Abdughapar Abdurusul, seorang pengusaha dan dermawan Uighur di Xinjiang, dijatuhi hukuman mati oleh pihak berwenang Tiongkok. Vonis hukuman mati dijatuhkan, karena Abdughapar menunaikan ibadah haji ke Mekkah di Arab Saudi.

Abdughapar tinggal di Kota Ghulja, Yining Tiongkok. Saat ini pria berusia 42 tahun sedang menunggu eksekusi hukuman matinya. Terhitung sejak penangkapan hingga hukuman mati, hanya berlangsung 4 bulan.

Situs web bahasa Inggris Radio Free Asia melaporkan bahwa Abdughapar ditangkap oleh otoritas Tiongkok antara bulan Juli dan Agustus tahun ini. Pada bulan November lalu ia divonis hukuman mati.

Saudara Abdughapar kepada kelompok Uighur dari Radio Free Asia, mengatakan bahwa  Abdughapar diinterogasi tanpa diizinkan didampingi pengacara.

Hal itu jelas tindakan ilegal dan melanggar ketentuan peradilan Partai Komunis Tiongkok. Semua hukuman mati harus ditinjau oleh Mahkamah Agung Tiongkok di Beijing. Namun Abdughapar tidak tahu apakah kasus tersebut telah disampaikan ke Mahkamah Agung di Beijing untuk ditinjau.

Saat ini hukuman mati telah diputuskan, Abdughapar hanya bisa menunggu eksekusi.

Saudara Abdughapar mengatakan bahwa Abdughapar dijatuhi hukuman mati karena dia tidak bergabung dalam kelompok haji dari organisasi resmi.

Ternyata Abdughapar tidak mendapatkan persetujuan dari pemerintah Komunis Tiongkok. Itulah sebabnya Abdughapar memutuskan pergi sendiri ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

Lebih dari Puluhan Juta US Dollar Kekayaan Abdughapar Disita

Abdughapar dikenal sebagai seorang ayah dari empat anak. Dia memiliki beberapa toko, bisnis, dan berbagai property. Dalam beberapa tahun terakhir Abdughapar telah menyumbang uang untuk membangun mesjid demi masyarakat setempat.

Dia hidup dengan nyaman sebelum dia ditangkap. Aset keluarganya mencapai sekitar 100 juta yuan atau sekitar  14,4 juta dolar AS atau senilai 210 milyar rupiah.

“Dia adalah seorang dermawan yang suka membantu masyarakat … Tapi sekarang pemerintah telah mengambil semua hartanya dan benar-benar menghancurkan kehidupan keluarganya,” kata saudara Abdughapar.

Istri Meninggal di Penjara, Teman Kerabatnya Ditangkap

Menurut saudara Abdughapar,  istri Abdughapar yang bernama Merhaba Hajim, ditahan pada bulan April tahun ini. Putra sulungnya, Awzer, ditahan pada tahun 2017 setelah kembali belajar di Turki.

Sementara itu  saudara perempuannya bernama Sayipjamal telah lama hilang. Dia diyakini ditahan di “Kamp pendidikan ulang.”

Selain itu, lebih dari 50 teman Abdughapar juga dihukum di atas 18 tahun penjara oleh otoritas setempat.

Di Kabupaten Qorghas, Kazakhstan, seorang kolega yang saat ini berada di pengasingan bersama Abdughapar mengatakan kepada Radio Free Asia. Dia juga mendengar bahwa pengusaha itu dijatuhi hukuman mati di daerah setempat dan berita tentang istrinya meninggal saat di penjara.

“Salah satu teman saya menelpon saya dan mengatakan bahwa teman kami Abdughapar Abdurusul telah dijatuhi hukuman mati,” kata kolega itu, yang enggan disebutkan namanya.

“Saya juga mendengar bahwa istrinya telah meninggal di penjara,” tambahnya.

Menurut kolega itu,  lingkaran teman-teman Abdughapar ada lebih dari 50 orang, termasuk beberapa petugas polisi telah ditangkap dan di penjara. Namun Abdughapar adalah satu-satunya orang yang dijatuhi hukuman mati. Si kolega tidak yakin apa sebabnya.

“Tetapi tidak ada alasan khusus bagi pemerintah komunis Tiongkok untuk membunuh warga Uighur,” katanya.

Kabar hukuman mati yang menimpa Abdughapar dan istrinya yang meninggal selama penahanan di Kamp Pendidikan Kembali Xinjiang itu didengar pula oleh Turghunay, bekas tetangga Abdughapar.  Turghunay sekarang berada di pengasingan di Turki.

“Saya mendengar bahwa Abdughapar Hajim ditangkap pada Mei atau Juni. Sebelum ini, putra sulungnya Awzer ditangkap, diikuti oleh istrinya Merhaba Hajim,” kata Turghunay kepada Radio Free Asia.

“Saya tidak tahu apakah dia ditangkap karena kekayaannya atau karena ziarah, tetapi ketika saya mendengar tentang hukuman matinya … jiwa saya hancur,” tambah Turghunay sedih.

Turghunay mengatakan bahwa sertifikat kematian diberikan kepada keluarga oleh pihak berwenang. Namun dia tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada anak mereka.

Terkait kasus  Abdughapar itu, wartawan Radio Free Asia menelpon staf Biro Keamanan Publik Prefektur Otonomi Ili Kazakh dan kantor polisi setempat di Kota Yining untuk menanyakan perihal kasus.  Namun mereka semua menolak menjawab pertanyaan dan segera menutup teleponnya. (rp)

Share

VIDEO POPULAR

Ad will display in 09 seconds