Reporter: Lin Yan/ Epochtimes

Komunis Tiongkok Subsidi Kembangkan 5G, Perusahaan Barat Hadapi Persaingan Tidak Adil

Model kejuaraan negara yang dibentuk oleh Tiongkok telah mendorong Huawei ke bidang 5G, ini yang membuat Huawei meraih perkembangan dalam produksi peralatan telekomunikasi internet. Saingan Huawei adalah Ericsson dan Nokia.

Di bidang router dan switch, pasar dikuasai oleh Cisco, Huawei, Nokia dan Juniper, dengan menguasai 90% dari pangsa pasar.

Akan tetapi teknologi router dan switch di 5G harus mengandalkan prosesor jaringan, dalam hal ini masih dikuasai oleh perusahaan AS.

Tahun 2016, perusahaan AS Intel dan Broadcom memimpin di pasar silicon jaringan, saingan lain antara lain Hi-Silicon (milik Huawei), Qualcomm dan TI dari AS, namun produksi silicon jaringan ini sebagian besar tersebar di Taiwan (49%) dan Tiongkok (17%).

Lewis menyatakan, rantai pasokan 5G memiliki keterkaitan internal yang rumit, kondisi saat ini adalah jika tidak memiliki komponen kunci dari Amerika Serikat, maka produksi 5G Tiongkok pun tidak akan bisa berjalan.

Namun komponen kunci dari Amerika Serikat sendiri juga menggunakan komponen yang diproduksi di Tiongkok.

Menurut Lewis, Huawei dan ZTE mendapat subsidi besar dari pemerintah Tiongkok, dan berkembang karena mendapat keunggulan intelijen mata-mata.

“Kebijakan subsidi keuangan oleh Komunis Tiongkok ini membuat 5G sudah bukan lagi persaingan antara perusahaan dengan perusahaan, tapi sudah menjadi persaingan antara negara pasar dengan negara dominasi pemerintah,”  demikian kesimpulan Lewis.

Mengapa Barat Tidak Bisa Menerima Huawei dan ZTE?

Pada saat CFO Huawei Meng Wanzhou ditangkap di bandara di Kanada pada  1 Desember 2018 lalu karena terlibat konspirasi penipuan bank dan diminta untuk dideportasi oleh Amerika, Huawei sebagai juara di negara Komunis Tiongkok dan berita tentang satu persatu negara melarangnya memasuki jaringan 5G juga menggemparkan.

Semua negara tengah mempertimbangkan menerima perusahaan Tiongkok yang memiliki kedekatan dengan Komunis Tiongkok dalam jaringan 5G, atau komponen yang diproduksi Tiongkok akan menjadi ancaman keamanan dalam bagian industry jaringan 5G yang rumit. Apa sebenarnya risiko ancaman tersebut?

Lewis memberikan sebuah ilustrasi sederhana, misalnya orang yang membantu Anda memperbaiki rumah ingin menerjang masuk ke rumah Anda, orang itu memiliki keunggulan, karena ia tahu denah rumah, system  listrik dan titik akses, mungkin saja ia masih menyimpan kunci, bahkan mungkin diam-diam bisa memasuki rumah.

“Konstruksi dan peralatan untuk maintenance jaringan inti memberikan keunggulan ini”, demikian imbuhnya.

Lewis menyatakan, dalam persaingan antar perusahaan atau antar negara persaingan sengit di bidang 5G ini tidak mengherankan, jika perusahaan Tiongkok beroperasi di lingkungan bisnis yang normal menjadi pemasok 5G tidak menjadi masalah.

Ia bahkan mengatakan, jika perusahaan Tiongkok sama seperti perusahaan lain, bersaing di pasar global dengan teknologi sebagai basic, sangat mungkin mereka akan bisa melakukan lebih baik.

Namun pemerintah Komunis Tiongkok tidak akan memberikan kesempatan itu bagi perusahaan Tiongkok.

“Walaupun perusahaan-perusahaan Tiongkok itu berharap dapat mandiri, atau mereka sendiri ingin melepaskan diri dari ketergantungan dan kendali Beijing, serta beroperasi layaknya perusahaan Barat, mereka tetap tidak memiliki opsi ini”, kata Lewis.

Dalam laporan Kongres AS tahun 2012 disebutkan, Huawei dan ZTE adalah dua perusahaan Tiongkok yang dikendalikan oleh pemerintah Komunis Tiongkok. Petinggi Huawei memiliki hubungan yang erat dengan badan intelijen Tiongkok dan juga militer.

Lewis berpendapat, Huawei dan ZTE tidak kuasa menolak tuntutan pemerintah Komunis Tiongkok, dan indikator penting untuk melihat bagaimana Tiongkok akan memperlakukan pelanggan negara lain (melakukan aksinya) adalah dengan melihat bagaimana Komunis Tiongkok memperlakukan rakyatnya sendiri. Pemerintah Komunis Tiongkok tengah melakukan pengawasan menyeluruh terhadap setiap warganya.

Komunis Tiongkok adalah sumber kegiatan mata-mata yang paling aktif, mereka melakukan aksi mata-mata industri, pencurian kekayaan intelektual dan melakukan aksi di negara atau terhadap kelompok yang dianggap mengancam rezim Komunis Tiongkok. Sasaran mereka menjangkau tidak hanya sampai ke Amerika, juga termasuk negara mana pun yang mereka tertarik atas informasinya.

Dalam laporan ditulisnya, “Menurut laporan yang bisa diandalkan, Komunis Tiongkok memanfaatkan sarana jaringan internet yang disediakan perusahaan untuk memberikan data intelijen selama hampir 20 tahun.”

Selain itu, Komunis Tiongkok juga tidak mempedulikan kesepakatan tentang kegiatan mata-mata bisnis yang telah ditandatangani mereka dengan negara lain. Pada tahun 2017 aksi mata-mata oleh Tiongkok terhadap negara AS, Eropa dan Asia telah mencapai skala yang belum pernah ada sebelumnya.

James Lewis menyatakan, inilah alasan 5 negara Barat melarang keras Huawei atau realitanya melarangnya masuk ke jaringan 5G.

Teknologi yang baik dan subsidi (dari pemerintah) yang membuat harganya murah telah membuat Huawei sangat menggiurkan bagi banyak negara, ditambah lagi Huawei adalah pemasok peralatan telekomunikasi yang unggul di dunia, namun Huawei juga mendatangkan kemungkinan bertambahnya ancaman intelijen Komunis Tiongkok.

Laporan tentang ancaman dari peralatan telekomunikasi produk Tiongkok sudah sangat banyak. Negara yang membeli peralatan telekomunikasi dari Tiongkok juga memiliki data membuktikan bahwa kegiatan mata-mata Komunis Tiongkok memang benar terjadi, dan tidak bisa dihilangkan secara efektif,” pungkas Lewis. (epochtimes/sud/whs/rp)

TAMAT

Share

VIDEO POPULAR