahun ini akan turun menjadi kurang dari 400 juta unit, dan pasar ponsel pintar domestik akan menurun sebesar 3%.

Sementara pasar ponsel baru menurun, pasar ponsel bekas telah mengalami pertumbuhan.

Laporan penelitian industri ponsel bekas menunjukkan bahwa di masa depan, transaksi telepon seluler bekas di daratan Tiongkok akan meningkat dari 15 % pangsa pasar saat ini menjadi sekitar 30 %.

Tahun ini, jumlah pengguna ponsel bekas di daratan akan mencapai 144 juta orang, meningkat dari tahun ke tahun.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa penurunan kepercayaan konsumen dan berlanjutnya perlambatan pertumbuhan ekonomi akan memperluas ukuran pasar ponsel pintar bekas.

Tidak hanya pasar ponsel, penjualan mobil tahun 2018 juga mengalami penurunan dan paling parah dalam 20 tahun terakhir.

Menurut pengumuman yang dikeluarkan oleh Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok pada 9 Januari, penjualan ritel kendaraan penumpang umum di daratan pada tahun 2018 adalah 22.724.000 unit, turun 6% dari tahun sebelumnya. Itu merupakan penurunan tahunan pertama dalam lebih dari 20 tahun.

Volume penjualan mobil pribadi pada bulan Desember total adalah 2 juta 26 ribu unit, menurun 19 % dari tahun sebelumnya.

Total volume penjualan mobil sedan tahun 2018 adalah 1 juta 96 ribu unit, turun 16,9 % YoY, volume penjualan mobil jenis SUV adalah 966.ribu unit, turun 18,9 % YoY, Volume penjualan mobil MPV adalah 155.300 unit, turun 33,5% YoY.

Laporan Morgan Stanley juga menunjukkan bahwa permintaan domestik Tiongkok adalah kunci yang menyeret turunnya pasar mobil.

Diperkirakan bahwa pelemahan pasar mobil akan memiliki dampak yang lebih besar pada penjualan mobil buatan domestik Tiongkok.

Wen Xiaogang, seorang komentator mengatakan bahwa permintaan domestik Tiongkok melemah, konsumsi menurun, ditambah lagi dengan tekanan dari pelambatan pertumbuhan ekonomi dan perang dagang.

Hal itu membuat otoritas Tiongkok yang berharap melalui pertumbuhan konsumsi untuk mendorong perekonomian Tiongkok menjadi sia-sia.

Meskipun baru-baru ini pemerintah berupaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui pemotongan pajak bagi usaha kecil dan menengah, tetapi jika pemotongan pajak dilaksanakan, itu tidak akan bertahan lama, karena setelah pemotongan pajak, lembaga-lembaga akan dirampingkan.

Sekarang lembaga-lembaga tersebut belum dirampingkan. Jumlah pekerja masih banyak, pengeluaran keuangan masih sangat besar, sehingga pendapatan pemerintah berkurang, jika hal tersebut berlangsung lama maka pemotongan pajak akan menjadi tidak berarti.

Yu Yongding, anggota Akademi Ilmu Sosial Tiongkok dan anggota Komite Kebijakan Moneter Bank Sentral Tiongkok mengatakan bahwa Tiongkok membutuhkan restrukturisasi ekonomi, pencegahan untuk risiko keuangan, gelembung real estate, leverage perusahaan yang tinggi, risiko banyaknya Bank gelap.

Disamping itu juga soal  macetnya pembayaran hutang pemerintah daerah dan banyak masalah lainnya. Namun masalah yang paling krusial adalah terus menurunnya pertumbuhan ekonomi.

Pada akhir tahun lalu, Bank-Bank investasi internasional memperkirakan bahwa pertumbuhan PDB Tiongkok tahun ini akan lebih rendah dari 6,5%, di kisaran antara 6,1 ~ 6,2 %. (sinatra/rp)

Share
Tag: Kategori: KEUANGAN

VIDEO POPULAR