Oleh: Xia Lin

Meng Wanzhou, CFO merangkap wakil CEO Huawei ditangkap oleh polisi Kanada pada tanggal 1 Desember  2018 lalu. Dia ditangkap  saat transit pesawat di Vancouver, Kanada.

Amerika Serikat meminta agar Meng Wanzhou  dideportasi untuk diadili di Amerika Serikat. Peristiwa mendadak itu membuat eksekutif BUMN maupun perusahaan swasta yang telah melakukan banyak pelanggaran hukum dan larangan Amerika Serikat bagi Komunis Tiongkok menjadi gentar.

Beberapa tahun ini para eksekutif tinggi perusahaan Tiongkok telah menganggap remeh hukum di Amerika, Kanada dan negara Barat lainnya. Lantaran sudah terbiasa menipu di dalam negeri sampai di luar negeri pun melakukan hal yang sama.

Mereka biasa tidak hanya tidak dihukum, juga bisa dengan cepat menumpuk kekayaan. Kian hari kian menjadi-jadi.

Selain itu mereka menganggap Amerika Serikat, Kanada dan negara Barat seolah halaman belakang mereka sendiri. Datang dan pergi sesuka hati. Bahkan mengalihkan kekayaan besarnya ke luar negeri, membeli rumah mewah di Amerika Serikat, Kanada dan Eropa, membuat status warga negara, menyekolahkan anak dan lain-lain.

Seperti Meng Wanzhou, tidak hanya memiliki banyak rumah mewah di dalam negeri Tiongkok maupun di Hongkong, dia juga memiliki 2 unit rumah mewah di Kanada. Putranya studi di Amerika. Dia sendiri memiliki Kartu Imigrasi Kanada, ditambah lagi kepemilikan 7 buah passport.

Meng Wanzhou adalah tipikal kalangan konglomerat Tiongkok. Bagi Meng tertangkapnya dirinya itu ibarat sambaran petir. Bagi eksekutif perusahaan Tiongkok yang sudah kaya raya dari hasil melakukan kejahatan, juga ibarat gempa sebesar 9 SR.

Sekarang mereka tidak lagi berani sembarangan pergi ke negara yang mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat agar tidak terjadi “Meng Wanzhou versi 2.”

Nampaknya, uang yang mati-matian didapatkan demi Komunis Tiongkok, belum tentu bisa dinikmati.  Meng Wanzhou harus membayar uang jaminan CAD 7 juta dolar cash atau sekitar 75 miliar rupiah, untuk bisa bebas bersyarat. Dia juga harus membayar semua biaya untuk pengawasan keselamatannya.

Sialnya lagi, tidak ada jaminan benda yang dibuatnya sendiri bisa kembali padanya. Menurut informasi, gelang monitor elektronik yang dipakai Meng di pegelangan tangannya adalah produk Huawei.

Selain para eksekutif kaya, baru-baru ini banyak pejabat Komunis Tiongkok juga hidup dalam ketakutan. Mereka cemas tak lama lagi mereka pun akan muncul di daftar hitam Amerika Serikat.

Hal itu seiring, langkah Senat AS pada tanggal 11 Desember 2018 yang telah meloloskan Undang-Undang ekuivalensi perjalanan ke Tibet.

Para pejabat Komunis Tiongkok yang menolak warga Amerika Serikat, atau pejabat pemerintah dan wartawan masuk ke Tibet, mereka akan dilarang untuk mendapatkan visa masuk ke Amerika Serikat.

Begitu “undang-undang ekuivalensi perjalanan ke Tibet” ini ditandatangani oleh Presiden Trump menjadi hukum yang berlaku, Kemenlu Amerika Serikat akan diminta untuk mengevaluasi akses masuk warga Amerika Serikat ke Tibet. Lalu memberikan laporannya pada Kongres, yang secara jelas mencari pejabat Komunis Tiongkok yang menghalangi orang Amerika Serikat masuk ke Tibet.

Berdasarkan peraturan ini Kemenlu Amerika Serikat akan melarang pemberian visa Amerika Serikat kepada seluruh pejabat tersebut.

Pejabat Komunis Tiongkok yang telah bertahun-tahun korupsi telah mengumpulkan kekayaan besar, banyak di antaranya yang memindahkan harta mereka ke Amerika Serikat. Jika Amerika Serikat tidak memberikan visa, bagaimana mereka bisa menikmati kekayaan itu?

Sekarang banyak pengusaha Tiongkok yang tidak taat hukum mendapati satu hal, yakni kejahatan yang  dilakukan di negerinya tetap tidak bisa selamat walaupun lari ke Amerika Serikat. Pasalnya di Amerika Serikat juga bisa memproses hukum pejabat Tiongkok.

Sama seperti kasus Jia Yueting yang terjadi baru-baru ini. Menurut pemberitaan media teknologi Amerika Serikat “The Verge”, Pengadilan Federal Wilayah California telah mengeluarkan perintah pembatasan sementara.

Perintah itu untuk membekukan 33% saham perusahaan yang dimiliki Jia Yueting selaku CEO Faraday Future, dan mengeluarkan perintah perlindungan sementara terhadap kediaman mewahnya di California.

Mantan direktur Leshi Group Jia Yueting dikejar hutang di dalam negeri. Pada tahun 2017 ia lari ke Amerika Serikat dan bersembunyi disana, tidak disangka di sana ada hukum terkait mengakui hasil putusan di pengadilan di Tiongkok, sehingga kekayaannya dibekukan.

Sepertinya, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump sangat mengerti bagaimana menyisihkan satu persatu oknum Partai Komunis Tiongkok untuk kemudian dijerat hukum.  (Epoch Times/sud/whs/rp)

Share
Kategori: Berita INTERNASIONAL

VIDEO POPULAR

Ad will display in 09 seconds