Oleh: Han Liming

Dalam keluarga burung, burung gereja termasuk sangat umum. Berperawakan kecil, kurus dan penampilannya tidak bagus.

Tidak menyilaukan seperti bulu burung merak dan pheasant emas, juga tidak bersuara merdu seperti burung huamei (bahasa Tionghoa: alis yang dicat) dan kerak jambul (sejenis jalak).

Jika dibandingkan dengan burung bangau jambul merah dan burung elang yang tinggi besar, lebih-lebih tidak layak diperbandingkan.  

Konon Mao Zedong, pemimpin Tiongkok hingga 1976, membenci burung gereja. Pasalnya ia bak cendekiawan sombong dan menganggap dirinya paling benar dan sering berperilaku “saling memandang rendah sesama sastrawan” dan gemar sesuka hati mengungkapkan pendapat berbeda.

Benar-benar “riuh rendah bagai burung gereja yang sedang cekcok.”  Selain itu, “burung gereja” selamanya tidak peduli dengan politik serta tidak memiliki cita-cita dan ambisi luhur.

Itu ikhwalnya kutipan kata-kata Mao yang di zamannya. Satu kata dari Mao membantah 10.000 kata (orang lain) itu, telah menjadi laten dalam terjadinya fenomena aneh sejak zaman kuno hingga zaman kini dari “penumpasan burung gereja di Tiongkok” kelak.  

Saat itu penulis masih duduk di kelas 2 di Sekolah Dasar Jalan Barat Zhongshan. Teringat guru wali kelas pernah mengajarkan kepada kami cara menggunakan tampah untuk menjebak burung gereja yakni tampah yang disangga dengan sebatang tongkat kayu. Di bawahnya ditaburi segenggam beras.

Begitu burung gereja terpikat masuk, anak-anak yang bersembunyi akan menarik talinya, sudah pasti burung malang itu tidak bisa lari. Tapi sebagian besar siswa lebih suka membuat katapel sendiri dan berkeliling di waktu luang, begitu seekor burung gereja terbang melintas, akan mengundang ratusan batu dari katapel.

Suatu kali, penulis bersama teman-teman sekelas di siang hari bolong berhasil merogoh 3 ekor burung gereja yang rela mati demi melindungi telur mereka dalam sarang yang berada di bawah atap rumah. Kemudian membanting mereka hingga mati, sekarang teringat kejadian itu sungguh merasa terlalu kejam.  

Suatu hari di bulan April tahun 1958. Pemerintah Kota Hohhot (Mongolia Dalam) memobilisasi 80% warganya dalam upaya memberantas semua burung gereja.

Di pagi hari itu, ketika genderang telah ditabuh dari komando pusat Pemberantasan Burung Gereja, maka di areal tanah seluas puluhan Km² di kota Hohhot itu, segera bunyi tabuhan gembreng dan genderang, ledakan petasan dan blanggur, serta suara bedil membahana serentak, aneka bendera berwarna pun dikibar-kibarkan.

Pria, wanita, manula dan anak-anak dari semua kalangan, semuanya memukul gembreng, genderang, ember, wajan, dan timba, pendeknya semua benda yang bisa mengeluarkan suara, dibawa maju ke garis depan. Suara petasan, trompet dan tweeter memekakkan telinga.

Pada November 1955, Mao Zedong mengeluarkan “17 Artikel Pertanian” untuk penumpasan Empat Hama, termasuk burung gereja. Demi spesies burung gereja dan dimulai dari musim dingin di tahun itu, sejumlah ahli biologi nekad “berperang” menentangnya, sampai dengan tibanya musim semi 1960, barulah bisa memaksa Mao mencoret nama burung gereja malang dari daftar Empat Hama tersebut. (pixabay.com)

Ada juga yang mengibas-ngibaskan bendera berlari kian kemari mengejar burung gereja dan dengan jeritan serta teriakan menakuti burung gereja agar mereka tidak mendapatkan sedikit kesempatan untuk hinggap.

Di atas atap rumah dan pohon pun dipenuhi dengan manusia. Mereka mengacungkan batang bambu yang diujungnya diikat dengan kain gombal yang bergoyang ditiup angin.  

Melewati beberapa puluh babak pertarungan, kebanyakan burung gereja kehabisan tenaga, hanya tinggal seutas nafas.

Dalam kepanikan, mereka tiada tempat bersinggah dan satu demi satu jatuh keatas atap dan tanah, terbanting hingga remuk, bahkan disaat mati tenaga untuk merintih pun telah tiada.

Dalam gerakan itu, mayat burung gereja di segenap wilayah Hohhot bergelimpangan dimana-mana, terbenam dalam lautan luas perang terhadap burung yang lagi bernasib naas.

Mendengar cerita guru, ada sejumlah burung gereja ketika ajal menjemput sempat mengeluarkan “air mata memilukan”.  

Burung murai, burung dara dan gagak adalah jenis unggas yang sebetulnya tidak ingin dimusnahkan dalam gerakan itu.

Tetapi di tahun 1958 itu sebagian dari mereka mau tak mau juga katut menjadi pendamping kubur bagi burung gereja akibat ikut panik dalam suasana yang gegap gempita mengerikan bagi kalangan burung.

“Hasil buruan” yang terpencar setelah dikumpulkan berubah menjadi sebuah angka yang mengejutkan. Ketika kampanye menumpas “empat perusak (lalat, nyamuk, tikus dan burung gereja)” dinyatakan usai, penulis dengan mata kepala sendiri menyaksikan sebuah gerobak penuh burung gereja yang ditarik oleh seekor sapi.

Diatas gerobak tertancap berserakan sejumlah tongkat bambu yang dipenuhi dengan ekor tikus yang direnteng dengan benang bol. Seutas demi seutas sangat rapi bagai rentengan petasan (dengan demikian bisa terlihat jumlah yang lebih mengesankan), ternyata itu adalah para anggota komune dari pinggiran kota yang hendak melaporkan hasil buruan mereka.  

Menurut data statistik, pada tahun 1958 di seluruh negeri jumlah burung gereja yang ditangkap dan dibunuh mencapai lebih dari 210 juta ekor.

Melalui perjuangan dari seluruh rakyat, burung gereja malang tinggal beberapa ekor saja yang tersisa.

Beberapa minggu setelah itu, langit di atas Hohhot ekstrim sepi. Sama sekali tidak ada burung gereja yang terbang melintas.  

Ini adalah bencana buatan manusia paling parah yang dialami oleh burung gereja dalam sejarah Tiongkok dan bahkan dalam sejarah dunia.

Dalam gerakan pemusnahan burung gereja yang oleh para cendekiawan (komunis) disebut sebagai “perang rakyat” itu, burung gereja terjatuh ke dalam malapetaka genosida.

Seiring dengan burung gereja yang mungil itu berangsur-angsur menghilang dari pandangan umum, sebagian besar orang tidak menyangka karma buruk telah menghampiri.

Di musim semi tahun 1959 pepohonan di Hohhot mengalami bencana hama yang sangat serius.

Di beberapa tempat, daun-daun pohon di kedua sisi trotoar hampir semuanya dilahap habis oleh hama. Tanaman di luar dan pinggiran kota juga gagal panen karena dampak hama berskala besar, menyebabkan bencana kelaparan yang sangat parah pada tahun berikutnya.  

Kemudian, para ilmuwan membedah lambung burung gereja dan menemukan bahwa isi perut mereka sebanyak tiga perempatnya adalah hama ulat dan hanya seperempat adalah padi-padian.

Ternyata pada dasarnya mereka masih tergolong burung yang bermanfaat, banyak memberi dan sedikit mengambil dari manusia.

Burung gereja dalam melakukan tugasnya, tanpa kenal lelah menangkap hama, perbandingan manfaat dan mudharatnya adalah 3 banding 1, yang bahkan lebih tinggi dari penilaian

Mao Zedong terhadap dirinya sendiri yaitu 70% baik dan 30% buruk.

Kasus ketidakadilan yang dialami oleh spesies burung gereja sempat berlangsung selama hampir lima tahun.

Di bawah dukungan penuh sekelompok ilmuwan sejati yang tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri, dan melalui persetujuan dari Mao Zedong secara pribadi, maka pada akhirnya nama burung gereja dicoret dari daftar nama “empat hama” (digantikan oleh kutu busuk).

Maka kampanye nasional “perang penumpasan burung gereja” yang memilukan itu baru dinyatakan berakhir.  (epochtimes/lin/whs/rp)

Share

VIDEO POPULAR