Akhir Desember 2018 di Tiongkok. Orang-orang di seluruh dunia menikmati perayaan Natal dan liburan tahun baru. Pemandangan berbeda di Tiongkok.

Baru-baru ini, umat Kristen gereja bawah tanah di Tiongkok kembali menghadapi penangkapan massal dan pengawasan terus-menerus dari rezim Komunis Tiongkok. Pasalnya mereka menolak melepaskan keyakinannya.

Pada 9 dan 10 Desember, seorang pendeta dan lebih dari 100 jemaat gereja dari Early Rain Covenant Church, sebuah gereja Protestan yang independen di Chengdu, Provinsi Sichuan, dibawa ke tahanan polisi. Gereja itu tidak terdaftar di otoritas Tiongkok.

Hanya lima hari berselang, pada 15 Desember, Kota Langfang, yang terletak di dekat Beijing, melarang semua kegiatan yang terkait dengan Natal.

The Epoch Times melaporkan, surat peringatan oleh otoritas Tiongkok mengatakan, “Sepenuhnya membersihkan penjualan-penjualan Santa Claus, pohon Natal, Apel Malam Natal dan semua pedagang lainnya yang terkait dengan Natal.”

Peringatan tersebut mencatat bahwa khususnya pada 23, 24 Desember, dan Hari Natal, “Setiap pejabat penegak hukum harus melakukan tugasnya dan secara ketat mengontrol segala jenis dakwah dan aktivitas penjualan, membersihkan dan menindak para pedagang jalanan.”

Kemudian pada 18 Desember, polisi mengganggu pembelajaran Alkitab di Gereja Rongguili di Guangzhou.

Sebelumnya pada September tahun ini, gereja lain yang tidak terdaftar, yakni gereja Zion, di Beijing, ditutup dan disegel. Gereja-gereja yang tidak terdaftar di Tiongkok secara resmi disebut sebagai “gereja bawah tanah” oleh rezim komunis.

Seorang polisi bersenjata Tiongkok berjaga-jaga di depan pohon Natal di luar kompleks diplomatik di Beijing 21, Tiongkok, pada Desember 2000. (© Getty Images | Goh Chai Hin / AFP)

Dalam tindakan keras baru-baru ini, kepala pendeta Wang Yi dari Early Rain Covenant Church, yang sebelumnya adalah seorang aktivis hak asasi manusia, ditahan karena dituduh menghasut subversi kekuasaan negara. Info dilaporkan oleh Human Rights Watch (HRW).

Pihak berwenang menggeledah dan menyegel kantor-kantor gereja, perguruan tinggi Alkitab, taman kanak-kanak, seminari, dan rumah-rumah anggota gereja.

Anggota gereja juga dipaksa oleh polisi untuk menandatangani surat pernyataan yang berjanji bahwa mereka tidak akan menghadiri gereja lagi.

Gereja tersebut telah merilis surat doa di halaman facebook-nya, yang menyatakan tentang tiga anggota yang kemudian dibebaskan setelah dipukuli oleh polisi saat ditahan. Seorang anggota menambahkan bahwa ia kekurangan makanan dan air selama 24 jam.

Pada Agustus tahun ini, Wang Yu, seorang pengacara hak asasi manusia Tiongkok terkemuka yang menangani kasus-kasus untuk orang-orang Kristen, mengatakan pada Reuters bahwa ia khawatir situasinya akan memburuk ketika gereja Zion di Beijing digusur.

Pihak berwenang telah menginstruksikan gereja tersebut untuk memasang 24 kamera CCTV di dalam gedung pada April lalu. Sebuah permintaan yang ditolak gereja.

“Mereka ingin menempatkan kamera di tempat kudus tempat kami beribadah. Gereja memutuskan hal itu tidak pantas,” kata Pastor Jin Mingri kepada Reuters. “Kebaktian kami adalah waktu yang sakral.” (epochtimes/ran/rp)

Share

VIDEO POPULAR