Bali menjadi tujuan wisatawan asing maupun domestik. Tak sedikit wisatawan dari Tiongkok yang datang.

Tak dipungkiri, makin banyak transaksi perdagangan yang berlangsung. Transaksi selain menggunakan uang tunai juga uang digital melalui internet.

Khususnya wisatawan dari Tiongkok sering menggunakan layanan uang digital dari  WeChat.

Bali. (bali-indonesia.com)

Mengutip dari kontan.co.id, Selasa (25/12/2018), Rudy Ramli, Presiden Direktur PT Alto Halodigital International (AHDI), mengatakan, misalkan ada orang Tiongkok yang jualan barang di Bali, bertemu dengan turis Tiongkok lainnya, mereka terbiasa transaksi menggunakan WeChat dan Alipay.   

WeChat Pay, menurut Rudy Ramli, Presiden Direktur PT Alto Halodigital International (AHDI), sudah mengikuti aturan yang dibikin Bank Indonesia (BI).

Rudy menyayangkan, selama ini transaksi yang dilakukan turis terutama dari Tiongkok tidak semuanya legal.  Rudy memperkirakan beberapa merchant di Bali yang melayani transaksi WeChat Pay, 20 persen menggunakan rupiah, sedangkan sebagian 80 persen menggunakan mata uang yuan atau renminbi.

Rudy mencatat ada tiga jenis transaksi renminbi di Bali. Ada transaksi WeChat Pay transfer peer to peer lending dalam renminbi.

Kedua adalah transaksi kartu Union Pay lewat EDC memakai wifi dari Tiongkok. Ketiga adalah memakai voucher renminbi dari aplikasi Dian Ping.

Menurut Rudy, ADHI bersama dengan Pemda dan BI Bali segera akan melakukan razia merchant WeChat ilegal yang menggunakan mata uang renminbi.  (bgx)

Share

VIDEO POPULAR

Ad will display in 09 seconds