Oleh: Irene Luo

“Melukis manusia adalah yang paling sulit. Berikutnya adalah pemandangan, dan setelah itu adalah anjing dan kuda. Teras, aula, dan struktur lainnya, dengan bentuk yang statis, lebih mudah untuk dibandingkan,” tulis pelukis Tiongkok, Gu Kaizhi (344-406).

Dalam menggambarkan manusia, Gu menekankan menggunakan bentuk-bentuk eksternal untuk menyampaikan semangat seseorang, sebuah gagasan yang berkembang menjadi filosofi panduan utama untuk merepresentasikan figur dalam seni Tiongkok.

Alih-alih memprioritaskan penggambaran akurat bentuk eksternal dan anatomi fisik, para seniman Tiongkok kuno lebih berfokus pada membangkitkan semangat batin subjek, “energi kehidupan” individu yang khas.

Berbagai representasi figural Tiongkok seperti itu kini tengah dipajang di The Metropolitan Museum of Art. Pameran ini mencakup tiga galeri.

Galeri yang pertama berpusat pada anak-anak, cerminan dari pentingnya keturunan sejak lama dalam budaya Tiongkok dan melanjutkan garis leluhur.

 Galeri yang kedua menampilkan adegan kehidupan sehari-hari di Tiongkok kuno serta tokoh-tokoh penting sejarah dan legenda.

Galeri yang ketiga berfokus pada tokoh-tokoh dari agama Buddha dan Taoisme, menyoroti kesalehan orang Tiongkok kuno.

Pameran ini menampilkan lebih dari 120 objek dari Dinasti Song (960-1279) hingga Qing (1644–1911), termasuk tekstil, pernis, batu giok, keramik, dan logam, serta benda-benda kayu dan bambu.

Benda-benda kesenian itu dibagi menjadi dua rotasi untuk mencegah kerusakan dari paparan cahaya yang berlebihan. Yang pertama akan terlihat hingga 26 Mei 2019, dan yang kedua akan tersedia mulai 1 Juni 2019 hingga 23 Februari 2020.

Anak-anak Bermain

Di Tiongkok kuno, semua keluarga, baik mereka keluarga bangsawan, pejabat cendekiawan, atau rakyat jelata, berharap memiliki banyak anak, yang menjadi pertanda keberuntungan.

Keluarga yang berkembang dengan banyak anak dan cucu pada umumnya dianggap sebagai syarat untuk kebahagiaan. Kesenian Tiongkok kuno seringkali menggambarkan anak-anak yang sedang bermain dalam posisi yang tampaknya tak terbatas.

Salah satu karya yang dipamerkan adalah permadani sutra yang menggambarkan kehidupan anak-anak yang lugu dan ceria yang terlibat dalam kegiatan seperti memanah, berperahu, memelihara elang, memancing, menunggang kuda, menerbangkan layang-layang, bermain alat musik, atau membaca.

Secara total, terdapat 83 anak laki-laki di lukisan itu. Berwarna-warni dan dibuat dengan rumit, permadani Dinasti Qing ini kemungkinan digantung di dinding rumah sebuah keluarga bangsawan.

Hal yang digambarkan terbang di langit adalah sepasang burung phoenix, melambangkan keberuntungan besar dan prospek cerah. Di antara awan-awan yang menguntungkan itu terdapat seorang anak lelaki yang mengendarai qilin, makhluk dari mitologi Tiongkok yang dikatakan memiliki tanduk, perut berwarna kuning, punggung berwarna-warni, kuku kuda, tubuh rusa, dan ekor lembu.

Qilin umumnya dikaitkan dengan kelahiran seorang yang bijaksana atau penguasa termasyhur, orang yang melambangkan kebajikan dan kebenaran.

Dalam budaya tradisional Tiongkok, anak-anak adalah simbol kemurnian dan sifat asli manusia yang dianggap tidak bersalah dan lugu.

Seperti dituliskan dalam teks Daois klasik “Daodejing” yang menekankan para kultivator Daois untuk berusaha kembali ke kemurnian masa kanak-kanak sebelum mereka dinodai oleh kekacauan dan gejolak dari eksistensi manusia.

Gaya Hidup Orang Kuno

Kehidupan sehari-hari orang-orang kuno dalam seni Tiongkok cukup elegan dan halus. Orang-orang dapat terlihat mengagumi bunga-bunga di musim semi dan bulan di musim gugur, mencicipi teh, berjalan-jalan di taman, dan menikmati “empat seni”,  melukis, kaligrafi, memainkan sitar tujuh senar, dan menikmati permainan papan strategi Go.

Adegan seperti itu mencerminkan etos orang-orang kuno yang mencari pemenuhan hidup jangka panjang dibandingkan dengan keuntungan jangka pendek.

Alih-alih sibuk dengan penuh gelisah, mereka lebih menghargai kelambatan dan ketenangan.

Salah satu karya yang dipamerkan adalah hidangan porselen yang menggambarkan seorang cendekiawan yang duduk dengan tenang di bawah pohon, menyaksikan salah seorang anak lelakinya memetik bunga lotus dari sebuah kolam di dekatnya.

Adegan itu mengingatkan kita pada cendekiawan-pejabat Dinasti Song, Zhou Dunyi (1017–73), yang menulis esai terkenal “On the Love of the Lotus.”

Di dalamnya, ia menulis, “Saya hanya suka bunga lotus, yang muncul dari lumpur, namun tidak terkontaminasi … Bunga teratai adalah pria di antara bunga-bunga. “Istilah gentleman, atau  “junzi” menggambarkan individu yang ideal dan berbudi luhur dalam filsafat Konfusianisme.

Dengan demikian bunga lotus melambangkan kesucian dan kebajikan serta mengingatkan orang-orang untuk menghindari pencemaran hati oleh berbagai permasalahan kondisi eksternal mereka.

Unsur Surgawi dalam Seni

Seni tradisional Tiongkok kuno dipenuhi dengan penggambaran makhluk-makhluk ilahi dan abadi dari kepercayaan Buddha dan Daois, sebuah cerminan dari spiritualitas di masyarakat Tiongkok kuno.

Salah satu karya paling memukau dalam pameran di The Metropolitan Museum of Art adalah serangkaian keramik yang memperlihatkan Buddha mencapai nirwana yang dikelilingi oleh delapan muridnya dalam kesedihan yang luar biasa. Wajah Buddha itu bulat dan penuh, dengan ekspresi tenang.

Sangat sedikit patung-patung gerabah polikrom yang selamat dari Dinasti Ming (1368–1644), dan hampir mustahil untuk menemukan satu set lengkap patung-patung seperti ini.

Karya penting lainnya yang dipamerkan adalah patung kuningan Ming kuno dari filsuf Taois Tiongkok kuno Laozi, yang diam-diam bermeditasi dengan ekspresi damai namun serius di wajahnya.

Selain Laozi, Delapan Dewa serta tokoh-tokoh Taois populer lainnya juga sering digambarkan dalam seni. Sebuah nampan yang dibuat dengan rumit menunjukkan Delapan Dewa menunggu kedatangan dewa umur panjang, yang terbang dengan menaiki bangau.

Delapan Dewa masing-masing dapat diidentifikasi dengan atribut pribadi seperti seruling, tongkat, pedang, bunga, dan labu. Di latar belakang, pohon pinus, bangau, pohon persik, serta awan dan kabut adalah simbol umur panjang dalam kepercayaan populer.

Karya religius seperti representasi figural mencerminkan kebiasaan tradisional dan kepercayaan orang-orang pada saat itu, yang menghargai kemurnian, iman, dan kebajikan.

Dalam medium artistic yang berbeda, dari lukisan hingga artefak giok, orang-orang kuno menanamkan semangat kesalehan, kultivasi diri, dan mengejar kebijaksanaan yang lebih tinggi.  (epochtimes/whs/rp)

Share

VIDEO POPULAR