Pejabat Elit Partai Ateis Percaya Fengsui Vena Naga Pegunungan Qinling (3)

Oleh: Wang Jingwen

Rangkaian buku terbitan “New Epoch Weekly” Taiwan pernah memperkenalkan pengalaman Xi Jiping di masa mudanya, yang memengaruhi langsung pandangan hidupnya dan cara menyelesaikan perkara di kemudian hari.

Diantaranya seorang bernama Jia Dashan, sangat besar pengaruhnya terhadap Xi Jinping.

Artikel “Mengenang Dashan” yang ditulis Xi Jinping pada 1999, telah memperlihatkan hubungan akrab Xi dengan almarhum pengarang Jia Dashan dimasa berada dikota Zhengding provinsi Hebei tahun 1980-an.  

Menurut pemberitaan, atas pengaruh Jia Dashan, Xi sangat menaruh perhatian atas perlidungan terhadap bangunan kuno tradisional dan barang-barang peninggalan sejarah.

Xi khusus menghubungi Beijing, saat itu pula menyampaikan permohonan dana, dan mengumpulkan dana, merenovasi kuil Longxing dengan patung tembaga Seribu Tangan Seribu Mata Bodhisattva Avalokiteswara yang konon salah 1 yang terbaik di dunia. Selain itu ia membangun ulang kuil Lingji yang pembangunannya lebih awal 46 tahun daripada Longxing.

Di kemudian hari hasil karya Jia Dashan dinilai telah menuangkan tulisan yang melukiskan Saripati (Jing /精), Energi vital (Qi / 氣) dan spirit (Shen / 神) dari manusia. Misalnya penjual bunga wanita di dalam pasar bunga, bunga yang berharga 15 Yuan, ditawar oleh petani tua 10 Yuan.

Pada saat itu datanglah seorang kader muda (partai) juga ingin membeli bunga, yang lalu bertanya kepada si petani tua dari komune mana, siapa nama sekretaris (pimpinan) komune, dan menyatakan ia akan membeli bunga itu dengan harga tinggi.

Namun wanita penjual bunga lebih rela menjual bunga itu kepada petani tua dengan harga 10 yuan, karena dia tidak suka orang yang menggunakan kekuasaannya menekan orang lain.

Keteguhan watak yang pernah dimiliki oleh orang zaman kuno di Tiongkok, karakter yang telah sirna di Tiongkok zaman kini.  

Mao Zedong Percaya Ramalan Nasib

Sesungguhnya tidak hanya Xi Jinping dan lainnya percaya Fengsui dan lain-lain budaya tradisional Tiongkok, Mao Zedong (dibaca: mao ce tung) lebih percaya. Banyak pejabat elit Partai Komnis Tiongkok  diam-diam telah meminta untuk diramal dan mereka taat pada Fengsui.  

Ibunda Mao percaya Buddha, maka Mao sejak kecil sangat percaya ramalan nasib dan lainnya. Konon, ketika Mao ikut dalam revolusi Xinhai (1911) mendapat senapan pertamanya yang bernomorkan “8341”.

Kelak, dalam menujumkan peramalan nasibnya, ia juga mendapat nomor “8341”. Apa makna nomor itu, sampai Mao meninggal pada 1976, teka-teki itu baru terpecahkan dan tersebar. Usia Mao mencapai 83 tahun dan berkuasa selama 41 tahun.

Dengan kelangsungan hidupnya sendiri, Mao telah membuktikan “Nasib manusia ditentukan oleh Langit (sang Pencipta).” Dia dengan dengan tanpa segan telah mengejek sendiri ideologi ateis yang dianutnya.  

Selain itu, 2 tempat termasyhur di Tiongkok, sejak Mao mendirikan kekuasaannya (1949), dalam seumur hidupnya tidak berani menginjakkan kakinya di dua tempat itu.  

Tempat pertama adalah “Yan An.” Pada tahun itu musuh Mao, Jiang Kaishek menyerang daerah Shaanxi utara, 200.000 pasukan Jiang menyerang Yan An. Partai Komunis Tiongkok memutuskan sebagian pasukan tetap bertahan di Shanxi utara, sebagian lainnya lari ke arah Timur menyeberangi sungai Kuning menuju daerah Huabei.

Mao gamang, maka meminta ahli nujum membantu meramalnya. Hasil nujum mengatakan, ”Kebetulan adalah permulaan musim Semi, air sungai kering, sungguh tidak baik melewati sungai.”

Saat itu Mao menurutinya untuk tidak melewati sungai. Sang peramal mengimbuhkan, sungai itu tidak boleh sembarangan dilewati. Jika dilewati, jangan sampai kembali lagi!

Sebenarnya, Yan An bagi Komunis Tiongkok dan Mao sendiri merupakan “tempat keberuntungan” yang tiada duanya, namun Mao justru sejak saat itu tidak pernah kembali ke Yan An satu kalipun.

Kedua adalah Istana Terlarang Beijing. Istana itu hanya tersekat sebidang tembok dengan pusat pemerintahan Zhong Nan Hai, yang merupakan istana kaisar yang mengalami dua periode dinasti Ming dan Qing selama 500 tahun lebih. Di dalamnya tersimpan jutaan peninggalan sejarah yang amat berharga, maka disebut Museum Istana Terlarang.

Menurut nafsu kekuasaan Mao dan hobi Mao dalam kaligrafi, tempat itu seharusnya sering ia kunjungi. Tamu agung dari manca negara yang datang berkunjung, Museum Istana Terlarang merupakan tempat yang pasti tercantum dalam acara kunjungan, akan tetapi mengapa Mao tidak berkunjung dan menikmati keindahan Istana tersebut?

Ternyata ia menaati perintah seorang “pintar” yang melarangnya memasuki Istana Terlarang, jika masuk akan membahayakan kekuasaannya.

Nampak Partai Komunis Tiongkok  mempermainkan rakyatnya, dengan tidak mengizinkan rakyat menghormati Langit dan mempercayai nasib. Sedangkan mereka sendiri diam-diam menuruti nasib yang dinujumkan oleh peramal dan tidak berani melanggar pantangan.  (Epoch Times/tys/whs/rp)

Share

VIDEO POPULAR

Ad will display in 09 seconds