Bldaily.id. Seorang berbakat ajaib pada Dinasti Ming sekaligus pendeta Tao bernama Liu Bowen pernah membantu Kaisar Cu Yuanzang menjadi seorang kaisar dan mendirikan Dinasti Ming, ia adalah seorang bertalenta tinggi yang jarang didapati.

Banyak ramalan yang diwariskan olehnya kepada generasi kemudian, termasuk (Sau Ping Ge) yang tersohor dan banyak dikenal orang itu.

Sajak yang diinskripsi pada prasasti di Gunung Taipei ini adalah ramalan lain darinya. Terjemahannya sebagai berikut:

“Langit bermata, bumi pun bermata,
setiap orang memiliki sepasang mata,
langit terbalik, bumi pun terbalik,
bebas tanpa pikiran dan suka ria tak ada batasnya.”

Penjelasannya: Bahwa keadilan Tuhan itu jelas ada, perkembangan sejarah manusia pun selalu berubah berdasarkan hukum rotasi alam semesta.

Tapi setiap orang pun mempunyai pilihan antara baik dan jahat dalam kelakuannya, dan setiap orang juga harus ada sepasang mata untuk membedakan mana yang baik dan mana jahat, namun kelakuan manusia pun tak dapat lolos dari penimbangan prinsip hukum alam semesta ini (langit bermata, bumi pun bermata).

Umat manusia bakal mengalami perubahan besar yang menggemparkan dunia, asalkan menuruti prinsip langit, maka manusia akan “bebas tanpa ikatan dan bersuka ria.”

“Yang miskin sepuluh tinggal seribu,
yang kaya sepuluh ribu tinggal dua tiga”,
jika si miskin dan si kaya tidak mau mengubah sikap,
lihatlah masa kematian sudah di ambang pintu.”

Penjelasannya: Malapetaka besar pada akhir darma ini mengerikan sekali. Ramalan dari beberapa bangsa pun pernah menyinggungnya. Baik rakyat biasa, maupun pejabat dan golongan atas yang mempunyai uang dan kekuasaan, semuanya akan mengalami petaka besar ini.

Apalagi pejabat korup yang suka menghalalkan segala perbuatannya dan mencari keuntungan pribadi semata, lebih-lebih sulit untuk lolos dari malapetaka ini.

Hanya bagi mereka yang “mengubah sikap”, tinggalkan kejahatan dan kembali pada kebajikan, kalau tidak hanya bisa “lihatlah masa kematian sudah di ambang pintu.” Namun, apa gerangan sebenarnya yang membuat rakyat banyak pun ikut menerima dosa besar ini dan mengalami kutukan Tuhan itu?

“Di tanah dataran luas tidak ada padi-padian yang ditanami,
berjaga di kawasan sekitar tak ada tanda-tanda kehidupan manusia bermukim,
jika bertanya bahwa kapan wabah itu akan muncul,
lihat saja musim dingin di bulan September dan Oktober”.

Penjelasannya: Dalam malapetaka ini, yang pokok adalah tersebarnya wabah besar. Wabah besar itu akan terjadi pada bulan September dan Oktober kalender Tionghoa.

Akan berakhir dengan “belantara datar tanpa tanaman palawija ataupun padi-padiannya dan kosong melompong tanpa penghuni”.

NB: Kalau ditinjau kembali, bahwa penyakit SARS yang ada kini, mustahil tidak membuat orang berkeluh-kesah. Walau dikatakan bahwa saat ini kondisinya agak sedikit reda, tapi terhadap asal-usul, pengobatan dan diagnosa pun kehilangan akal, barang kali tak bisa dikatakan tidak berisiko lagi.

“Orang yang berbuat baik dapat menyaksikan,
orang yang berbuat jahat tidak dapat melihatnya,
di dunia ada orang yang berbuat amal,
mengalami musibah ini sungguh tidak menguntungkan.”

Penjelasannya: Pada bencana besar ini, saat kondisi sedang ganas-ganasnya, “bagi yang melakukan kejahatan” dikhawatirkan belum sempat berpaling dan ingin bertaubat sudah terbunuh.

Namun, “bagi orang yang berbuat amal” bisa menyaksikan semua ini. Dalam akhir darma dan kacau balau ini, ada yang “berbuat amal besar”, sesungguhnya jika mengikuti orang “berbuat amal besar” ini, segala sesuatunya akan menguntungkan, jika tidak hati-hati dan mengikuti “orang yang berbuat jahat”, akan mengalami bencana ini, sungguh “tidak beruntung”.

“Masih ada sepuluh kecemasan di depan mata;
kecemasan pertama karena dunia ini kocar-kacir,
kecemasan kedua meninggal karena kelaparan di sana-sini,
kecemasan ketiga ialah telaga besar mengalami suatu petaka besar,
kecemasan keempat adanya isyarat asap berbahaya di beberapa provinsi, kecemasan kelima karena kehidupan rakyat tidak tenteram,
kecemasan keenam berada di musim dingin di antara bulan September dan Oktober,
kecemasan ketujuh ialah walau ada nasi tapi tak ada yang makan,
kecemasan kedelapan ada orang tapi tiada pakaiannya,
kecemasan kesembilan ialah ada mayat tak ada yang mengurusinya,
kecemasan kesepuluh, ialah sulit untuk melewati tahun Babi dan Tikus.”

Penjelasan: Malapetaka kali ini akan mendatangkan sepuluh kekhawatiran besar bagi umat manusia: Dunia ini dalam keadaan kacau balau, kelaparan, yang dimaksud “telaga besar akan mengalami suatu petaka besar” ini, barang kali dimaksud adalah suatu musibah banjir, api dan wabah, kemungkinan besar adalah banjir.

Mungkin terjadi kerusuhan di berbagai provinsi, rakyat pun gelisah sepanjang hari. Masih lagi dengan wabah besar yang terjadi di musim dingin bulan September dan Oktober.

“Ada nasi tapi tak ada yang makan,” mungkin ditujukan pada makanan yang dihidangkan di luar dan tidak berani disantap oleh orang karena takutnya terjangkit wabah penyakit.

Atau barang kali banyak yang meninggal, yang masih hidup itu sedikit sehingga nasi pun disia-siakan.

Wabah menyebabkan kematian terlalu banyak sehingga “tidak ada yang mengurusinya.” Sulit melewati “tahun Babi dan Tikus”. Bahwa justru “tahun Babi dan Tikus” berikutnya ada di tahun 2007 dan 2008.

“Jika berhasil melewati tahun malapetaka,
baru termasuk seorang dewa berumur panjang di dunia ini,
sekalipun Arhat yang terbuat dari besi atau perunggu pun susah juga melewati tanggal satu dan tiga belas bulan Juli,
biarpun Anda itu Vajra atau Arhat besi,
kecuali berbuat bajik baru bisa terhindar dan terjamin keselamatan,
setiap orang akan berhati-hati dan bertahan pada saat genting itu,
dan rintangannya terberat adalah ditahun Naga dan Ular”.

Penjelasan: “Biarpun Anda ini Vajra atau Arhat, hanya banyak-banyaklah berbuat bajik dan mengikuti Baik dan Sejati, baru bisa melewati masa-masa genting.

Yang dimaksud dengan tanggal satu dan tiga belas bulan Juli serta “tahun Naga dan Ular” ialah: Tahun Naga dan Ular berikutnya yaitu pada 2012 dan 2013, baru benar-benar rintangan yang sulit.

“Anak kecil mirip dengan Cuhungwu,
seorang laki-laki miskin dan berasal dari Provinsi Sechuan,
aum singa bak suara gemuruh,
melebihi suara tangis ratusan ekor macan,
badak mengeluarkan ekor,
di belantara datar bertemu dengan serangga ganas.”

Penjelasan: Di Provinsi Sechuan bakal ada seorang laki-laki yang berasal dari keluarga miskin, dahsyatnya seperti singa galak, dan dia akan mengungguli sebuah kekuatan lama dengan Shio Macan, dan menguasai langit dan bumi. Pada saat itu, langit dan bumi (alam semesta) ini akan muncul sebuah fenomena ajaib.

“Jika bertanya tentang tahun perdamaian,
bikinlah jembatan untuk menyambut tuan baru,
masa era baru akan tiba,
orang-orang akan tertawa gembira ria,
Ditanya kenapa tertawa?
Menyambut tuan tanah baru, di atas menguasai tiga hari kaki,
malam hari tak ada maling dan perampok,
meskipun dia seorang perintis,
Tuan duduk di pusat negara,
Rakyat pun bersoraknya sebagai Tuan Yang Sejati.”

Penjelasannya: Di masa mendatang pasti ada “tahun perdamaian” setelah malapetaka, “bikin jembatan” untuk menyambut kepulangan majikan baru dari luar negeri.

Majikan baru itu mempunyai kesaktian menguasai langit dan bumi, serta akan membauri rakyat dengan moralitas.

Oleh karena itu, di kehidupan sosial saat itu adalah sebuah masa damai dan makmur, tidak perlu tutup pintu dan jendela di malam hari, serta tidak memungut kepunyaan orang lain jika ketemu di jalanan.

Setiap orang kagum dan hormat serta melantunkan sebuah lagu pujian untuk pemilik baru ini sebagai “Tuan Yang Sejati”. Sejarah umat manusia ditulis baru lagi, mulai era yang baru.

“Uang itu adalah sebuah mustika,
jika dilihat dengan jelas tidak dapat digunakan,
mustika yang sesungguhnya,
walau ada retakan di atas tanah tidak jatuh,
tujuh orang berjalan berbarengan,
memikat orang masuk ke lubang,
tiga titik itu ditambah satu coretan,
delapan raja ditambah dua puluh mulut”.

Penjelasan: Pada umumnya orang menganggap uang itu sebuah mustika, tetapi jika Anda dapat mengenalinya dengan jelas, sesungguhnya dia itu tidak berfungsi apa-apa.

Mustika yang sesungguhnya ialah sesuatu tidak akan merobohkan Anda walau tanah retak sekalipun. Tanah retak itu ibaratnya neraka dan identik malapetaka.

Ini semua disebabkan pimpinan tujuh pejabat tinggi komunis Tiongkok, yang mesti menggunakan berbagai kekuasaan yang ada di tangannya, menipu orang dan diarahkan agar mendendam dan membenci Falun Gong yang “berkebajikan besar”, akhirnya menyebabkan banyak orang yang tidak tahu masalah, terpikat masuk ke “pintu neraka”.

Namun, yang penting setiap orang harus “berhati baik” (jadi dalam aksara Mandarin tadi, tiga titik ditambah satu coretan artinya “xin = hati”, dan delapan raja dengan dua puluh mulut artinya “san = baik”, untuk itu pasti selamat dan suka ria.

“Setiap orang tertawa bersuka ria,
setiap orang selamat,
setiap orang boleh membacanya,
setiap orang boleh menyebarluaskannya,
ada yang mencetak untuk dibagi-bagikan orang,
tidak dipungut biaya,
bagi yang berbuat bajik akan terselamatkan,
dan bagi mereka yang berbuat jahat pun sulit untuk lolos,
hormatilah langit dan bumi, dewata serta ayah dan bunda,
hargailah tulisan di kertas dan tanaman padi-padian,
hati-hati ingatlah selalu.”

Penjelasannya: Pada suatu hari, ketika Fa ortodoks berada di dunia ini, maka setiap orang akan belajar, setiap orang pun akan menyebarluaskan Falun Gong.

Sumber: pencerahansejati.com

Share

VIDEO POPULAR